5 Kebiasaan yang Perlu Kamu Tinggalkan agar Hidup Lebih Tenang

- Mengurangi ketergantungan pada penilaian orang lain dan berhenti membandingkan hidup di media sosial membantu memberi ruang bagi kebutuhan serta perkembangan diri.
- Kebiasaan memaksakan produktivitas dan mencemaskan hal yang belum terjadi dapat menguras energi mental; istirahat dan fokus pada kondisi saat ini perlu diberi tempat.
- Belajar mengatakan tidak secara sopan sesuai batas waktu, tenaga, dan kondisi membantu mencegah kewalahan serta memprioritaskan hal yang benar-benar penting.
Hidup yang tenang gak selalu berarti keadaan di sekitarmu sedang baik-baik saja. Ada kalanya kamu tetap punya banyak urusan, tetapi bisa menjalaninya dengan pikiran yang lebih ringan karena tahu mana yang perlu diperhatikan dan mana yang sebaiknya dilepaskan.
Tanpa disadari, beberapa kebiasaan sehari-hari justru bisa membuat pikiran terasa semakin penuh. Terlalu memikirkan pendapat orang, memikirkan hal yang belum terjadi, atau terus membawa urusan pekerjaan ke waktu istirahat bisa membuat energi mental cepat terkuras.
Kalau kebiasaan tersebut terus dilakukan, hal kecil pun bisa terasa lebih berat dari seharusnya. Karena itu, penting untuk mulai memperhatikan pola yang selama ini mungkin dianggap biasa. Ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya kamu kurangi agar pikiran terasa lebih tenang.
1. Terlalu memikirkan pendapat orang lain

Ilustrasi mendengarkan orang lain (magnific.com/magnific) Mempertimbangkan perasaan orang lain memang penting dalam mengambil keputusan. Kamu tetap perlu memperhatikan dampak dari pilihanmu terhadap orang sekitar. Namun, kalau setiap keputusan selalu didasarkan pada penilaian orang lain, kamu bisa kehilangan ruang untuk mendengarkan keinginan dan kebutuhan diri sendiri.
Kamu mungkin jadi sering memikirkan apakah ucapanmu salah, apakah pilihanmu terlihat aneh, atau apakah orang lain akan menyukainya. Pikiran seperti ini bisa membuatmu ragu terhadap keputusan sendiri. Padahal, gak semua pendapat orang perlu kamu jadikan bahan pertimbangan.
Belajar menerima bahwa gak semua orang akan setuju denganmu bisa membuat pikiran terasa lebih lega. Selama pilihanmu tetap sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan tanggung jawab yang kamu miliki, kamu gak harus terus mencari persetujuan dari semua orang. Beri dirimu ruang untuk menentukan pilihan yang memang terasa tepat untukmu.
2. Membandingkan hidup dengan orang lain

Ilustrasi melihat media sosial (pexels.com/Los Muertos Crew) Media sosial membuat pencapaian orang lain terasa begitu dekat dengan kehidupanmu. Melihat teman mendapatkan pekerjaan baru, menikah, bepergian, atau membeli sesuatu bisa membuatmu merasa tertinggal. Apalagi ketika pencapaian tersebut terus muncul di linimasa dan terlihat seolah semua orang sedang melangkah lebih jauh darimu.
Padahal, kamu hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan mereka. Setiap orang punya kondisi, kesempatan, prioritas, dan perjalanan yang berbeda. Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan seluruh proses yang mereka lewati untuk sampai pada pencapaian tersebut.
Daripada terus melihat pencapaian orang lain, coba arahkan perhatian pada perkembangan dirimu sendiri. Ingat kembali hal-hal yang sudah berhasil kamu lewati dan kemampuan yang sudah kamu miliki saat ini. Kamu mungkin sudah berkembang jauh dari versi dirimu yang dulu, meski prosesnya gak selalu terlihat oleh orang lain.
3. Memaksakan diri untuk selalu produktif

Ilustrasi lelah (magnific.com/yanalya) Ada hari ketika kamu bisa menyelesaikan banyak hal. Ada juga hari ketika tubuh dan pikiran memang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat. Kondisi tersebut wajar karena energi dan kemampuanmu bisa berbeda setiap harinya.
Kalau setiap waktu luang selalu diisi dengan pekerjaan, tugas rumah, belajar, atau aktivitas lain, kamu bisa terbiasa merasa harus terus melakukan sesuatu. Akibatnya, muncul rasa bersalah ketika memilih untuk bersantai. Waktu istirahat pun terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan setelah semua pekerjaan selesai.
Cobalah memberi ruang untuk berhenti tanpa merasa harus menghasilkan sesuatu. Kamu bisa menggunakan waktu tersebut untuk tidur, menikmati hobi, atau sekadar duduk dan melakukan hal yang kamu sukai. Istirahat juga merupakan bagian dari menjalani hari dengan lebih sehat dan seimbang.
4. Memikirkan hal yang belum tentu terjadi

Ilustrasi overthinking (magnific.com/freepik) Pikiran sering kali membuat berbagai skenario sebelum sesuatu benar-benar terjadi. Kamu mungkin sudah membayangkan kemungkinan terburuk, memikirkan respons orang lain, atau mencemaskan sesuatu yang bahkan belum jelas. Tanpa disadari, perhatianmu bisa lebih banyak tertuju pada hal yang belum tentu terjadi.
Kebiasaan tersebut bisa membuatmu merasa lelah sebelum masalahnya benar-benar datang. Energi yang seharusnya digunakan untuk menjalani keadaan saat ini justru habis untuk memikirkan berbagai kemungkinan. Padahal, gak semua hal perlu diselesaikan di dalam kepala sebelum waktunya tiba.
Ketika pikiran mulai berjalan terlalu jauh, coba kembali memperhatikan apa yang benar-benar terjadi sekarang. Kalau memang ada hal yang bisa dilakukan, kerjakan satu per satu sesuai kebutuhan. Untuk hal yang belum bisa kamu kendalikan atau belum terjadi, beri dirimu ruang untuk menanganinya ketika waktunya tiba.
5. Terlalu sulit mengatakan tidak

Ilustrasi sulit mengatakan tidak (pexels.com/Kindel Media) Menerima semua permintaan orang lain mungkin membuatmu merasa berguna. Namun, kalau terlalu sering mengiyakan sesuatu yang sebenarnya gak sanggup kamu lakukan, kamu sendiri yang akhirnya kewalahan. Kamu berhak menolak ketika waktu, tenaga, atau kondisi sedang gak memungkinkan. Menolak dengan sopan gak membuatmu menjadi orang yang egois. Mulailah mengenali batas kemampuanmu. Ketika kamu bisa mengatakan tidak pada hal-hal yang memang gak sanggup dilakukan, kamu punya lebih banyak ruang untuk menjalani hal yang benar-benar penting.
Hidup yang lebih tenang gak selalu membutuhkan perubahan besar. Terkadang, kamu hanya perlu mengurangi beberapa kebiasaan yang selama ini diam-diam menguras energi. Melepaskan kebiasaan tersebut mungkin gak langsung terasa mudah. Namun, semakin kamu belajar menjaga batas, menerima keadaan, dan berhenti membebani diri dengan hal-hal yang gak perlu, kehidupan sehari-hari pun bisa terasa lebih ringan.





















