ilustrasi menawarkan bantuan (pixabay.com/geralt)
Mengatasi bystander effect sebenarnya bisa dimulai dari langkah sederhana, yaitu dengan mengambil inisiatif. Kalau melihat seseorang yang membutuhkan bantuan, cobalah menilai situasinya terlebih dahulu, lalu lakukan tindakan yang aman sesuai dengan kemampuan yang ada. Kadang, satu orang yang bergerak lebih cepat dapat mendorong orang lain untuk ikut membantu.
Kalau situasinya benar-benar mendesak, jangan ragu untuk meminta bantuan secara langsung kepada orang tertentu, misalnya dengan menunjuk seseorang dan meminta mereka untuk menghubungi petugas atau layanan darurat. Langkah ini lebih efektif dibandingkan dengan meminta bantuan kepada kerumunan secara umum karena akan membuat tanggung jawab menjadi lebih jelas. Nah, semakin kita berani peduli dan bertindak, semakin kecil pula kemungkinan terjebak dalam bystander effect.
Bystander effect menunjukkan bahwa banyaknya orang di sekitar belum tentu membuat seseorang lebih cepat mendapatkan pertolongan karena setiap individu bisa merasa orang lain akan bertindak lebih dulu. Dengan memahami penyebab dan cara mengatasinya, kita bisa lebih peka terhadap situasi di sekitar serta berani mengambil langkah saat memang dibutuhkan. Jadi, kalau suatu hari kamu melihat seseorang membutuhkan bantuan, semoga kamu bisa menjadi orang yang memilih bertindak, bukan sekadar ikut melihat.
Referensi
"Dari Mengabaikan ke Menolong: Tinjauan Studi Bystander Effect." Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi (UHAMKA). Diakses Juli 2026.
"Bystander Effect: Literature Review Respon Pengamat dalam Situasi Darurat." Bandung Conference Series: Psychology Science. Diakses Juli 2026.
"Perilaku Altruisme dan Bystander Effect: Studi Korelasional pada Masyarakat di Kota Makassar." Jurnal Psikologi Karakter. Diakses Juli 2026.
"Kesulitan Regulasi Emosi dan Bystander terhadap Perilaku Bullying Remaja." SOUL: Jurnal Ilmiah Psikologi. Diakses Juli 2026.
"Layanan Bimbingan Kelompok Melalui Permainan Simulasi Shadow Puppet untuk Mengurangi Tingkat Bystander Effect Siswa." TERAPUTIK: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Diakses Juli 2026.