Buku Karya Djenar Maesa Ayu yang Kental Isu Perempuan

Beberapa di antara kamu mungkin lebih mengenal nama Djenar Maesa Ayu sebagai pemain film. Nyatanya, perempuan kelahiran Jakarta, 14 Januari 1973 ini justru mengawali kariernya sebagai penulis. Gaya penulisannya berani dan lugas, serta kerap mengangkat isu terkait perempuan, keluarga, trauma, dan psikologis.
Namanya semakin dikenal sebagai penulis kontemporer yang mumpuni, setelah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet dan novel Nayla. Nah, jika kamu tertarik membaca beberapa karya Djenar Maesa Ayu, berikut IDN Times kasih rekomendasi tiga bukunya yang kental sama isu perempuan.
1. Nayla

Nayla merupakan novel pertama yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu, setelah sebelumnya ia menuntaskan dua kumpulan cerpen berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu). Novel yang terbit pada tahun 2005 ini langsung menuai kontroversi karena isinya yang begitu berani dan vulgar dalam mengangkat isu perempuan.
Nayla berkisah tentang perempuan bernama Nayla, yang tumbuh dalam keluarga yang penuh luka dan tekanan emosional. Sejak kecil, hubungannya dengan sang ibu tidaklah baik. Sosok ibu yang keras dan dingin, menggoreskan trauma dalam diri Nayla hingga dewasa. Pengalaman pahit di masa kecil, membentuk Nayla menjadi pribadi yang rapuh, sekaligus kuat dan penuh perlawanan.
Saat beranjak dewasa, Nayla berusaha melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Ia memilih hidup mandiri, pergi dari rumah, dan mencari jalan hidupnya sendiri. Dari sinilah konflik dimulai. Dalam proses pencarian jati diri tersebut, ia dihadapkan dengan berbagai relasi yang rumit, baik dengan keluarga, laki-laki, dan dirinya sendiri. Melalui novel ini, Djenar ingin memberikan gambaran, bagaimana trauma masa kecil bisa sangat berpengaruh pada cara seorang perempuan memandang cinta, kepercayaan, dan kebebasan.
Novel ini lebih condong pada genre psikologis dengan nuansa feminis yang amat kuat. Membaca novel ini akan membuatmu turut menjadi saksi perjalanan hidup tokoh Nayla dalam pencarian jati dirinya. Cara Nayla dalam menghadapi dan menyikapi masalah, dapat dijadikan pelajaran, karena isunya lekat dengan permasalahan kehidupan.
2. Mereka Bilang, Saya Monyet!

Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah debut kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu, yang di dalamya berisi 11 cerita pendek dengan tema besar seputar perempuan, tujuh, trauma, kekerasan, dan psikologis. Secara umum, cerita kumcer yang terbit oada tahun 2002 ini, mengangkat kehidupan perempuan yang sering berada dalam situasi sulit. Mulai dari luka masa kecil, hubungan keluarga yang tidak sehat, tekanan sosial, hingga kekerasan seksual.
Cerita dalam kumcer ini tak selalu berhubungan, namun memiliki benang merah yang sama, yakni bagaimana perempuan berusaha bertahan di dunia yang kadang tidak ramah dan aman bagi mereka. Dua judul cerpen dalam buku ini, yakni Lintah dan Melukis Jendela, telah diadaptadi ke dalam film berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet, yang tayang pada tahun 2008. Menariknya, film ini disutradarai langsung oleh Djenar Maesa Ayu, dan merupakan kali pertama dirinya menyutradarai film panjang.
3. Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)

Rekomendasi buku ketiga berjudul Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), dan merupakan kumpulan cerpen karya Djenar Maesa Ayu yang terbit pada tahun 2004. Berisi 10 cerita pendek yang secara garis besar mengangkat tema luka batin, tubuh perempuan, hubungan yang rapuh, dan kritik pada standar moral masyarakat.
Cerpen pertama yang berjudul Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), mengangkat kisah tentang hubungan yang sudah lama berjalan, dan mulai dihantui oleh pertanyaan tentang keseriusan, komitmen, dan rencana di masa depan. Sedangkan cerpen berjudul Payudara Nai-nai, merupakan cerita pamungkas yang paling terkenal di buku ini. Cerpen ini menyoroti tentang tubuh perempuan, terutama payudara yang menjadi simbol identitas, sekaligus terkadang menimbulkan tekanan sosial.
Membaca kumcer ini akan membuat pembaca tersadar, bahwa posisi perempuan di tengah-tengah masyarakat tak selalu menguntungkan. Terkadang, karena dianggap lemah, perempuan kerap kali dijadikan objek oleh normal sosial yang mengekang.
Itu dia ketiga buku karya Djenar Maesa Ayu, yang menarik untuk dibaca. Meskipun merupakan karya lama, tapi cerita-cerita di dalamnya dirasa masih relate dengan kehidupan saat ini. Nah, apakah kamu tertarik membaca ketiganya?