Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Sampaikan Pendapat dari Posisi Privilege biar Gak Tone Deaf!

5 Cara Sampaikan Pendapat dari Posisi Privilege biar Gak Tone Deaf!
ilustrasi sombong (pexels.com/Budgeron Bach)
  • Sebelum berkomentar soal isu sensitif, penting menyadari kemudahan dan privilege diri karena posisi sosial dapat memengaruhi cara memahami pengalaman orang lain.
  • Pengalaman pribadi boleh dibagikan, tetapi jangan dijadikan standar; akui keterbatasan pemahaman dan gunakan bahasa yang menghormati perbedaan kondisi setiap orang.
  • Jangan buru-buru memberi solusi atau memamerkan pencapaian; pahami masalah, berikan validasi emosional, dan hindari menganggap orang lain gagal hanya karena kurang berusaha.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Punya privilege bukan berarti kamu gak boleh menyampaikan pendapat tentang isu yang sedang ramai. Namun, posisi dan pengalaman yang berbeda bisa membuat kita melihat sebuah persoalan dengan cara yang berbeda pula.

Karena itu, penting untuk menyadari posisi diri sebelum ikut berkomentar, terutama tentang isu sensitif di media sosial. Berikut beberapa cara yang bisa kamu terapkan untuk menyampaikan opini meski posisimu punya privilege!

  1. 1. Sadari dulu kemudahan yang kamu miliki

    ilustrasi seseorang yang sombong (pexels.com/Ferdinand Studio)
    ilustrasi seseorang yang sombong (pexels.com/Ferdinand Studio)

    Sebelum ikut berkomentar tentang suatu isu, coba lihat kembali posisi diri sendiri. Ada berbagai kemudahan yang mungkin selama ini terasa biasa bagimu, tetapi sebenarnya gak dimiliki semua orang. Kesadaran tersebut penting karena status sosial ternyata bisa memengaruhi bagaimana seseorang memahami kondisi orang lain.

    Penelitian Michael W. Kraus dan rekan-rekannya menemukan bahwa orang dengan status sosial ekonomi lebih tinggi, cenderung kurang akurat dalam membaca emosi orang lain. Namun, Kraus menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti mereka gak mampu berempati.

    “Riset kami menunjukkan bahwa orang dari kelas atas bukan memiliki kapasitas empati yang lebih rendah. Mereka hanya kurang memberikan perhatian,” tulis Kraus dan rekan-rekannya dalam penelitian Social Class, Solipsism, and Contextualism: How the Rich Are Different from the Poor yang diterbitkan di Psychological Review.

  2. 2. Akui bahwa pengalamanmu belum tentu berlaku untuk semua orang

    ilustrasi ekspresi sombong (pexels.com/August de Richelieu)
    ilustrasi ekspresi sombong (pexels.com/August de Richelieu)

    Pengalaman pribadi memang bisa menjadi bahan untuk menyampaikan pendapat. Namun, hindari menjadikannya sebagai patokan untuk menilai pilihan orang lain. Apalagi banyak orang yang gak punya privilege yang sama denganmu.

    “Orang dari kelas sosial bawah memiliki sumber daya yang lebih sedikit dan, sebagai akibatnya, mereka lebih bergantung pada orang lain serta lingkungan di sekitarnya,” terang Kraus lagi.

    Kamu bisa menggantinya dengan kalimat yang memberikan batas lebih jelas, seperti “Kalau dari pengalamanku…” atau “Cara ini berhasil di kondisiku, tapi mungkin situasi setiap orang berbeda.” Dengan begitu, pengalamanmu tetap bisa menjadi bagian dari diskusi tanpa dijadikan patokan bagi orang lain.

  3. 3. Akui kalau ada hal yang mungkin gak kamu pahami

    cuplikan film The Privilege (dok. Netflix/The Privilege)
    cuplikan film The Privilege (dok. Netflix/The Privilege)

    Gak harus memiliki pengalaman yang sama untuk peduli terhadap suatu isu. Namun, hindari berbicara seolah-olah kamu paling memahami pengalaman yang sebenarnya gak pernah kamu alami sendiri. Kamu bisa mengatakan, “Aku mungkin gak sepenuhnya memahami rasanya berada di posisi tersebut,” sebelum memberikan pendapat.

    Sikap ini berkaitan dengan intellectual humility, yakni kemampuan untuk menyadari bahwa pengetahuan dan keyakinan kita memiliki keterbatasan. Peneliti Tenelle Porter menjelaskan bahwa gak ada orang yang melihat segala sesuatu secara sepenuhnya akurat atau mengetahui semua hal.  

    Intellectual humility adalah pengakuan terhadap keterbatasan pengetahuan dan keyakinan kita,” jelas Porter dalam artikel ilmiah Intellectual Humility: On Recognizing Our Limits yang diterbitkan dalam Advances in Experimental Social Psychology. 

  4. 4. Hindari memberikan solusi sebelum memahami masalahnya

    ilustrasi mengobrol dengan cara sombong (pexels.com/Tim Douglas)
    ilustrasi mengobrol dengan cara sombong (pexels.com/Tim Douglas)

    Melihat suatu masalah sering membuat kita langsung terpikir solusi. Namun, kalau kamu berada dalam posisi yang lebih beruntung, solusi yang terdengar sederhana bagimu bisa jadi sulit dilakukan orang yang mengalaminya.

    Karena itu, sebelum buru-buru memberikan solusi, coba pahami dulu situasi yang sedang dihadapi orang lain. Apalagi, ketika seseorang sedang mengalami kesulitan, saran yang datang terlalu cepat bisa membuatnya merasa pengalamannya gak benar-benar didengarkan.

    “Ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional, hal pertama yang mereka butuhkan adalah validasi emosional, bukan nasihat,” demikian dilansir dari artikel "Why People May Not Want Your Advice" di laman psychologytoday.com

  5. 5. Jangan jadikan isu sebagai momen menunjukkan pencapaianmu

    Alasan orang introver sering dikira sombong (pexels.com/cottonbro studio)
    Alasan orang introver sering dikira sombong (pexels.com/cottonbro studio)

    Kisah keberhasilan pribadi memang bisa memberikan inspirasi. Namun, masalah muncul ketika pengalaman tersebut digunakan untuk menyimpulkan bahwa semua orang seharusnya bisa mencapai hasil yang sama selama berusaha cukup keras.

    “Orang dengan kekuasaan tinggi lebih jarang mempertimbangkan bahwa orang lain gak memiliki pengetahuan istimewa yang mereka miliki,” tulis Galinsky dan rekan-rekannya dalam jurnal Power and Perspectives Not Taken yang diterbitkan di Psychological Science.

    Penelitian Adam Galinsky, Joe Magee, M. Ena Inesi, dan Deborah Gruenfeld menemukan bahwa posisi yang memiliki lebih banyak kekuasaan dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengambil perspektif orang lain. Kamu tetap boleh membagikan keberhasilan pribadi, tapi jangan menjadikannya bukti bahwa orang yang belum berhasil berarti kurang berusaha.

    Kalau kamu ada sisi privilege, pastikan kamu sudah memahami semua ini agar gak salah dalam menyampaikan opini di ruang publik, ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More