Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Eco-Overconsumption: Jebakan Book Thrifting Berujung Impulsif!
ilustrasi memegang buku (pexels.com/ Denniz Futalan)
  • Book thrifting diminati karena hemat dan dianggap ramah lingkungan, tetapi dapat berubah menjadi eco-overconsumption ketika pembelian buku bekas melampaui kebutuhan.
  • Harga murah, stok langka, FOMO, dan konten book haul media sosial mendorong pembelian impulsif, termasuk buku yang belum tentu akan dibaca.
  • Keberlanjutan dalam book thrifting bergantung pada belanja sadar: memilih buku yang benar-benar ingin dibaca, membuat daftar, dan membatasi pembelian sesuai bacaan yang diselesaikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Book thrifting semakin diminati, terutama di kalangan anak muda yang gemar membaca. Berburu buku bekas dianggap sebagai cara yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan. Tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika berhasil menemukan novel langka, buku impor, atau edisi lama dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan membeli baru.

Di balik tren yang terlihat positif ini, ada satu fenomena yang mulai banyak dibicarakan, yaitu eco-overconsumption. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang membeli barang secara berlebihan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam konteks book thrifting, niat awal untuk mengurangi limbah justru bisa berubah menjadi kebiasaan membeli buku secara impulsif hanya karena murah, langka, atau takut kehabisan.

1. Harga murah sering membuat kamu merasa harus membeli

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Stanislav Kondratiev)

Salah satu daya tarik utama book thrifting adalah harganya yang murah dibandingkan buku baru. Novel yang biasanya dijual ratusan ribu rupiah bisa ditemukan dengan harga puluhan ribu rupiah. Melihat selisih harga tersebut, banyak orang langsung berpikir, "Kalau tidak dibeli sekarang, nanti rugi."

Padahal, harga murah tak selalu berarti kamu benar-benar membutuhkan buku tersebut. Fenomena FOMO ini terjadi karena otak lebih fokus pada kesempatan menghemat uang daripada mempertimbangkan apakah buku itu benar-benar akan dibaca atau tidak. Akhirnya, tanpa disadari kamu membawa pulang banyak buku, padahal sebelumnya hanya berniat mencari satu judul saja.

2. Takut kehabisan membuat belanja jadi impulsif

ilustrasi membaca buku (pexels.com/ furkanfdemir)

Berbeda dengan toko buku biasa, stok di toko buku bekas biasanya tidak bisa diprediksi. Satu buku mungkin hanya tersedia satu eksemplar, dan belum tentu akan muncul lagi dalam waktu dekat. Kamu merasa harus segera membeli karena khawatir kesempatan tersebut tidak akan datang dua kali.

Perasaan ini sebenarnya wajar. Namun, kalau terus diikuti tanpa berpikir panjang, keputusan membeli menjadi lebih didorong oleh rasa takut kehilangan daripada kebutuhan. Bahkan, ada orang yang membeli buku hanya karena edisinya langka, sampulnya menarik, atau sedang ramai dibicarakan di media sosial, bukan karena benar-benar ingin membacanya.

3. Book haul di media sosial bisa memicu keinginan belanja

ilustrasi online shopping (pexels.com/Negative Space)

Media sosial memiliki peran besar dalam mempopulerkan tren book thrifting. Konten tentang hasil berburu buku bekas, rekomendasi toko, hingga video transformasi rak buku terlihat menyenangkan. Masalahnya, semakin sering kamu melihat orang lain membeli banyak buku, semakin mudah muncul anggapan bahwa koleksi yang banyak adalah sesuatu yang ideal.

Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan jumlah koleksi sendiri dengan milik orang lain. Padahal, tujuan membaca bukanlah memiliki rak yang penuh, melainkan menikmati isi buku yang benar-benar kamu baca. Konten book haul memang bisa menjadi inspirasi, tapi penting untuk mengingat bahwa apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kebiasaan membaca seseorang secara keseluruhan.

4. Membeli barang bekas tetap bisa menjadi overconsumption

ilustrasi buku (pexels.com/Levent Simsek)

Ada anggapan bahwa selama membeli barang bekas, semua keputusan belanja pasti lebih ramah lingkungan. Kenyataannya, tidak sesederhana itu. Memperpanjang umur sebuah barang memang merupakan langkah yang baik. Namun, kalau jumlah barang yang dibeli jauh melebihi kebutuhan, dampaknya tetap bisa mengarah pada konsumsi berlebihan.

Buku yang terus menumpuk membutuhkan ruang penyimpanan, perawatan, dan pada akhirnya mungkin akan kembali dijual atau bahkan terlupakan. Artinya, konsep keberlanjutan bukan hanya soal memilih barang bekas, tapi juga tentang membeli secara sadar. Membeli satu buku yang benar-benar kamu baca hingga selesai sering kali lebih selaras dengan prinsip hidup berkelanjutan.

5. Jadikan book thrifting sebagai cara menemukan buku

ilustrasi memegang buku (pexels.com/ hayriyenur)

Book thrifting akan terasa lebih menyenangkan jika kamu memandangnya sebagai pengalaman. Kamu bisa menemukan bacaan yang tepat, bukannya perlombaan mengumpulkan koleksi sebanyak mungkin. Sebelum pergi berburu buku, coba buat daftar judul atau tema yang memang ingin kamu baca.

Daftar sederhana ini membantu mengurangi pembelian impulsif karena perhatianmu lebih terarah. Kamu juga bisa menerapkan aturan, misalnya hanya membeli buku baru setelah menyelesaikan beberapa buku yang sudah ada. Cara lain yang cukup efektif adalah bertanya pada diri sendiri sebelum membeli, "Kalau buku ini dijual dengan harga normal, apakah aku tetap ingin membacanya?"

Tren book thrifting bisa membawa banyak manfaat. Namun, di balik sisi positif tersebut, ada risiko eco-overconsumption yang perlu disadari. Dengan membeli buku yang benar-benar ingin kamu baca, kamu tak hanya menghemat uang, tapi juga menjaga semangat membaca tetap hidup.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article