Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
No-Outcome Hours, Cara Istirahatkan Pikiran dari Tuntutan Produktif
ilustrasi wanita berbaring (pexels.com/cottonbro)
  • Konsep no-outcome hours mengajak seseorang melakukan aktivitas tanpa tujuan atau hasil tertentu, semata-mata untuk menikmati momen dan memberi ruang istirahat bagi pikiran.
  • Produktivitas berlebihan dapat membuat sistem saraf terus siaga, memicu stres dan kelelahan meski sudah beristirahat, sehingga waktu tanpa target penting untuk pemulihan mental.
  • Banyak orang sulit menerapkan no-outcome hours karena rasa bersalah saat tidak produktif, padahal aktivitas sederhana seperti berjalan santai atau membaca bisa membantu menyegarkan pikiran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Apakah kamu pernah merasa bersalah saat rebahan, padahal tubuh dan pikiran sudah lelah? Baru bersantai sedikit, kamu malah teringat pekerjaan yang belum selesai, pesan yang belum dibalas, atau target yang masih harus dikejar. Di tengah budaya yang sering mengagungkan produktivitas, banyak orang merasa seolah setiap menit harus menghasilkan sesuatu.

Padahal, terus-menerus mengejar target bisa membuat otak kelelahan tanpa disadari. Karena itu, muncul konsep no-outcome hours, yaitu waktu untuk melakukan sesuatu tanpa tujuan atau hasil yang harus dicapai. Meski terdengar sederhana, kebiasaan ini diyakini dapat membantu mengurangi stres dan membuat pikiran lebih segar. Yuk, kenali lebih jauh konsep no-outcome hours berikut ini!

1. Apa itu no-outcome hours?

ilustrasi perempuan memegang botol (pexels.com/karolinagabrowska)

No-outcome hours adalah waktu yang kamu sisihkan untuk melakukan aktivitas yang tidak berorientasi pada hasil. Dengan kata lain, kamu melakukan sesuatu bukan untuk belajar keterampilan baru, menyelesaikan pekerjaan, atau mencapai target tertentu, melainkan karena aktivitas yang dilakukan terasa menyenangkan.

Konsep ini berbeda dengan waktu luang yang terkadang masih dibayangi tuntutan untuk tetap produktif. Dalam no-outcome hours, tidak ada ekspektasi apa pun. Kamu bisa berjalan santai tanpa tujuan, membaca buku favorit, merawat tanaman, atau hanya duduk menikmati suasana sore tanpa harus mendapatkan sesuatu dari aktivitas tersebut.

2. Mengapa perlu no-outcome hours?

ilustrasi perempuan memijat kepala (pexels.com/mikaelblomkvist)

Banyak yang mengira bahwa stres hanya muncul karena terlalu banyak pekerjaan. Padahal, stres juga bisa terjadi ketika otak terus-menerus berada dalam mode "mengejar sesuatu" tanpa kesempatan untuk benar-benar beristirahat.

Dikutip dari Real Simple, Danyell Taylor-White, PhD, terapis berlisensi dan peneliti yang berfokus pada stres kronis, menjelaskan bahwa produktivitas yang berlangsung terus-menerus dapat membuat sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga. Menurutnya, saat ini terjadi, pikiran akan mencari target berikutnya, mengevaluasi hasil, dan memikirkan tugas yang belum selesai. Dan ini mengakibatkan rasa lelah meski sudah beristirahat.

"Produktivitas yang berlangsung terus-menerus membuat sistem saraf tetap berada dalam kondisi aktivasi simpatik yang berkepanjangan. Artinya, tubuh terus berada dalam respons ancaman tingkat rendah," jelas Taylor-White.

3. Kenapa banyak orang sulit melakukannya?

Ilustrasi Tidur Nyenyak (freepik.com/author/freepik)

Bagi sebagian orang, terutama yang terbiasa sibuk dan berorientasi pada pencapaian, melakukan sesuatu tanpa tujuan justru terasa tidak nyaman. Rasa bersalah sering muncul karena waktu dianggap terbuang sia-sia. Dikutip dari Real Simple, menurut Sasha Antoun, konselor di We Conquer Together, banyak orang yang mengalami burnout mencoba pulih dengan mengganti satu aktivitas produktif dengan aktivitas produktif lainnya.

"Yang sering saya lihat adalah orang-orang yang mengalami burnout mencoba pulih dengan mengganti satu aktivitas produktif dengan aktivitas produktif lainnya, lalu bertanya-tanya mengapa mereka masih merasa kehabisan energi," ujarnya.

Antoun menambahkan, bahwa pemulihan yang sesungguhnya membutuhkan waktu yang benar-benar tanpa tujuan. Namun, banyak orang berprestasi tinggi justru sudah kehilangan kemampuan untuk menikmati momen seperti itu.

4. Aktivitas sederhana yang bisa dicoba

ilustrasi perempuan sedang memegang gelas (pexels.com/olly)

Jika tertarik mencoba no-outcome hours, kamu tidak perlu melakukan sesuatu yang rumit. Kuncinya adalah memilih aktivitas yang kamu nikmati tanpa memikirkan hasil akhirnya.

Beberapa contoh yang bisa dicoba antara lain berjalan kaki tanpa tujuan tertentu, membaca ulang buku favorit, duduk di teras sambil menikmati minuman hangat, menggambar tanpa memikirkan hasilnya, atau mengunjungi toko buku hanya untuk melihat-lihat. Bahkan, duduk diam dan membiarkan pikiran mengembara juga bisa menjadi bagian dari no-outcome hours.

"Saat mengambil jeda, kamu bisa menemukan cara yang lebih segar dalam memecahkan masalah dibandingkan jika terus bekerja tanpa henti," jelas Scott Bea, PsyD, seorang psikolog, dikutip dari Cleveland Clinic.

"Otak kita sama seperti mesin lainnya, ia juga membutuhkan waktu istirahat," tambahnya.

Di tengah rutinitas yang serba cepat, no-outcome hours bisa menjadi pengingat bahwa tidak semua waktu harus diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita capai. Terkadang, memberi diri sendiri ruang untuk sekadar menikmati momen adalah hal yang justru paling dibutuhkan oleh pikiran yang lelah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article