Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Kreator Muda, Mutia Hanifah Sebar Kesadaran Konservasi lewat Konten Kreatif

Cerita Kreator Muda, Mutia Hanifah Sebar Kesadaran Konservasi lewat Konten Kreatif
Kreator Muda, Mutia Hanifah. (instagram.com/ke.mudian)
Intinya Sih
  • Mutia Hanifah, kreator muda berlatar Biologi, memanfaatkan media digital untuk menyederhanakan isu konservasi agar mudah dipahami masyarakat dan menarik minat generasi muda.
  • Ia fokus membuat konten edukatif tentang satwa dan lingkungan, mengajak publik memahami fungsi ekologis serta menekan praktik jual-beli satwa liar di Indonesia.
  • Mudi menekankan bahwa konservasi tak hanya soal satwa, tapi juga kesejahteraan manusia di sekitarnya, sambil mendorong kolaborasi generasi muda menjaga kelestarian alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Jika bicara soal konservasi, apa yang ada di bankmu? Mungkin perlindungan hewan langka, kerusakan lingkungan, atau upaya menjaga kelestarian alam agar tetap seimbang bagi generasi mendatang. Isu konservasi sering kali dianggap sebagai topik yang kaku dengan istilah ilmiah yang sulit dipahami.

Kehadiran konten kreator muda seperti Mutia Hanifah atau akrab disapa Mudi, menggeser persepsi ini. Penggerak muda seperti Mudi, fokus untuk menyebarluaskan berbagai isu konservasi dengan mengemas narasi yang lebih segar di media digital.

Dalam wawancara bersama IDN Times pada Jumat (27/3/2026), Mudi berbagi tentang perjalanannya sebagai konten kreator yang fokus pada dunia konservasi. Dalam akun Instagram @ke.mudian, ia juga banyak membagikan pengalaman traveling hingga menjelajah alam untuk memperkenalkan satwa. Ikuti keseruan Mudi dalam artikel ini.

1. Akar ketertarikan konten edukasi di bidang konservasi

SaveClip.App_562040248_18533063776010241_5481001967803189729_n.jpg
Kreator Muda, Mutia Hanifah. (instagram.com/ke.mudian)

Mudi mendedikasikan dirinya menjadi konten kreator. Setelah resign, Mudi memutuskan untuk mendalami dunia digital dan memanfaatkan footage yang telah diambilnya selama duduk di bangku kuliah. Berbekal wawasan dari non-governmental organization (NGO) bidang lingkungan, termasuk pengalamannya terjun ke lapangan, Mudi memutuskan untuk fokus menjadi content creator sejak September 2025 lalu.

Mudi yakin, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Salah satunya melalui dokumentasi yang ia sebarkan sebagai alat edukasi yang kuat. Meski langkah kecilnya baru dimulai, Mudi mengaku senang jika aktivitas yang ditekuninya mampu memberi dampak yang lebih luas sekaligus menginspirasi orang lain untuk melihat konservasi dari sudut pandang yang berbeda.

Mudi berbagi tujuannya, "Biar temen-temen tahu juga bahwa ternyata konten konservasi juga menarik dan bisa mengajak teman-teman. Orang konservasi yang kerjanya di lapangan itu, jadi tahu bahwa kegiatan kita menarik dan kita harus bangga sama kegiatan kita."

Mudi melihat ada kesenjangan antara dunia akademis dan pemahaman masyarakat awam. Ia merasa bahwa para peneliti sering kali terlalu fokus pada publikasi jurnal yang bahasanya sulit dimengerti. Hal ini mendorongnya untuk mengambil peran sebagai penerjemah informasi ilmiah menjadi konten yang ringan, namun tetap akurat.

Awal mula kesungguhan Mudi untuk terjun sebagai konten kreator adalah perdebatan di media sosial terkait isu konservasi. Orang awam mempertanyakan peran peneliti Indonesia selama ini terkait dengan isu-isu lingkungan di media arus utama. Karena itu, Maudi berinisitaif memanfaatkan peluang tersebut untuk bisa menyebarluaskan dengan kemasan yang menarik.

