Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Doomscrolling Politik Bikin Capek Emosional, Ini 4 Alasannya

Doomscrolling Politik Bikin Capek Emosional, Ini 4 Alasannya
ilustrasi doomscolling berita politik bikin capek emosional (pexels.com/kaboompics.com)
  • Doomscrolling berita politik dapat menguras emosi karena bias negativitas membuat otak memperlakukan konflik di layar sebagai ancaman, memicu stres fisik meski tubuh hanya diam.
  • Paparan judul sensasional terus-menerus bisa menjaga kortisol dan adrenalin tinggi, mengaktifkan respons lawan atau lari tanpa penyaluran fisik, sehingga memicu lelah dan insomnia.
  • Kebiasaan ini diperkuat ilusi kendali informasi dan overload kognitif: banyaknya berita politik membuat orang merasa harus terus memantau, tetapi berisiko merasa tak berdaya, sulit fokus, dan mudah lupa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Niatnya cuma ngecek timeline X atau TikTok sebentar, eh, malah kebablasan baca utas soal intrik politik sampai jam dua pagi? Jari rasanya otomatis terus scroll ke bawah mencari tahu drama elit mana lagi yang sedang memanas hari ini. Fenomena ini nyata, dan ternyata ada alasan doomscrolling berita politik bikin capek emosional yang bisa dijelaskan secara sains, lho.

Kalau kebiasaan ini gak segera kamu rem, pelan tapi pasti kesehatan mentalmu yang bakal jadi korban utamanya. Kamu mungkin mulai gampang burnout, uring-uringan tanpa sebab yang jelas, sampai kehilangan motivasi buat beraktivitas sehari-hari. Percaya, deh, menumpuk informasi negatif di otak terus-menerus itu ibarat memberikan racun ke pikiran kamu sendiri setiap hari. Nah, biar makin nyata proses racun doomscrolling ini bekerja, simak penjelasan berikut!


  1. 1. Otak manusia punya bias negativitas bawaan

    ilustrasi otak merasa lelah dengan berita politik saat ini
    ilustrasi otak merasa lelah dengan berita politik saat ini (pexels.com/kaboompics.com)

    Secara evolusioner, otak kamu memang didesain untuk lebih waspada terhadap ancaman daripada kabar bahagia. Fenomena ini dalam dunia psikologi sering disebut dengan istilah negativity bias atau bias negativitas. Ketika kamu melihat berita politik yang penuh intrik dan konflik, amigdala di otakmu langsung menyala ibarat alarm kebakaran. Nah, sistem saraf pusat menganggap informasi tersebut sebagai bahaya yang harus dipantau terus agar kamu bisa "bertahan hidup".

    Masalahnya, ancaman dari layar HP ini gak nyata secara fisik, tapi tubuhmu meresponsnya dengan memproduksi hormon stres, lho. Contohnya, saat kamu baca berita soal korupsi pejabat, jantungmu mungkin berdebar sedikit lebih cepat dan ototmu menegang. Ujung-ujungnya, energi kamu terkuras habis cuma buat duduk diam menatap layar sambil ngedumel dalam hati. Makanya, wajar kalau habis scroll panjang kamu malah merasa lemas kayak habis lari maraton, padahal raga rebahan di kasur.


  2. 2. Hormon kortisol dan adrenalin terus melonjak

    ilustrasi insomnia (unsplash.com/Kinga Cichewicz)
    ilustrasi insomnia (unsplash.com/Kinga Cichewicz)

    Setiap kali kamu membaca judul berita politik yang sensasional, tubuhmu secara otomatis melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini sebenarnya berguna banget kalau kamu sedang dikejar harimau di hutan atau butuh tenaga ekstra seketika. Namun, otak kesulitan membedakan antara ancaman fisik betulan dan ancaman eksistensial dari artikel berita di internet. Akibatnya, sistem respons fight or flight (lawan atau lari) kamu terus aktif tanpa ada penyaluran fisik.

    Bayangkan saja, mesin mobil yang terus-terusan digas penuh tapi rem tangan masih ditarik kencang. Mesinnya pasti panas dan lama-lama bisa jebol kalau gak segera dimatikan atau dijalankan semestinya, kan. Begitu juga dengan tubuh kamu yang dipaksa siaga terus gara-gara membaca drama koalisi partai yang gak ada habisnya. Gak heran kalau malamnya kamu malah insomnia, mata melek padahal badan sudah meronta-ronta minta istirahat.


  3. 3. Terjebak dalam ilusi kendali informasi

    ilustrasi merasa gak berdaya setelah membaca berita politik
    ilustrasi merasa gak berdaya setelah membaca berita politik (pexels.com/Anna Tarazevich)

    Salah satu alasan psikologis terbesar kenapa kamu sulit berhenti doomscrolling adalah adanya ilusi kendali. Secara bawah sadar, kamu merasa bahwa dengan mengetahui semua informasi terburuk, kamu jadi punya persiapan lebih matang menghadapi masa depan. Otak menipu diri sendiri dengan menganggap kegiatan membaca rentetan berita buruk ini sebagai bentuk kewaspadaan yang produktif. Padahal, kenyataannya kamu cuma menyerap informasi tanpa bisa melakukan perubahan apa pun terhadap situasi politik tersebut.

    Mengetahui semua detail keburukan sistem pemerintahan gak lantas bikin kamu jadi pahlawan yang bisa mengubah keadaan besok pagi, kok. Alih-alih merasa memegang kendali, kamu justru akan semakin dihantam oleh perasaan gak berdaya atau learned helplessness. Kamu jadi merasa dunia ini terlalu berantakan dan kontribusimu sekecil apa pun gak akan ada artinya. Mending energi itu kamu pakai buat mengerjakan tugas kuliah atau skincare-an, minimal muka jadi glowing walau dunia sedang pusing.


  4. 4. Overload kognitif membebani kapasitas otak

    ilustrasi otak merasa overload
    ilustrasi otak merasa overload (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Kapasitas memori kerja pada otak manusia sejatinya sangat terbatas dalam memproses informasi baru dalam satu waktu. Ketika melakukan doomscrolling, kamu membombardir otak dengan ribuan kata, opini, gambar, dan video hanya dalam hitungan menit. Kondisi ini memicu apa yang disebut sebagai cognitive overload atau kelebihan beban kognitif yang ekstrem. Otak jadi bekerja terlalu keras untuk menyaring, memahami, dan menyimpan semua data politik yang rumit dan emosional tersebut.

    Efek samping dari beban kognitif ini sangat nyata dalam keseharian, mulai dari susah fokus sampai gampang lupa hal-hal sepele. Pernah gak kamu masuk ke kamar niat mau ambil sesuatu, tapi malah bengong karena lupa tujuan awal gara-gara pikiran masih nempel di berita? Itu tanda jelas kalau RAM di otak kamu sudah kepenuhan dan butuh segera di-restart lewat detoks digital, lho. 

    Memahami alasan doomscrolling berita politik bikin capek emosional jadi langkah pertama yang hebat untuk mulai membatasi diri dari hal-hal yang menguras energi batinmu. Ingat, ya, peduli pada isu negara memang penting, tapi menjaga kewarasan diri sendiri jauh lebih krusial, lho. Tutup aplikasinya sekarang, tarik napas dalam-dalam, dan berikan pelukan hangat untuk dirimu sendiri karena kamu sudah bertahan sejauh ini!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More