Tidak semua orang nyaman menjadi pusat perhatian. Ada yang lebih suka bekerja dalam diam, berbicara seperlunya, lalu membiarkan hasil kerja yang mencuri perhatian. Sayangnya, sikap seperti ini sering disalahartikan sebagai kurang percaya diri atau tidak punya sesuatu yang bisa ditawarkan. Padahal, menjadi low profile bukan berarti harus menghilang dari radar.
Di sisi lain, personal branding juga bukan soal siapa yang paling sering tampil di media sosial atau paling pandai mencari sorotan. Yang membuat seseorang mudah diingat justru nilai, karakter, dan konsistensi yang ia tunjukkan dari waktu ke waktu. Jadi kalau kamu termasuk tipe yang kalem, bagaimana caranya tetap membangun personal branding tanpa kehilangan jati diri?