"Gak ada yang menyederhanakan kalimat-kalimat ilmuwan, menyederhanakan konten-konten tersebut agar bisa dimengerti orang awam. That's why ini kayaknya bisa jadi peluang aku. Mungkin aku kurang di akademik, tapi aku mudah sekali untuk membuat sebuah konten, bisa membuat yang menyentuh masyarakat. Jadi, aku memanfaatkan skill yang aku bisa, sebisaku di bidang konservasi," ujarnya.

Perjalanan Mudi di dunia konservasi dimulai sejak bangku kuliah. Sebagai lulusan Biologi dengan fokus konservasi, isu terkait pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan ekosistem tentu bukan hal yang asing baginya. Ia pun terus memupuk pemahaman di bidang tersebut meski sebelum mendalami Biologi, Mudi justru menempuh pendidikan di bidang farmasi saat masih duduk di bangku SMK.

"Sebenarnya, dari awal gak ada ketertarikan terhadap isu konservasi. Jadi, awalnya SMK aku dulu Farmasi dan Biologi Konservasi ini kayak berbeda banget sama yang dunia farmasi tersebut," tambahnya.

Kesadaran untuk menekuni dunia konservasi muncul di tahun 2021. Saat itu, ia mulai terlibat sebagai relawan dalam kegiatan pengumpulan data dan informasi terkait primata owa. Dari sana, ia semakin banyak membaca dan memahami kondisi konservasi di lapangan hingga informasi tentang perdagangan ilegal satwa. Momen tersebut begitu menyentuh hatinya, membuat Mudi pun tergerak untuk mengambil langkah nyata dan berkontribusi dalam isu konservasi.

"Di situ aku nangis dan saat itu, aku memutuskan buat kuliah serius. Buat apa yang kubisa, aku akan terjun gitu kan. Jadi, that's why aku memutuskan untuk fokus ke dunia konservasi. Jadi yang namanya sebagai anak muda, pasti ada yang namanya galau, bingung. Ini salah jurusan apa gak ya? Nah, 2021 itu titik balikku. Jadi, ngerasa kayaknya aku benar dan aku mau melakukan kontribusiku di sini," ungkapnya.

2. Dedikasi untuk membuat konten edukasi, sampaikan pesan konservasi secara lebih luas

ilustrasi alam yang bersih (unsplash.com/@minhaz217)
ilustrasi alam yang bersih (unsplash.com/@minhaz217)

Keputusan untuk menjadi kreator bukan tanpa keraguan bagi Mudi. Meski ia telah mendedikasikan waktunya untuk memproduksi konten edukasi, rasa bimbang tetap menyelimuti. Langkah ini pun diambil dengan berbagai risiko. Namun, ia percaya bahwa melalui platform digital, pesan-pesan konservasi dapat menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak orang, terutama generasi muda.

"Pasti ada ragu juga. Aku takut banget memberikan informasi yang salah, mungkin terhadap orang awam, terhadap media. Terus juga, mungkin bahasaku, aku takut sekali bahasaku terlalu ilmiah. That's why kalau misal lihat di konten-kontenku, benar-benar konten-konten yang emang tujuannya buat masyarakat umum karena tujuannya untuk itu," tutur Mudi.

Mudi mengakui, tantangan terbesar dalam dunia konservasi adalah menggerakkan kepedulian generasi muda untuk lebih sadar akan isu ini tanpa merasa digurui. Oleh karenanya, Mudi memilih gaya unik dalam menyampaikan pesan dengan cara menyederhanakan informasi dan mengikuti tren yang disukai.

Sebagai seorang konten kreator, Mudi ingin terus mengeksplorasi potensi yang dimilikinya agar dapat memberi manfaat yang lebih luas. Ia pun berupaya menunjukkan bahwa aksi nyata untuk lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk melalui konten yang ringan namun bermakna.

"Kalau untuk Gen Z, pastinya kita harus menggunakan bahasa-bahasa yang terkini. Kita harus pakai istilah-istilah yang terkini biar mereka tetap relate dengan permasalahan yang ada di Indonesia," ceritanya.

Namun di sisi lain, Mudi optimis kontennya akan memberi lebih banyak kebermanfaatan. Dengan cara ini, edukasi lingkungan tidak lagi membosankan, melainkan menjadi sesuatu yang dinamis dan menarik untuk diikuti oleh berbagai kalangan usia.

