Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Candaan Soal Disabilitas Masih Marak, Begini Cara Menegur Teman

Candaan Soal Disabilitas Masih Marak, Begini Cara Menegur Teman
ilustrasi disabilitas (pexels.com/ Kampus Production)
Intinya Sih
  • Candaan yang menyinggung disabilitas masih sering muncul di lingkungan sosial dan bisa memperkuat stereotip negatif terhadap penyandang difabel.
  • Menegur teman sebaiknya dilakukan dengan empati, fokus pada dampak candaan, dan bisa menggunakan humor ringan agar tidak menimbulkan konflik.
  • Perubahan sikap dimulai dari diri sendiri dengan memberi contoh cara berbicara yang menghargai tanpa merendahkan kelompok difabel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di tongkrongan, grup chat, kampus, atau tempat kerja, candaan sering menjadi cara untuk mencairkan suasana. Namun, tidak semua lelucon bisa dianggap sepele. Salah satu yang masih cukup sering ditemui adalah candaan yang menggunakan kondisi disabilitas sebagai bahan olok-olok.

Mulai dari menyebut teman "buta" karena tidak melihat sesuatu, "tuli" karena tidak mendengar, dan lelucon lainnya. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari bahwa candaan seperti ini bisa memperkuat stereotip dan membuat kelompok tertentu merasa diremehkan. Coba lima cara menegur teman berikut ini tanpa bikin konflik.

1. Pahami dulu bahwa gak semua candaan harus ditanggapi dengan marah

ilustrasi marah dengan teman (pexels.com/liza-summer)
ilustrasi marah dengan teman (pexels.com/liza-summer)

Saat mendengar candaan yang menyinggung difabel, reaksi pertama yang muncul mungkin rasa kesal atau tidak nyaman. Namun, sebelum langsung menegur dengan emosi, ada baiknya memahami bahwa gak semua orang yang bercanda memiliki niat buruk. Banyak orang menggunakan istilah tersebut karena sudah terbiasa mendengarnya.

Mereka mungkin tidak pernah berpikir bahwa kata-kata tersebut bisa berdampak negatif bagi orang lain. Dengan memahami hal ini, kamu bisa memilih pendekatan yang lebih efektif. Tujuannya bukan mempermalukan teman, tapi agar mereka menyadari sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak mereka pikirkan.

2. Gunakan humor ringan untuk mengoreksi situasi

ilustrasi teman sekelas (pexels.com/Ivan Samkov)
ilustrasi teman sekelas (pexels.com/Ivan Samkov)

Tidak semua teguran harus disampaikan secara serius. Dalam beberapa situasi, humor justru bisa menjadi cara yang efektif untuk mengingatkan teman tanpa bikin suasana kaku. Misalnya ketika seseorang bercanda menggunakan istilah disabilitas, kamu bisa merespons dengan santai seperti, "Upgrade bahan bercandanya, dong."

Respons semacam ini memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang kurang tepat tanpa membuat orang tersebut merasa dipermalukan di depan banyak orang. Tentu saja, pendekatan ini tidak selalu cocok untuk semua situasi. Namun dalam lingkungan pertemanan yang santai, humor sering menjadi cara yang lebih mudah diterima.

3. Fokus pada dampaknya, bukan menyerang orangnya

Bullying
ilustrasi bullying (pexels.com/Yan Krukau)

Salah satu kesalahan yang sering terjadi saat menegur seseorang adalah langsung memberi label negatif. Misalnya mengatakan, "Kamu diskriminatif," atau "Kamu gak punya empati." Kalimat seperti ini biasanya membuat orang langsung memasang pertahanan diri.

Mereka akan lebih fokus membela diri daripada mendengarkan pesan yang ingin kamu sampaikan. Pendekatan yang lebih baik adalah menjelaskan dampak dari candaan tersebut. Misalnya dengan mengatakan, "Kadang istilah seperti itu bisa bikin orang difabel merasa diremehkan," atau "Buat sebagian orang, candaan itu mungkin gak nyaman didengar, lho!."

4. Pilih waktu yang tepat untuk mengingatkan

Berbicara
ilustrasi berbicara (pexels.com/ SHVETS production)

Gak semua teguran harus dilakukan di depan banyak orang. Dalam beberapa situasi, mengajak bicara secara personal jauh lebih efektif. Jika temanmu termasuk orang yang mudah malu atau defensif, kamu bisa menyampaikan pendapatmu setelah situasi lebih tenang. Misalnya saat sedang mengobrol berdua atau melalui pesan pribadi.

Cara ini memberi ruang bagi mereka untuk mendengarkan tanpa merasa dipermalukan di depan teman-teman lain. Selain itu, percakapan personal biasanya memungkinkan diskusi yang lebih terbuka dan jujur. Mengingatkan seseorang tidak harus dilakukan dengan cara yang dramatis, bukan?

5. Jadilah contoh dalam cara berbicara sehari-hari

ilustrasi kumpul bareng teman (pexels.com/elevate)
ilustrasi kumpul bareng teman (pexels.com/elevate)

Salah satu cara paling efektif untuk memengaruhi lingkungan adalah melalui contoh nyata. Jika kamu ingin orang lain gak becandain soal disabilitas, mulailah dari dirimu sendiri. Hindari menggunakan kata-kata yang merendahkan difabel sebagai candaan atau ekspresi sehari-hari.

Ketika orang di sekitarmu melihat bahwa ada cara bercanda yang lebih menghargai tanpa kehilangan unsur humor, mereka cenderung akan mengikuti. Perubahan budaya dalam kelompok pertemanan ini seringnya terjadi perlahan. Bukan karena ada satu orang yang terus-menerus menggurui, melainkan karena ada seseorang yang memberi contoh lebih baik.

Menegur teman yang suka bercanda soal difabel memang membutuhkan keberanian dan kepekaan. Dengan pendekatan di atas, kamu bisa memberikan contoh tanpa membuat suasana menjadi canggung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya

Related Articles

See More