Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Cara Hadapi Tekanan Sosial Selama Ramadan, Jaga Mental Tetap Sehat!

5 Cara Hadapi Tekanan Sosial Selama Ramadan, Jaga Mental Tetap Sehat!
ilustrasi tekanan sosial (pexels.com/ Yan Krukau)
Intinya Sih
  • Artikel membahas tekanan sosial yang sering muncul selama Ramadan, seperti tuntutan hadir di berbagai acara dan ekspektasi religius, yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.
  • Ditekankan pentingnya menyadari tekanan tersebut, menetapkan batas secara sopan, serta memilih kegiatan sosial yang benar-benar bermakna agar energi emosional tetap terjaga.
  • Disarankan untuk mengurangi konsumsi media sosial dan fokus pada lingkungan yang memberi dukungan positif demi menjaga keseimbangan mental sepanjang Ramadan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ramadan sering digambarkan sebagai bulan yang penuh ketenangan, kebersamaan, dan energi positif. Namun, di balik suasana tersebut, gak sedikit orang yang justru merasa tertekan secara sosial. Undangan bukber yang datang bertubi-tubi, tuntutan hadir di acara keluarga, hingga ekspektasi menjadi ‘lebih religius’ bagi sebagian orang bisa terasa melelahkan.

Sayangnya, rasa lelah ini sering dipendam karena takut dianggap gak bersyukur atau kurang beriman. Padahal, tekanan sosial selama Ramadan adalah hal yang nyata dan wajar dirasakan. Perubahan ritme hidup ditambah tuntutan sosial bisa membuat mental ikut kewalahan. Menghadapi social pressure bukan berarti menjauh dari nilai Ramadan, justru tekanan ini juga perlu diatasi agar kamu tetap sehat secara emosional. 5 cara berikut bisa kamu lakukan untuk mengatasi social pressure yang sedang kamu alami.

1. Sadari jika kamu mengalami social pressure

perempuan mengalami tekanan sosial
ilustrasi tekanan sosial (pexels.com/ Keira Burton)

Banyak orang meremehkan tekanan sosial yang muncul selama Ramadan. Perasaan capek sering disalahartikan sebagai kurang iman atau kurang niat dalam menyambut bulan yang suci. Padahal, tuntutan untuk selalu hadir, selalu terlihat aktif, dan selalu tampak baik-baik saja bisa menguras energi mental. Menyadari bahwa social pressure itu nyata adalah langkah awal untuk berdamai dengan diri sendiri.

Dengan mengakui tekanan yang dirasakan, kamu bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Perasaan kewalahan gak otomatis membuat seseorang menjadi pribadi yang buruk. Justru, kesadaran ini membantu kamu lebih jujur terhadap kondisi mental yang sedang dialami. Dari sini, kamu bisa mulai mengambil keputusan yang lebih sehat untuk diri sendiri.

2. Gak semua undangan harus kamu penuhi

Perempuan sedang berkumpul di lingkungan sosial
ilustrasi kehidupan sosial (pexels.com/ Andrea Piacquadio)

Ramadan identik dengan agenda sosial yang padat, terutama undangan buka bersama. Di satu sisi, momen ini bisa mempererat hubungan. Namun di sisi lain, terlalu banyak interaksi sosial bisa membuat tubuh dan pikiran kelelahan. Memaksakan diri hadir di setiap undangan justru berisiko membuat Ramadan terasa berat.

Memilih untuk gak hadir di beberapa acara bukan berarti kamu gak menghargai orang lain. Sebaliknya, ini adalah cara mengenali batas energi diri sendiri. Dengan memilih undangan yang benar-benar bermakna, kamu bisa hadir dengan kondisi mental yang lebih utuh. Ingat, kualitas kehadiranmu jauh lebih penting daripada sekadar memenuhi kewajiban sosial.

3. Tetapkan batas dengan cara yang sopan dan jujur

Dua perempuan sedang mengobrol dengan sopan
ilustrasi sopan (pexels.com/ Alexander Suhorucov)

Banyak orang bertahan dalam situasi yang melelahkan karena takut mengecewakan orang lain. Padahal, menetapkan batas adalah bagian dari menjaga hubungan yang sehat. Menyampaikan kondisi diri secara jujur gak harus disertai penjelasan panjang atau alasan yang dibuat-buat. Dengan kesopanan dan kejujuran, itu saja sudah cukup.

Belajarlah untuk berani berkata, “Aku sedang butuh istirahat” sebagai bentuk kesadaran emosional. Batas yang jelas membantu orang lain memahami posisi kita. Selain itu, batas juga mencegah rasa kesal yang bisa menumpuk diam-diam. Dengan komunikasi yang baik, hubungan tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan mental.

4. Kurangi penggunaan media sosial

Ilustrasi gangguan media sosial (pexels.com/ Mikoto.raw Photographer)
Ilustrasi gangguan media sosial (pexels.com/ Mikoto.raw Photographer)

Tanpa disadari, media sosial sering memperkuat tekanan sosial selama Ramadan. Timeline dipenuhi konten ibadah, agenda sosial, dan pencapaian spiritual orang lain. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dan merasa kurang dari orang lain. Perbandingan ini akhirnya bisa menimbulkan rasa bersalah yang gak perlu.

Setiap orang menjalani Ramadan dengan kondisi dan kapasitas yang berbeda. Apa yang terlihat ideal di media sosial, belum tentu mencerminkan kenyataan sepenuhnya. Mengurangi konsumsi konten yang memicu perbandingan bisa membantu menjaga ketenangan batin. Ingat, Ramadan bukan perlombaan, melainkan perjalanan personal yang unik bagi setiap orang.

5. Prioritaskan orang-orang yang bisa memberimu dukungan

ilustrasi dukungan dari komunitas (unsplash.com/  Priscilla Du Preez)
ilustrasi dukungan dari komunitas (unsplash.com/ Priscilla Du Preez)

Gak semua relasi sosial bersifat menenangkan. Ada interaksi yang justru membuat kita merasa dihakimi atau dipaksa mengikuti standar tertentu. Selama Ramadan, penting untuk mengenali mana koneksi yang memberi dukungan emosional. Lingkungan yang aman secara mental membantumu menjalani Ramadan dengan lebih ringan. Memilih berada di sekitar orang-orang yang memahami batas dirimu adalah bentuk self-care. Koneksi yang sehat gak akan menuntutmu untuk selalu hadir atau selalu kuat. Sebaliknya, mereka justru memberi ruang untukmu agar menjadi manusia biasa yang bisa lelah. Dari hubungan seperti inilah kesehatan mental bisa tumbuh dengan lebih stabil.

Menghadapi social pressure selama Ramadan bukan tentang menarik diri dari lingkungan sekitar. Ini adalah sebuah sikap tentang belajar mendengarkan diri sendiri dan menghargai batas yang dimiliki. Kesehatan mental adalah bagian penting dari kesejahteraan secara utuh. Ramadan yang sehat bukanlah yang paling sibuk, melainkan yang memberi ruang bernapas bagi jiwa. Karena pada akhirnya, menjaga diri tetap utuh adalah bentuk tanggung jawab kepada diri sendiri, bukan egoisme.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More