Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

WHO: Caregiver Pasien Kanker Juga Butuh Pertolongan

WHO: Caregiver Pasien Kanker Juga Butuh Pertolongan
ilustrasi caregiver pasien kanker (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Laporan WHO Global Status Report on Cancer 2026 menekankan bahwa kanker tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga keluarga dan caregiver.

  • Caregiver pasien kanker bisa mengalami beban fisik, emosional, sosial, finansial, dan pekerjaan.

  • Dukungan untuk caregiver perlu dimulai sejak awal, bukan hanya saat pasien masuk fase akhir penyakit.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat ada diagnosis kanker dalam keluarga, perhatian biasanya terpusat pada pasien. Di sisi lain, kanker juga melibatkan orang yang mengantar kontrol, mengurus obat, menjaga makan, menemani kemoterapi, menenangkan pasien, sekaligus tetap harus bekerja, mengurus rumah, dan menahan emosinya sendiri.

Orang-orang tersebut adalah caregiver atau pendamping pasien. Dalam banyak keluarga, peran ini diambil oleh pasangan, orang tua, anak, saudara, atau teman dekat.

Perannya sering terlihat sebagai bantuan biasa, atau malah kewajiban, padahal beban yang ditanggung bisa besar. Laporan "WHO Global Status Report on Cancer 2026" menekankan bahwa kanker tidak cukup dipahami dari angka kasus dan kematian saja. Laporan ini juga memasukkan pengalaman hidup orang yang terdampak kanker, termasuk dampak sosial, ekonomi, dan psikologis pada keluarga serta caregiver.

Table of Content

1. Caregiver sering ikut menanggung beban kanker

1. Caregiver sering ikut menanggung beban kanker

Kanker bisa mengubah kehidupan satu keluarga. WHO mencatat bahwa anggota keluarga dapat mengalami dampak pendidikan dan pekerjaan, termasuk harus absen, mengurangi jam kerja, mengambil cuti tanpa bayaran, atau menyesuaikan tanggung jawab kerja untuk merawat pasien.

Dalam laporan tersebut, rata-rata caregiver pasien kanker menghabiskan lebih dari 50 hari untuk memberi dukungan, dengan rata-rata 45 jam per minggu sebagai perawatan tanpa bayaran.

Dampaknya juga terlihat pada pekerjaan. Caregiver yang bekerja rata-rata mengurangi jam kerja 13 persen, absen 5 persen dari hari kerja, mengalami penurunan produktivitas 24 persen, dan 30 persen melaporkan berkurangnya tanggung jawab profesional.

Dari situ terlihat bahwa tugas caregiver bukan cuma menemani. Mereka juga sering menjadi manajer logistik, pengingat obat, pengambil keputusan, pencari informasi, penjaga emosi pasien, sekaligus penyangga ekonomi keluarga.

Caregiver informal memberi dukungan penting, tetapi tuntutan peran ini dapat melampaui sumber daya yang mereka miliki dan akhirnya muncul konsekuensi psikologis.

Dampak mentalnya pun tidak kecil. Dalam survei WHO, tantangan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan post-traumatic stress disorder (PTSD) ditemukan pada pasien maupun keluarga/caregiver. Angkanya bahkan cukup berdekatan. Depresi dilaporkan pada 25 persen orang yang didiagnosis kanker dan 20 persen keluarga/caregiver; kecemasan 22 persen vs 17,8 persen; PTSD 10,6 persen vs 11,3 persen.

2. Tanda caregiver mulai kelelahan tidak boleh diabaikan

Tanda caregiver mulai kelelahan tidak boleh diabaikan
ilustrasi caregiver pasien kanker mengalami burnout (pexels.com/Ron Lach)

Caregiver sering menunda atau mengabaikan kebutuhan diri sendiri karena merasa pasien lebih membutuhkan perhatian. Pola ini memang bisa dimengerti, tetapi tidak selalu aman.

