Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Membesarkan Anak Penuh Empati meski Punya Privilege

Cara Membesarkan Anak Penuh Empati meski Punya Privilege
ilustrasi empati pada orang lain (pexels.com/MART PRODUCTION)
  • Orangtua perlu mencontohkan empati lewat sikap sehari-hari, seperti mendengarkan, tidak menghakimi, mengenali kesulitan anak, membantu menamai perasaan, dan menunjukkan kehangatan.
  • Anak dengan privilege tetap perlu diberi ruang mengalami kesalahan, kegagalan, dan kesulitan agar memahami perjuangan, membangun pola pikir tentang kesuksesan, serta belajar bersyukur.
  • Sejak dini, anak perlu memahami nilai uang, usaha, waktu, dan kontribusi melalui diskusi biaya, menabung, membandingkan harga, serta melihat perspektif kehidupan yang berbeda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setiap orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya dalam hal apa pun. Meskipun hidup nyaman dan berkelimpahan, anak sejatinya perlu diajarkan untuk terus menumbuhkan empati. Tanpa bekal itu, akan sangat mungkin anak tumbuh menjadi sosok yang kurang peka dengan kehidupan atau kondisi orang lain atau bahkan tone deaf.

Ada orang-orang yang harus berjuang mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, ada juga yang bisa langsung mendapatkan hal tersebut. Untuk itu dalam pertumbuhannya, orangtua juga perlu menanamkan banyak karakter positif lainnya supaya tidak tumbuh menjadi pribadi yang tone deaf.

Empati merupakan karakter yang bisa ditanamkan sejak dini lewat kebiasaan sehari-hari, lho. Ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membesarkan anak agar punya empati meskipun ber-privilege.

  1. 1. Empati menurun melalui contoh yang dilakukan orangtua

    ilustrasi anak dan orangtua (freepik.com/Lifestylememory)
    ilustrasi anak dan orangtua (freepik.com/Lifestylememory)

    Pertama, orangtua bisa mencontohkannya dalam sikap, perilaku, tutur kata sehari-hari. Pasalnya, anak tumbuh dengan meniru apa yang orangtua mereka lakukan.

    “Empati tidak memiliki panduan. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk melakukannya. Ini hanyalah mendengarkan, memberi ruang, menahan diri untuk tidak menghakimi, terhubung secara emosional, dan mengkomunikasikan pesan yang sangat menyembuhkan, yaitu ‘Kamu tidak sendirian," kata Brene Brown dalam bukunya Daring Greatly, dilansir Psychology Today.

    Cara Goodwin, Ph.D, seorang psikolog klinis berlisensi, kepada Psychology Today mengatakan ada riset menunjukkan bahwa remaja dengan orangtua yang empatinya tinggi cenderung lebih bisa berempati. Menurut Cara, respons orangtua dalam menanggapi kesulitan anak mereka berpengaruh pada karakter anak mereka.

    "Orangtua dapat memberikan contoh empati dengan mengenali kesulitan anak, membantu anak-anak menyebutkan perasaan mereka, dan menunjukkan kehangatan," katanya.

  2. 2. Anak yang tumbuh dengan privilege perlu diberi kesempatan mengalami kesulitan

    ilustrasi anak dan orangtua (freepik.com/freepik)
    ilustrasi anak dan orangtua (freepik.com/freepik)

    Kedua, anak perlu mengerti bahwa privilege dan empati merupakan dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, privilege bukan alasan seseorang tidak bisa berempati. Jessica McGawley sebagai konsultan psikologi menyampaikan pandangannya tentang hal ini dalam podcast-nya bersama Carla Marie Manly, PhD.

    "Saya bertanya kepada orangtua sukses yang pernah bekerja sama dengan saya, "Apakah Anda berada di posisi sekarang ini tanpa perjuangan?" Mereka menjawab, "Tentu saja tidak.", kata Jessica McGawley dalam drcarlamanly.com.

    Menurutnya, semua orang yang berada di puncak kesuksesan mereka berpendapat bahwa kegagalan, kesalahan, kesulitan itu yang memotivasinya untuk kembali bangkit. Dengan kata lain, mereka bisa melihat suatu hal dengan rasa syukur.

    Artinya, anak seharusnya diberikan kesempatan untuk merasakan kesulitan dan berbuat kesalahan. Justru, hal-hal semacam inilah yang akan membentuk mindset mereka tentang kesuksesan.

    "Percayalah, membuat kesalahan dan terjatuh adalah sebuah hak istimewa di usia muda," katanya lagi.

  3. 3. Orangtua perlu membahas bahwa uang adalah bagian dari hidup sejak dini

    ilustrasi anak dan orangtua mengobrol (pexels.com/Julia M Cameron)
    ilustrasi anak dan orangtua mengobrol (pexels.com/Julia M Cameron)

    Privilege punya banyak arti dan tidak sekadar materi. Namun, privilege juga berhubungan tentang uang dan bagaimana seseorang mendapatkan kenyamanan dari hal itu. Untuk itu, agar anak bisa berempati, mereka perlu belajar memahami nilai atau value sejak dini.

    Seorang penulis dan psikolog, Huong Diep, Psy.D., ABPP dalam Psychology Today menyarankan agar orangtua memperkenalkan uang bukan sebagai hal yang menentukan kehidupan mereka. Anak perlu tahu bahwa uang juga berkaitan erat dengan usaha, perhatian, dan waktu yang mereka berikan.

    "Anak yang lebih dewasa atau remaja, pembelajaran ini dapat berupa memahami biaya suatu kegiatan, menabung untuk sesuatu yang bermakna, merencanakan makanan sederhana, membandingkan harga, atau berdiskusi secara jujur tentang konsekuensi dari setiap pilihan. Dari proses tersebut, anak mulai memahami bahwa kontribusi merupakan bagian dari kehidupan bersama orang lain," kata Huong Diep.

    Ada banyak hal yang bisa dilakukan orangtua. Mulai dari memahami emosi, berdiskusi, dan mengajak anak untuk melakukan hal-hal yang berbeda dari kehidupan biasanya. Dengan begitu, anak akan belajar bagaimana berempati dengan melihat perspektif lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More