Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Cara Bikin Travel Journal Simpel, Cukup 10 Menit Sehari

5 Cara Bikin Travel Journal Simpel, Cukup 10 Menit Sehari
ilustrasi cara membuat travel journal simpel (pexels.com/Pixabay)
Intinya Sih
  • Pilih media jurnal yang praktis dan nyaman, baik buku saku, binder, maupun aplikasi digital, agar pencatatan perjalanan tidak mengganggu aktivitas liburan.
  • Simpan memorabilia seperti tiket, kuitansi, atau brosur untuk ditempel sebagai dekorasi sekaligus pemicu nostalgia dan pengingat atmosfer destinasi.
  • Gunakan micro-journaling dengan detail pancaindra, lalu sisihkan 10 menit sebelum tidur untuk mencatat pengalaman harian secara santai dan konsisten.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Liburan seru bareng sirkel kesayangan atau solo traveling ke luar kota memang selalu sukses bikin kamu happy. Namun,i sadar gak, terkadang memori indah selama jalan-jalan terasa cepat pudar hanya dalam hitungan minggu? Padahal, mempelajari cara bikin travel journal simpel bisa jadi kunci utama biar setiap detik momen berharga kamu abadi selamanya.

Kalau kebiasaan cuma mengandalkan foto digital ini terus kamu biarkan, momen liburanmu cuma bakal berakhir jadi tumpukan file yang terlupakan, lho. Kamu bakal kehilangan kesempatan buat mindful journaling yang sebenarnya efektif mengurangi stres dan mengasah kreativitas. Tenang aja, kamu gak harus jadi seniman jago menggambar buat mulai mengabadikan cerita serumu, kok.


1. Tentukan media catat sesuai kenyamananmu

ilustrasi cara membuat travel journal simpel
ilustrasi cara membuat travel journal simpel (pexels.com/charan sai)

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah memilih media jurnal yang paling pas dengan gaya hidup serta kenyamanan kamu sehari-hari. Kamu bisa memakai buku catatan fisik dengan kertas polos, binder modular, atau memanfaatkan aplikasi digital di tablet dan ponsel. Pilih media yang gak bikin kamu merasa terbebani saat membawanya bepergian ke mana-mana selama liburan. Ingat, ya,  kepraktisan dalam proses mencatat tetap perlu kamu pikirkan tanpa merusak mood jalan-jalanmu.

Gak perlu langsung beli buku agenda mahal berbahan kulit sintetis kalau cuma berakhir bikin tas kamu makin berat, kok. Kalau kamu tipe orang yang serba praktis, aplikasi digital journaling seperti Notion atau GoodNotes jadi opsi paling efektif. Sementara buat kamu yang suka sentuhan analog vibe dan estetika scrapbook, buku berukuran A6 atau pocket size sudah sangat cukup, kok.


2. Kumpulkan memorabilia fisik selama perjalanan

ilustrasi mengumpulkan memorabilia unik selama perjalanan
ilustrasi mengumpulkan memorabilia unik selama perjalanan (pexels.com/Çağrı Kökçınar)

Jangan buru-buru membuang tiket transportasi, kuitansi kafe unik, hingga brosur destinasi wisata yang kamu dapatkan sepanjang hari. Benda-benda kecil ini memiliki nilai nostalgia tinggi yang bisa langsung menghidupkan kembali ingatan tentang atmosfer tempat yang kamu kunjungi. Kamu cukup menyediakan satu dompet kecil atau kantong khusus di tas untuk menampung semua perintilan fisik tersebut. Mengumpulkan memorabilia jadi metode paling instan untuk memberikan tekstur visual pada halaman jurnalmu.

Nanti saat sedang santai di hotel atau coffee shop, kamu tinggal menempelkan tiket-tiket tersebut memakai sedikit washi tape warna-warni. Benda sederhana seperti bungkus gula dari kafe lokal pun bisa jadi bahan dekorasi unik yang estetik, lho. Aktivitas menempel ini juga rasanya satisfying buat melepas lelah setelah seharian keliling kota, lho.