"Tapi di satu sisi, aku juga positif banget dan yakin kalau misalnya konten-konten ini juga berguna buat teman-teman yang lain karena ada beberapa dari mereka tuh sangat mendukungku," tambahnya.

Mudi menilai, generasi muda harus peka terhadap kemajuan teknologi dan memanfaatkan dunia digital dengan baik. Salah satunya berkreasi dengan konten-konten digital yang bisa mengemas informasi ilmiah agar tetap mengasyikkan dan relevan di masa kini.

3. Jual-beli satwa ilegal masif di Indonesia, Mudi galakkan edukasi di media sosial

ilustrasi alam (pexels.com/Johannes Plenio)
ilustrasi alam (pexels.com/Johannes Plenio)

Isu konservasi lingkungan menjadi topik yang krusial di Indonesia sebab masih terjadi salah kaprah terkait satwa. Melalui kontennya, Mudi berupaya memperkenalkan berbagai jenis satwa dan kondisi habitatnya yang kian terancam.

"Kalau aku pribadi, sebenarnya konten itu fokus di isu perkenalan, isu fungsi-fungsi satwa, dan tumbuhan tersebut di Indonesia. Tapi, harapannya masyarakat umum tahu fungsi mereka di ekologis tuh apa. Harapannya biar mereka tidak melakukan perdagangan satwa, biar mereka tidak melakukan pembelian satwa ilegal," Mudi menuturkan upaya jangka panjangnya.

Mudi memiliki keresahan besar terhadap proses jual-beli satwa. Ia memberi contoh perdagangan satwa ilegal yang tanpa sadar dilakukan oleh masyarakat. Melalui pengamatan Mudi, masih banyak orang yang melakukan jual beli satwa, bahkan terjadi transaksi secara online.

"Jadi dari mulai kesadaran, pengenalan, kita di Indonesia itu punya satwa apa aja, terus juga satwa endemik apa yang ada di Indonesia, fungsinya apa di Indonesia, kayak gitu-gitu harapannya biar mereka tidak melakukan perburuan liar," tambah Mudi.

Untuk menyuarakan dan menyebarluaskan eduakasi, Mudi tidak hanya mengandalkan media sosial, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Ia aktif melakukan sosialisasi dan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah sebagai upaya menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.

Tak sampai di situ, ia juga melakukan kegiatan lain untuk menjaga lingkungan. Misalnya, clean up sampah di Bogor sekaligus memberi informasi yang relevan kepada masyarakat sekitar terkait kebersihan lingkungan.

"Kalau aku pribadi, melakukan kegiatan edukasi ke sekolah-sekolah. Kadang, dari sekolah meminta buat edukasi terkait pengenalan lingkungan, terus juga dari pesantren, terus juga aku bergabung di Nusantara Wilderness yang mana itu kayak sebuah voluntree trip. Bukan sekadar jalan-jalan aja, tapi ini buat pengenalan satwa, pengenalan serangga, pengenalan tumbuhan yang ada di Indonesia yang kita temuin langsung untuk trip keluarga," ceritanya.

4. Konservasi lingkungan tak hanya soal hewan, namun juga manusia yang tinggal di sekitarnya

ilustrasi alam yang hijau (pexels.com/Jeswin Thomas)
ilustrasi alam yang hijau (pexels.com/Jeswin Thomas)

Permasalahan terkait isu konservasi masih kerap terjadi di masyarakat Indonesia. Salah satunya berasal dari anggapan yang keliru dalam memperlakukan satwa. Kesalahan umum seperti memelihara satwa liar secara pribadi, masih sering dilakukan oleh individu tanpa memahami dampaknya. Banyak yang mengira bahwa satwa liar bisa diasuh secara pribadi cukup dengan memberi makan dan menyediakan tempat tinggal, padahal tindakan tersebut justru berpotensi merusak keseimbangan ekosistem.

"Kalau misalnya kita memelihara satwa liar atau memelihara sebuah hewan domestik, kita harus memikirkan lima Animal Welfare atau kesejahteraan satwanya, kayak bebas dari rasa lapar, bebas dari rasa takut, cemas, dan melakukan perilaku alami kayak gitu-gitu, yang mana itu gak bisa mereka lakukan. Jadi, sebenarnya di luar ini, masih common atau masih diwajarkan, dinormalisasi untuk memelihara satwa liar. Padahal, mereka ada fungsinya juga di alam," ujarnya.

