Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ungkapan Empati yang Dapat Digunakan dalam Situasi Konflik, Penting!

Ungkapan Empati yang Dapat Digunakan dalam Situasi Konflik, Penting!
Ilustrasi beradu argumen (pexels.com/https://kaboompics.com/)
  • Konflik yang dibiarkan, terutama dengan keluarga, teman, atau pasangan, berisiko menumpuk menjadi dendam; komunikasi yang disengaja membantu mencegah salah paham dan pertengkaran membesar.
  • Dalam situasi yang menyangkut keselamatan atau masalah sepele, menjauh bisa tepat. Namun, persoalan penting yang memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan perlu dibicarakan.
  • Ungkapan seperti “Aku mengerti maksudmu, tetapi aku punya pendapat berbeda” memvalidasi perasaan lawan bicara sambil menjaga pendirian, sehingga percakapan lebih empatik dan terarah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada kenyataannya, berdebat dengan seseorang memang tidak pernah mudah, bukan? Sering kali konflik dapat menyebabkan kata-kata kasar terlontar saat beradu argumen dan kata-kata yang keluar sering kali tidak mudah dihapus dari ingatan.

Inilah yang kerap menjadi ancaman bagi persahabatan, romansa, dan bentuk hubungan lainnya. Terutama dalam perselisihan yang melibatkan orang-orang terkasih, kamu tentu ingin benar-benar memahami mereka dan menemukan empati untuk mengakhiri konflik daripada hanya menghindarinya atau menghentikan percakapan tanpa penyelesaian.

Namun ketika ketegangan meningkat saat berargumen, sulit untuk berhenti berbicara dan berpikir jernih, hingga sulit juga untuk berempati kepada orang lain, meski itu orang terkasihmu. Dalam momen tersebut, kamu perlu memiliki ungkapan empati yang dapat digunakan dalam situasi konflik.

  1. 1. Mengapa penting untuk menangani konflik dengan benar?

    Ilustrasi beradu argumen
    Ilustrasi beradu argumen (pexels.com/Timur Weber)

    Suatu perselisihan bisa menjadi sangat panas dan kedua belah pihak mulai mengatakan hal-hal yang mungkin tidak mereka maksudkan atau sebenarnya tidak ingin diucapkan dengan lantang. Maka, sangat penting untuk mengatasi konflik dengan anggun dan bijaksana.

    “Komunikasi yang efektif dan disengaja adalah kuncinya. Ketika kamu mengalami konflik, dan hanya mengoceh tanpa henti, seringkali maksudmu tidak tersampaikan dengan jelas. Semua orang menjadi defensif atau bahkan lebih bingung dan berkonflik, yang menciptakan lebih banyak konflik," kata psikolog positif dan analis perilaku bersertifikat, Reena B. Patel, dikutip dari Parade.

    Ada banyak situasi di mana sebagai orang dewasa, kamu sebaiknya menjauh dari perselisihan atau pertengkaran. Mungkin kamu sedang mengemudi dan seseorang membuatmu melewatkan lampu merah, atau mungkin di sebuah konser dan orang asing bersikap agresif terhadapmu.

    Mungkin itu masalah sepele sehingga kamu tahu lebih baik untuk pergi. Apalagi jika keselamatanmu berpotensi terancam, menghindari konflik sepenuhnya adalah pilihan terbaik. Namun dalam situasi yang melibatkan orang-orang yang dikenal, terutama keluarga, teman, dan pasangan, jangan mencoba untuk menghindari masalah-masalah sulit, apalagi hal ini jika dijadikan kebiasaan. Lebih baik segera diselesaikan.

    “Jika itu masalah penting dan memengaruhi kamu secara pribadi, baik kesehatan mental maupun kesejahteraan, maka inilah saatnya untuk berbicara. Menahannya dan membiarkannya berlalu dapat menciptakan konflik paling sedikit saat itu juga, tetapi rasa dendam akan menumpuk, dan itu dapat menciptakan masalah yang lebih besar dan ledakan yang lebih besar di kemudian hari," ungkap Patel.

