Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Fakta Hari Buku Nasional, Disahkan Sejak 2002 Lho!

Fakta Hari Buku Nasional, Disahkan Sejak 2002 Lho!
pexels/minan1398
Intinya Sih
  • Hari Buku Nasional diperingati setiap 17 Mei, bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pertama pada 1980 yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef.
  • Penetapan Hari Buku Nasional dicetuskan tahun 2002 oleh Mendikbud Abdul Malik Fajar sebagai upaya meningkatkan literasi masyarakat dan mendorong penjualan buku di Indonesia.
  • Meskipun tingkat melek huruf mencapai 96 persen, minat baca masyarakat masih rendah; hanya sekitar 0,001 persen penduduk yang gemar membaca, sementara penerbit aktif tersisa sekitar 54 persen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tak hanya dunia internasional yang memperingati hari Buku Sedunia setiap 23 April. Indonesia juga punya perayaan serupa. Tanggal 17 Mei tiap tahunnya diperingati sebagai hari Buku Nasional. 

Ada banyak kisah dan fakta mengiringi peringatan hari Buku di tanah air. Dimulai dari pertama kalinya tercetus perayaan tersebut hingga perkembangan buku dan minat baca di Indonesia. IDN Times telah merangkumnya untuk kamu simak di hari spesial ini.

Table of Content

1. Bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional

1. Bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional

pixabay/StockSnap
pixabay/StockSnap

Pemilihan tanggal 17 Mei sebagai hari Buku Nasional bertalian erat dengan Perpustakaan Nasional. Pasalnya, gedung pertama Perpustakaan Nasional berdiri pada tanggal 17 Mei 1980. Ketika itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef mencanangkan berdirinya Perpusnas pertama di Indonesia yang berlokasi di Jakarta.

Sebelumnya, cikal bakal Perpusnas telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Bataviaasch Genootschap didirikan pertama kali pada 24 April 1778. Inilah yang jadi pelopor munculnya Perpusnas sebelum riwayatnya berakhir pada 1950.

2. Dicetuskan Mendikbud era Megawati Soekarnoputri

pexels/pixabay
pexels/pixabay

Tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional menjadi inspirasi tercetusnya hari Buku Nasional. Pada 2002, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kabinet Gotong Royong, Abdul Malik Fajar mencetuskan ide tersebut.

Ditetapkannya hari Buku Nasional adalah upaya pemerintah untuk memacu tingkat literasi pada masyarakat. Ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan penjualan buku di tanah air.

3. Jumlah penduduk melek huruf capai 96 persen, namun minat baca masih rendah

sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id

BPS mencatat angka penduduk Indonesia di atas usia 15 tahun yang melek huruf pada 2010 mencapai 96,07 persen. Angka sebesar ini menjadikan penduduk tanah air berpotensi menjadi pembaca buku. Namun, kenyataan justru sebaliknya.

Unesco pada 2012 mengkalkulasi bahwa angka minat baca Indonesia hanya 0,001 persen. Jika diumpamakan, dari 1000 orang hanya 1 orang saja yang rajin membaca. Dengan proyeksi total penduduk Indonesia di tahun 2018 berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) BPS mencapai 265 juta jiwa, maka ada 265 ribu orang yang punya minat baca tinggi. Tentu, angka tersebut jelas masih jauh jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

4. Jumlah penerbit buku capai ribuan, yang aktif tersisa 54 persen

pixabay/Pexels
pixabay/Pexels

Dengan jumlah penduduk yang menembus angka 265 juta jiwa, Indonesia sejatinya adalah pasar potensial penjualan buku berbagai tema bacaan meski tingkat minat baca di Indonesia masih rendah. Ini dibuktikan dengan hadirnya ribuan penerbit buku yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dalam laporannya pada 2015 memuat jumlah penerbit buku dengan total sebesar 1.328. Namun, hanya 54 persen atau 711 penerbit yang hingga kini masih aktif menerbitkan buku. Perlu diketahui, penerbit buku yang masuk dalam kategori aktif ialah yang rutin menerbitkan sedikitnya 10 judul buku dalam setahun.

5. Meski E-Book mulai dilirik, namun angka penjualannya masih minim

pixabay/Perfecto_Capucine
pixabay/Perfecto_Capucine

Selain buku fisik, buku digital atau e-book juga kian dilirik oleh para penerbit mengingat begitu pesatnya adopsi internet di kalangan masyarakat. Meski membawa prospek jangka panjang yang segar dan mengalami pertumbuhan, nyatanya angka penjualannya masih tergolong minim.

IKAPI menulis bahwa penjualan e-book di pasar buku tanah air berkisar kurang dari 2 persen. Meski mendapat 'kue' yang sedikit, hal tersebut tak menyurutkan minat penerbit beralih ke pasar buku digital. Dari 711 penerbit aktif, 20 persen di antaranya mulai merambah e-book.

Membangun kegemaran membaca memang memerlukan kerjasama aktif dari pemerintah, IKAPI, dan masyarakat. Pemberian akses untuk memperoleh buku serta aktif mengampanyekan giat membaca adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan bersama demi tumbuhnya minat baca di Indonesia. Namun, membangun kesadaran membaca dari diri sendiri adalah hal terpenting.

FAQ Seputar Fakta Hari Buku Nasional

Benarkah minat baca Indonesia termasuk yang terendah di dunia

Berdasarkan studi dari Central Connecticut State University bertajuk World's Most Literate Nations, Indonesia pernah berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca. Inilah alasan kuat mengapa Hari Buku Nasional terus digaungkan—sebagai pengingat bahwa kita masih memiliki "PR" besar untuk meningkatkan kebiasaan membaca.

Apa perbedaan Hari Buku Nasional dengan Hari Buku Sedunia?

Perbedaannya terletak pada tanggal dan latar belakang sejarahnya. Hari Buku Nasional diperingati setiap 17 Mei berdasarkan hari lahir Perpustakaan Nasional RI. Sementara Hari Buku Sedunia (World Book Day) dirayakan setiap 23 April oleh UNESCO untuk menghormati kematian tokoh sastra besar seperti William Shakespeare dan Miguel de Cervantes.

Mengapa angka penerbitan buku di Indonesia masih menjadi tantangan?

Faktanya, jumlah judul buku yang diterbitkan di Indonesia setiap tahunnya masih belum sebanding dengan jumlah populasi penduduk. Tantangan utamanya meliputi biaya distribusi yang mahal ke pelosok daerah, harga kertas yang fluktuatif, serta transformasi digital yang membuat banyak orang lebih memilih membaca konten singkat di media sosial daripada buku fisik.

Bagaimana peran Perpustakaan Nasional dalam mendukung Harbuknas?

Sebagai jantung dari peringatan ini, Perpusnas kini telah bertransformasi menyediakan layanan digital melalui aplikasi iPusnas. Fakta ini menunjukkan bahwa merayakan Hari Buku Nasional tidak lagi terbatas pada buku fisik, melainkan bisa dilakukan melalui akses ribuan e-book gratis secara legal di mana saja.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
Eddy Rusmanto
3+
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us

Related Articles

See More