Kelelahan alias burnout yang dirasakan oleh caregiver bisa muncul sebagai rasa lelah terus-menerus, mudah marah, sulit tidur, sakit kepala, nyeri badan, nafsu makan berubah, sulit fokus, menarik diri, merasa bersalah saat beristirahat, atau merasa hidupnya cuma berputar di sekitar kanker.

Menurut National Cancer Institute (NCI), caregiver pasien kanker melaporkan stres emosional tinggi, tekanan finansial, kebutuhan bantuan untuk mengelola stres fisik dan emosional, serta kebutuhan bantuan dalam membuat keputusan akhir hayat. Dalam satu laporan yang dikutip NCI, sekitar 50 persen caregiver melaporkan stres emosional tinggi, 25 persen tekanan finansial tinggi, dan 43 persen butuh bantuan untuk mengelola stres emosional serta fisik.

Yang jadi tantangan adalah caregiver tidak selalu merasa berhak meminta bantuan. Banyak yang berpikir bahwa mereka harus kuat atau merasa tidak ingin pasien merasa terbebani. Faktanya, caregiver yang kelelahan juga pada akhirnya bisa kesulitan memberi perawatan yang memadai.

NCI bahkan menyebut kebutuhan caregiver sebaiknya dinilai secara terpisah dari kebutuhan pasien, karena pasien dan caregiver bisa menghadapi tantangan yang berbeda.

Beri perhatian lebih pada tanda-tanda seperti menangis diam-diam, merasa mati rasa, kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, sulit tidur, atau merasa tidak sanggup lagi.

3. Caregiver juga perlu masuk dalam rencana perawatan

WHO menekankan bahwa dukungan suportif dan paliatif seharusnya diberikan oleh tim multidisiplin untuk membantu pasien hidup sebaik mungkin selama mungkin, sekaligus mendukung keluarga dan caregiver. Perawatan ini idealnya diintegrasikan sejak awal perjalanan penyakit, mulai dari diagnosis, bukan cuma saat pasien tidak lagi bisa disembuhkan atau mendekati akhir hidup.

Bagi keluarga, ini berarti caregiver perlu dilibatkan dalam rencana perawatan secara sehat, yang tidak cuma diberi instruksi, tetapi juga diberi ruang bertanya mengenai apa yang harus dipantau di rumah, efek samping apa yang berbahaya, kapan harus ke IGD, siapa yang bisa dihubungi, bagaimana membagi tugas, dan apa saja dukungan yang tersedia.

Langkah-langkah praktisnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti membuat daftar tugas dan bagi peran antaranggota keluarga: siapa yang mengantar kontrol, siapa yang mengurus administrasi, siapa yang memasak, siapa yang menemani pasien saat terapi, dan siapa yang bisa menggantikan jika caregiver utama butuh istirahat.

Selain itu, simpan dokumen medis dalam satu folder, catat obat dan jadwal terapi, serta tulis pertanyaan sebelum konsultasi agar caregiver tidak harus mengingat semuanya sendirian.

Caregiver juga perlu menjaga kebutuhan dasarnya, mulai dari tidur, makan, berolahraga, punya waktu me-time, dan tetap terhubung dengan orang lain.

Jika beban terasa terlalu berat, minta bantuan dokter, perawat, psikolog, pekerja sosial medis, layanan paliatif, atau support group pasien kanker.

Dukungan yang baik terhadap caregiver punya peluang lebih besar untuk merawat pasien kanker dengan tenang dan berkelanjutan.

Referensi

World Health Organization. "Global Status Report on Cancer 2026: The Future We Choose Together." Diakses Juli 2026.

National Cancer Institute. “Informal Caregivers in Cancer: Roles, Burden, and Support (PDQ®)–Health Professional Version.” Diakses Juli 2026.

Dhumal, T., et al. “Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials of Interventions Addressing Caregiver Distress and Burden among Cancer Caregivers.” Journal of Pain and Symptom Management 66, no. 1 (2023).

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Fahreza Murnanda
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More