5 Cara Latihan Beristirahat Tanpa Merasa Bersalah, Beri Hak Tubuh

- Artikel menyoroti pentingnya mengubah pandangan negatif terhadap istirahat, agar tubuh dan pikiran tidak terus dipaksa bekerja tanpa henti hingga kelelahan.
- Ditekankan lima langkah praktis seperti menyelesaikan sebagian pekerjaan, menetapkan jam kerja, serta melihat contoh orang lain yang tetap produktif meski beristirahat cukup.
- Pesan utamanya: istirahat bukan tanda malas, melainkan bagian dari disiplin diri untuk menjaga kesehatan dan produktivitas jangka panjang.
Waktu istirahat seharusnya paling dinantikan oleh semua orang yang sudah capek seharian beraktivitas. Baik bentuk istirahatnya tidur, bersantai, atau menikmati layanan pijat sekalian perawatan tubuh sama menyenangkannya. Manfaatnya juga besar.
Jangan sampai kamu kecapekan parah karena istirahat yang kurang. Sayangnya, memanfaatkan jeda yang ada buat beristirahat saja bukan hal mudah untukmu. Ini bukan soal kesibukanmu terlalu tinggi sampai gak ada waktu buatmu beristirahat.
Namun, muncul rasa bersalah setiap dirimu off dari pekerjaan. Sekalipun jam kerja sudah habis atau di akhir pekan. Kamu merasa pemalas sekali serta menyia-nyiakan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk bekerja. Bagaimana cara supaya dirimu dapat lebih menikmati waktu istirahat?
1. Selesaikan setidaknya sebagian pekerjaan dulu

Kamu punya kecenderungan melihat istirahat sebagai ancaman terhadap produktivitas. Istirahat bikin dirimu gak bisa menyelesaikan sejumlah pekerjaan. Supaya kamu tidak overthinking serta menyalahkan istirahat, kerjakan dulu sebagian tugasmu.
Walaupun belum semuanya selesai, pikiranmu telah lebih enteng. Kamu akan berpikir tidur sebentar gak apa-apa. Menonton film barang satu episode dulu juga boleh. Ada rasa optimis dirimu bakal dapat menyelesaikan sisa pekerjaan setelah rehat.
Lain dengan bila target pekerjaan belum tersentuh sama sekali. Atau, tugas yang sudah dikerjakan masih kurang dari 50 persen. Boro-boro kamu bisa memejamkan mata. Sekadar untukmu makan dan minum pun rasanya enggan. Takut waktu terbuang.
2. Lihat, orang lain juga beristirahat dan hidup mereka baik-baik saja

Ketika pikiran sudah berlebihan, ada baiknya dirimu menengok pada orang-orang di sekitar. Waktunya kamu membandingkan diri agar pemikiran yang kurang tepat dapat diluruskan. Perhatikan baik-baik cara orang-orang menjalani harinya.
Mereka tidak bekerja terus-menerus sampai gak sempat beristirahat. Banyak orang tak hanya sempat tidur malam dengan waktu yang cukup. Mereka juga dapat jalan-jalan bersama keluarga di hari libur, menata taman di rumah, dan sebagainya.
Kamu melihat sendiri kehidupan mereka tetap berjalan dengan cukup baik. Artinya, istirahat bukan penghambat dalam kehidupan siapa pun. Termasuk kehidupanmu.
Seperti orang-orang, hidupmu tak lantas bakal kekurangan sesuatu cuma gara-gara dirimu berhenti sejenak dari kesibukan. Ada kalanya tugas-tugas yang mesti sabar menunggumu selesai beristirahat. Bukan kamu terus meladeninya dengan tergesa-gesa.
3. Tak lagi mengaitkan produktivitas dengan tidur sesedikit mungkin

Produktivitas adalah tentang apa yang dikerjakan olehmu ketika tidak beristirahat. Mudahnya, saat kamu melek ngapain saja? Kalau waktu dari pagi sampai malam lebih banyak digunakan buat menikmati hiburan dan main artinya dirimu gak produktif.
Sebaliknya, bila masih banyak jam yang dipakai buat bekerja serta melakukan hal-hal bermanfaat lainnya berarti kamu masih produktif. Produktivitas sama sekali bukan tentang tidur cuma 4 jam per hari atau lebih sedikit lagi. Itu pandangan yang menyesatkan.
Kalau kamu mesti berlomba, berlombalah dalam hal-hal yang jelas bemanfaat. Bukan lomba siapa paling sedikit tidur seakan-akan itu tanda produktivitas. Malah tambah minim jam istirahatmu tambah mungkin kesehatan akan menjadi korbannya cepat atau lambat.
4. Menetapkan waktu kerja serta istirahat

Jika kamu gampang melupakan waktu istirahat, bikin aturan yang jelas dan tegas soal ini. Contoh, tetapkan bahwa waktu kerjamu adalah pukul 08.00 sampai 16.00. Istirahat siang 12.00 hingga 13.00.
Terserah waktu 1 jam itu mau dipakai makan, mengobrol, atau lainnya terpenting dirimu gak menyentuh pekerjaan. Bila di malam hari kamu masih harus bekerja juga batasi waktunya. Misal, hanya jam 19.00 setelah makan malam sampai 20.30.
Setelah itu dirimu sudah masuk waktu persiapan tidur dengan melakukan hal-hal yang bikin rileks. Contohnya, menikmati hiburan. Pukul 22.00 kamu telah berselimut dan mematikan lampu. Dengan adanya peraturan, dirimu merasa tetap menjadi pribadi yang disiplin. Istirahat tidak lagi terasa sebagai ciri pemalas selama sesuai dengan aturan tersebut.
5. Mendata kerugian nyata akibat dirimu cukup istirahat

Orang yang paling mampu melawan kekeliruanmu dalam berpikir adalah kamu sendiri. Sebab bila orang lain menasihatimu dengan cara apa pun pasti gak bakal mempan. Malah dirimu menjadi jauh lebih keras kepala.
Cara supaya kamu sadar dengan sendirinya bahwa istirahat tidak seburuk bayanganmu selama ini ialah dengan pendataan. Pikirkan serta catat kerugian nyata yang timbul ketika dirimu beristirahat sesuai waktunya. Contoh, kamu makan siang, salat Zuhur jika dirimu muslim, dan bersantai sejenak sampai jam kerja dimulai kembali.
Apakah atasan menegur bahkan kasih peringatan keras karena itu? Tentu tidak. Bila di malam hari kamu tidur 7 sampai 8 jam dengan nyenyak, apakah keesokannya ada pekerjaan yang gak beres?
Malah tidur cukup membuatmu merasa sangat bugar dan siap bekerja. Dari pendataan tersebut bakal tampak bahwa kekhawatiranmu selama ini tidak beralasan. Mencukupi kebutuhanmu akan istirahat bukannya negatif, justru positif.
Pandanganmu tentang istirahat perlu diubah. Bila waktu istirahat dipakai untuk kerja terus, kamu seharusnya merasa bersalah pada tubuhmu. Dirimu meminta terlalu banyak dan memberi begitu sedikit padanya dengan menyuruhnya bekerja tanpa henti.


















