Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Decision Laziness Makin Umum, 5 Pola Pikir Ini Jadi Pemicu
ilustrasi merasa malas (pexels.com/Karolina Grabowska)
  • Decision laziness adalah kecenderungan menghindari pengambilan keputusan, yang makin umum di tengah banjir informasi, rekomendasi, dan tuntutan serba cepat.
  • Ketergantungan pada rekomendasi, mengejar kecepatan, takut salah, serta mengikuti tren dapat menggeser keputusan dari kebutuhan dan prioritas pribadi.
  • Kelelahan mental mendorong pilihan otomatis atau menyerahkan keputusan; penyederhanaan cocok untuk hal kecil, sementara persoalan penting tetap perlu dipertimbangkan sadar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Decision laziness merupakan kecenderungan seseorang untuk menghindari proses pengambilan keputusan. Terutama ketika dihadapkan pada banyak pilihan dan pertimbangan. Fenomena ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan modern.

Apalagi di era perubahan informasi, rekomendasi, serta tuntutan untuk bergerak cepat. Tanpa disadari, perubahan cara berpikir turut membentuk kebiasaan menyerahkan keputusan kepada orang lain atau mengikuti pilihan yang dianggap paling mudah. Setidaknya, terdapat 5 pergeseran pola pikir yang membuat decision laziness semakin umum.

1. Dari mandiri menjadi bergantung pada rekomendasi

ilustrasi bersalaman (pexels.com/MART PEODUCTION)

Kemudahan memperoleh rekomendasi membuat seseorang tidak perlu selalu memulai pencarian dari nol. Ulasan pengguna, penilaian produk, dan saran kreator konten sering menjadi acuan sebelum menentukan pilihan. Kebiasaan ini memang membantu menghemat waktu, tetapi dapat mengurangi inisiatif untuk mempertimbangkan kebutuhan pribadi.

Ketika rekomendasi dianggap sebagai jawaban paling aman, proses berpikir mandiri perlahan tersisih. Seseorang mungkin memilih restoran, pakaian, bahkan jalur karier berdasarkan pengalaman orang lain tanpa mengevaluasi kecocokannya sendiri. Akibatnya, keputusan terasa lebih mudah diambil, tetapi belum tentu benar-benar mencerminkan prioritas pribadi.

2. Dari mengutamakan proses menjadi mengejar kecepatan

ilustrasi orang bekerja (pexels.com/Gustavo Fring)

Budaya serba cepat membentuk anggapan bahwa keputusan terbaik adalah keputusan yang segera dibuat. Respons cepat dianggap sebagai tanda produktivitas. Sedangkan pertimbangan panjang kerap dipersepsikan sebagai hambatan.

Pola pikir ini membuat sebagian orang memilih jalan pintas daripada memahami persoalan secara menyeluruh. Padahal, tidak semua keputusan memiliki tingkat risiko yang sama. Ketika kecepatan selalu menjadi prioritas, seseorang berisiko mengabaikan konsekuensi penting.

3. Dari menerima risiko menjadi menghindari kesalahan

ilustrasi berpikir (pexels.com/Anastasia Vragova)

Keinginan untuk menghasilkan keputusan sempurna dapat membuat seseorang justru enggan menentukan pilihan. Mereka terus mencari informasi tambahan, membandingkan alternatif, dan menunggu kepastian yang sulit diperoleh. Di balik kebiasaan tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa keputusan yang kurang tepat akan menimbulkan penyesalan.

Pergeseran pola pikir ini membuat ketidakpastian terasa seperti ancaman yang harus dihindari. Alih-alih menerima bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, seseorang memilih menunda atau meminta orang lain menentukan jawabannya. Padahal, kemampuan mengambil keputusan juga berkembang melalui pengalaman, evaluasi, dan keberanian memperbaiki kesalahan.

4. Dari memiliki preferensi menjadi mengikuti arus

ilustrasi mengikuti tren (pexels.com/Anna Shvets)

Arus informasi digital mempertemukan seseorang dengan berbagai tren, standar, dan pendapat dalam waktu singkat. Situasi ini dapat membuat preferensi pribadi terasa kurang meyakinkan dibandingkan pilihan yang sedang populer. Akibatnya, mengikuti mayoritas sering dianggap lebih praktis daripada menentukan sikap sendiri.

Kebiasaan tersebut terlihat ketika seseorang membeli barang karena sedang viral atau menyetujui pendapat kelompok tanpa memeriksa alasannya. Keputusan menjadi bergantung pada validasi eksternal. Jika berlangsung terus-menerus, seseorang dapat kehilangan kesempatan mengenali kebutuhan, nilai, dan batasan yang sebenarnya penting bagi dirinya.

5. Dari menimbang pilihan menjadi menghemat energi mental

ilustrasi berpikir (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Aktivitas sehari-hari menuntut banyak keputusan. Mulai dari mengatur jadwal hingga menyelesaikan pekerjaan. Ketika pikiran terasa penuh, seseorang cenderung mencari cara untuk mengurangi beban pertimbangan. Memilih opsi bawaan, mengulang kebiasaan lama, atau menyerahkan keputusan kepada orang lain pun terasa lebih nyaman.

Menghemat energi mental sebenarnya bukan kebiasaan buruk. Masalah muncul ketika strategi tersebut digunakan tanpa mempertimbangkan situasi. Keputusan sederhana memang dapat disederhanakan, tetapi persoalan penting tetap membutuhkan perhatian.

Decision laziness tidak selalu muncul karena seseorang enggan berpikir. Kebiasaan ini dapat terbentuk melalui perubahan prioritas, ketakutan terhadap kesalahan, dan lingkungan yang menawarkan kemudahan tanpa batas. Dengan mengenali pola pikir tersebut, seseorang dapat kembali mengambil keputusan secara sadar, sesuai kebutuhan, serta bertanggung jawab atas konsekuensinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article