Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Fashion Isn't Dead, Ini Cara Retail Lokal Bisa Tetap Relevan!

Fashion Isn't Dead, Ini Cara Retail Lokal Bisa Tetap Relevan!
Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan (IDN Times/Nisa Zarawaki)
Intinya Sih
  • Toko fisik tetap penting karena memberi pengalaman pancaindra yang tak tergantikan, seperti sentuhan kain dan aroma khas yang memperkuat identitas brand.
  • Pelanggan lebih percaya diri membeli produk fashion bernilai tinggi di toko offline, membuat nilai transaksi di toko fisik cenderung lebih besar dibanding online.
  • Strategi pop-up store kreatif dan sistem omnichannel terintegrasi membantu brand lokal menarik perhatian publik sekaligus menjaga relevansi di era digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di tengah gempuran TikTok Shop, live shopping, dan diskon marketplace yang bertubi-tubi, banyak yang mulai memikirkan kalau toko fisik bakal jadi barang langka. Tapi ternyata, cerita di lapangan gak sesederhana itu. Dalam sebuah talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan, dua nama besar di industri retail fashion lokal, Katharina Inkiriwang selaku President Director MASSHIRO&Co. dan Marcel Lukman, President Director The707Company, buka-bukaan soal kenapa toko fisik justru jadi kunci mereka bertahan dan berkembang di tengah era digital.

Dari cerita pop-up store yang bikin heboh sampai strategi omnichannel, ada beberapa aspek yang menjadi alasan kenapa retail fashion masih tetap relevan di Indonesia. Ini dia lima pelajaran penting yang bisa diambil.

1. Pengalaman pancaindra yang gak bisa digantikan HP

Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falateh
Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Sepintar apa pun teknologi, ada satu hal yang gak bisa ditiru oleh belanja online, yaitu pengalaman menyentuh, mencium, dan merasakan produk secara langsung. Buat MASSHIRO&Co., ini jadi elemen krusial dalam membangun identitas brand mereka.

"Sebuah brand itu harus hadir di semua dimensi. Jadi, harus bisa ngomong ke semua indera," ungkap Katharina.

Bahkan, Mashiro sengaja punya scent khas di fitting room mereka. Menurut Katy, panggilan akrab Katharina, aroma inilah yang bikin pelanggan langsung ingat dengan brand-nya begitu mencium wangi serupa di rumah. Kombinasi sentuhan kain, aroma, dan suasana toko inilah yang menciptakan memori yang gak bisa direplikasi lewat scroll di aplikasi belanja.

2. Toko fisik adalah tempat orang beneran jatuh cinta, bukan cuma window shopping

Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falateh
Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Belanja online memang praktis. Akan tetapi buat produk fashion, keraguan soal ukuran dan kecocokan bahan sering kali bikin orang mikir dua kali sebelum checkout. Di sinilah toko fisik ambil peran penting.

"Buat pembelian yang lebih besar, biasanya mereka langsung ke toko offline. Mereka sampai rela nyempetin waktu weekend dari mana pun asalnya, dari Bekasi, Kelapa Gading, demi dapetin barang itu," jelas Katharina soal kebiasaan belanja pelanggannya.

Menariknya, dari pengalaman MASSHIRO&Co., rata-rata nilai transaksi atau ticket size di toko fisik justru lebih tinggi dibanding online. Pelanggan yang sudah yakin dengan size dan model pakaian biasanya belanja online untuk buat kebutuhan dasar. Begitu mau membeli item yang lebih besar atau spesial, mereka lebih memilih datang langsung agar gak perlu repot proses retur karena gak pas di badan.

3. Pop-up store nyentrik yang bikin orang penasaran duluan

Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falateh
Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Buat brand internasional yang belum familier di telinga orang Indonesia, strategi memperkenalkan produk lewat aktivasi kreatif jadi andalan 707 Group. Marcel dan tim gak segan bikin konsep yang unik dan kadang di luar dugaan biar orang penasaran dan akhirnya mencoba sendiri.

"Kita bikin activation, pop-up. Kalau On (brand sepatu), awalnya kita cuma bikin event pop-up, running event, sama community building," cerita Marcel soal strategi memperkenalkan brand sepatu On di Indonesia.

Beberapa contoh aktivasi yang berhasil bikin heboh antara lain pop-up On di tengah kawasan GBK (Gelora Bung Karno) saat orang-orang lagi olahraga, kolaborasi Carhartt yang bikin warung Pecel Lele, sampai instalasi eksklusif Stanley bareng Jennie BLACKPINK. Semua strategi ini punya satu tujuan, yaitu menciptakan momen yang bikin orang cerita ke temannya, 'Eh ke sini, yuk!'. Menurut Marcel, itu juga jadi salah satu strategi kenapa retail bisa tetap relevan di Indonesia.

4. Omnichannel bukan lagi pilihan, tapi keharusan

Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falateh
Talkshow di ajang Textile Festival bertajuk Fashion Isn't Dead: Why Retail Still Wins in Indonesia pada Sabtu (11/7/2026) di Nirmana Falatehan Blok M, Jakarta Selatan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Dulu mungkin online dan offline dianggap dua dunia yang terpisah. Tapi sekarang, kedua brand ini sepakat kalau keduanya harus terintegrasi biar pengalaman belanja makin seamless.

"Sistem kita itu omni, semuanya saling terhubung. Jadi sistem kasirnya online dan yang online juga kerasa kayak offline," ujar Marcel soal sistem back-end terintegrasi yang dipakai Atmos.

Pola yang sering muncul adalah pelanggan window shopping dulu secara online. Setelah itu, mereka datang ke toko buat coba ukuran, baru transaksi lewat online. Atau sebaliknya, mereka lihat produk langsung di toko, tapi transaksi dituntaskan lewat marketplace karena ada promo tambahan. Kombinasi ini yang bikin kedua channel saling melengkapi, bukan saling menggantikan.

Dari beberapa poin di atas, jelas kalau fashion retail Indonesia masih punya masa depan cerah selama brand paham cara menciptakan experience yang gak bisa ditiru sama layar HP. Hal yang penting bukan soal online atau offline, tapi bagaimana caranya bikin pelanggan merasa terhubung secara personal dengan brand.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari

Related Articles

See More