  2. 2. Ungkapan empati yang dapat digunakan dalam situasi konflik

    Ilustrasi beradu argumen
    Ilustrasi beradu argumen (pexels.com/Yan Krukau)

    Meskipun ada banyak pilihan kalimat yang dapat kamu katakan untuk mengakhiri konflik saat itu juga, satu hal yang disarankan sebagai ungkapan empati yang tinggi adalah: "Aku mengerti maksudmu, tetapi menurutku.../tetapi aku punya pendapat yang berbeda..".

    “Sekilas, mungkin ini tampak seperti pernyataan "agree to disagree", tetapi kamu menunjukkan empati dengan mengatakan kamu mengerti, tetapi bagian penting dari pernyataan ini adalah kamu tidak setuju dengan mereka. Kamu mengakui pikiran dan perasaan mereka tetapi tetap mempertahankan pendirianmu sendiri," jelas Patel.

    Daripada memaksa menyamakan pendapat atau memaksa untuk segera move on, ungkapan ini lebih lembut dan menemukan titik temu dengan orang lain. Memvalidasi ketakutan atau keyakinan seseorang selalu menjadi langkah awal yang baik, bahkan jika kamu punya pendapat yang berbeda.

    Pernyataan ini tidak hanya memvalidasi, tetapi juga menunjukkan bahwa kamu tidak setuju dengan mereka, sehingga kamu tidak hanya menuruti keinginan mereka. Namun, pernyataan ini dapat menghentikan konflik dengan memberi tahu mereka bahwa kamu tidak lagi ingin terlibat dalam percakapan yang berubah menjadi pertengkaran.

    Ungkapan empati juga menunjukkan bahwa kamu menghormati semua pihak yang terlibat, termasuk kamu dan hubunganmu dengan orang tersebut. Ini cukup dewasa dan semoga diterima dengan sopan. Jika tidak, itu adalah hal yang baik untuk mengakhiri percakapan saat kamu pergi, hingga menghindari permusuhan.

  3. 3. Ungkapan empati lainnya yang bisa kamu gunakan

    Ilustrasi beradu argumen
    Ilustrasi beradu argumen (pexels.com/RDNE Stock project)

    Berikut daftar ungkapan empati lainnya yang dapat gunakan kapan saja. Gunakan pernyataan ini dengan orang-orang terkasih untuk menguatkan hubungan.

    • Pendapatmu sangat masuk akal.
    • Aku mengerti perasaanmu.
    • Kamu pasti merasa sangat putus asa.
    • Aku merasakan keputusasaan yang mendalam dalam dirimu saat kau membicarakan hal ini.
    • Kamu berada dalam situasi sulit di sini.
    • Aku bisa merasakan rasa sakit yang kau rasakan.
    • Aku berharap kamu tidak perlu mengalami itu.
    • Aku berada di pihakmu dalam hal ini.
    • Aku berharap aku bisa bersamamu saat itu.
    • Kamu pasti merasa sangat tak berdaya.
    • Aku sedih mendengarnya.
    • Aku sepenuhnya setuju denganmu.
    • Tidak heran kamu kesal.
    • Aku juga akan merasakan hal yang sama seperti kamu jika berada di situasi yang sama.
    • Itu juga akan membuatku marah.
    • Itu terdengar sangat menjengkelkan.
    • Itu sangat menakutkan.
    • Aku juga akan kecewa dengan hal itu.

    Empati mendorongmu untuk mendengarkan dengan saksama dan merespons dengan bijaksana, baik saat sedang bertengkar hebat dengan pasangan atau mencoba mencari tahu mengapa seorang teman tidak membalas pesanmu. Ketika selalu memprioritaskan perasaan orang lain, kamu tidak akan terburu-buru menyimpulkan atau membuat asumsi, sehingga akan lebih mudah menghindari kesalahpahaman dan menyelesaikan konflik. Semoga bermanfaat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More