Menyukai satwa liar tak bisa diwujudkan dengan memilikinya secara personal. Ada berbagai cara yang bisa menunjukkan kepedulian, salah satunya dengan mendukung upaya konservasi yang fokus memberi perlindungan satwa. Dukungan ini bisa direalisasikan dalam berbagai bentuk.

Mudi menuturkan beberapa langkah yang bisa dijalankan, "Yang bisa kita lakukan adalah mendukung lembaga konservasi yang bergerak di bidang itu. Contoh, kalau misalnya kita menyukai Owa Jawa, kita dukung konservasi yang bergerak di bidang itu. Contohnya, Yayasan KIARA. Kita bisa beli merchandise, kita bisa beli kainnya dari Ibu-ibu Halimun. Kenapa? Karena dengan kita membeli merchandise mereka, itu berarti kita mendukung atau memberi dukungan untuk mendukung konservasi mereka. Dan kita jadi lebih aware juga."

Mudi menekankan, ketika bicara isu konservasi, itu artinya kita bukan hanya bicara tentang satwa. Kita juga bicara tentang masyarakat, penduduk yang tinggal di daerah dan habitat tersebut.

"Contoh yang kubilang tadi, Ibu-ibu Halimun itu adalah kelompok ibu-ibu di daerah Halimun yang membuat kain untuk mengganti mata pencaharian. Mungkin dulunya mereka hidup di daerah sana, mungkin mereka berburu, tapi udah gak berburu lagi. Akhirnya, mereka melakukan konservasi dan menjual itu (kain) untuk perlindungan satwa biar mereka ada pendapatan karena berhubungan dengan masyarakat juga, gak cuman satwanya doang," tambah Mudi.

5. Pesan Mudi untuk generasi muda terkait isu konservasi

ilustrasi alam dan makhluk hidup. (pixabay.com/Herriest)
ilustrasi alam dan makhluk hidup. (pixabay.com/Herriest)

Sebagai kreator yang fokus di bidang konservasi, Mudi berharap masyarakat Indonesia semakin sadar akan keberagaman dan kekayaan hayati di negerinya. Ia juga ingin ke depannya, tercipta sistem perlindungan satwa dan edukasi yang lebih merata. Di sisi lain, upaya memperluas jejaring terus ia dorong meski tetap disertai kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk merusak lingkungan secara lebih parah.

"Ini ada ketakutan sendiri sebenarnya. Kayak kita mempromosikan, tapi jadi pisau bermata dua. Kita mengedukasi, tapi bisa berbalik karena ada perburuan yang datang. Tapi, aku pernah dikasih tahu sama salah satu senior, kepunahan itu akan ada terus. Jadi, mau gak mau, kita harus berjalan beriringan dengan kepunahan tersebut. Jadi, tetap bikin konten karena kita gak tahu konten kita ini bisa mengarah ke kebaikan atau keburukan. Tapi, ya semoga aja harapannya ke kebaikan," harap Mudi.

Secara spesifik, Mudi juga ingin generasi muda yang bergerak di bidang konservasi, tidak takut untuk terus berkolaborasi. Pasalnya, konservasi itu tidak bisa bergerak sendirian. Ini adalah langkah kolektif di mana berbagai pihak harus bergerak bersama-sama. Sebab, bakal upaya kolektif di bidang ini perlu diperjuangkan puluhan tahun ke depan.

Mudi berpesan, "Kayak generasi muda kan, sekarang ini sukanya jadi atlet buat keliling-keliling ke hutan. Tapi, jangan lupa imbangi dengan ilmu-ilmu tentang alam, tentang konservasi. Jangan sampai pas datang itu malah merusak, malah merugikan yang ada di sana. Kalau bisa, lebih bijak."

Kisah Mudi dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih aktif menjaga lingkungan, terutama terkait satwa. Menjaga ekosistem, termasuk keragaman hayati, artinya turut berkontribusi untuk menciptakan kehidupan manusia yang lebih selaras dengan alam. Semoga kisah Mudi mengerakkan kesadaranmu juga, ya!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriyanti Revitasari
EditorFebriyanti Revitasari
Follow Us