3. Terapkan teknik pencatatan micro-journaling

ilustrasi cara bikin travel journal
ilustrasi cara bikin travel journal (pexels.com/NMQ)

Guys, kamu gak dituntut buat menulis esai panjang berlembar-lembar ala novelis terkenal setiap kali selesai mengeksplorasi suatu tempat, kok. Terapkan teknik micro-journaling dengan hanya menuliskan poin-poin penting, bullet points, atau 3-5 kalimat singkat setiap harinya. Tuliskan hal-hal spesifik seperti aroma udara pagi di pegunungan, rasa makanan lokal yang unik, atau percakapan kocak dengan warga lokal. 

Metode micro-journaling ini memangkas beban mental akibat rasa malas atau hambatan menulis (writer's block) yang sering muncul saat kelelahan. Kamu bisa memanfaatkan waktu luang yang singkat, seperti duduk santai di dalam transportasi umum atau makan di kafe. Gak harus ribet, kok. Formatnya bisa sangat fleksibel, misalnya menulis "3 hal yang paling bikin happy hari ini" atau cukup satu kutipan lucu dari teman jalanmu. Cara ini singkat, padat, tapi secara psikologis sanggup merekam emosi yang dialami, lho.


4. Tambahkan elemen pancaindra dalam tulisan

ilustrasi menulis jurnal di kafe
ilustrasi menulis jurnal di kafe (pexels.com/Godwin Torres)

Agar jurnal perjalanan milikmu terasa lebih hidup dan gak membosankan saat dibaca ulang di masa depan, libatkan seluruh pancaindramu saat menulis, ya. Jangan hanya mendeskripsikan apa yang dilihat oleh mata, tetapi catat juga apa yang kamu dengar, cium, raba, dan rasakan. Gambarkan bagaimana hangatnya sinar matahari pagi menyentuh kulitmu atau deru suara ombak pantai yang menenangkan hati. Sentuhan detail sensorik seperti ini bakal bikin memori liburan kamu tersimpan jauh lebih kuat di memori.

Guys, proses melatih kepekaan pancaindra ini dalam dunia psikologi disebut sebagai latihan grounding atau mindfulness. Daripada cuma menulis "Hari ini ke pantai", coba ubah kalimatnya menjadi "Aroma asin menyengat, anginnya kencang bikin rambut acak-acakan, tapi es kelapa mudanya manis". Tulisan bergaya narasi sensorik begini dijamin bikin kamu senyum-senyum sendiri saat membacanya kembali beberapa tahun kemudian. Bonusnya, otak kamu jadi makin terlatih buat lebih peka dan mengapresiasi hal-hal kecil di sekitarmu, lho.


5. Luangkan waktu khusus 10 menit sebelum tidur

ilustrasi menulis jurnal sebelum tidur
ilustrasi menulis jurnal sebelum tidur (pexels.com/Polina)

Konsistensi menjadi kunci utama agar proyek jurnal perjalanan kamu gak berhenti di tengah jalan begitu saja. Alokasikan waktu singkat sekitar 10 menit saja di malam hari sebelum kamu benar-benar terlelap tidur untuk menyelesaikan catatan hari itu. Anggap sesi singkat ini sebagai ritual malam hari yang tenang untuk meredakan ketegangan otot setelah seharian aktif bergerak. Suasana kamar yang hening sangat mendukung kamu untuk melakukan refleksi diri secara lebih mendalam.

Jadikan sesi 10 menit ini sebagai momen self-care sederhana sembari menikmati segelas teh hangat atau mendengarkan musik favorit. Gak perlu merasa bersalah kalau ada hari yang terlewat tanpa catatan, cukup lanjutkan saja di hari berikutnya tanpa perlu merasa tertekan, ya. Kalau kamu merasa terlalu lelah, cukup tulis satu kalimat penutup yang paling menggambarkan perasaanmu seharian itu. Ingat, menjaga ritme menulis santai seperti ini jauh lebih baik daripada memaksa diri membuat halaman yang sempurna tapi malah bikin stres, lho.

Menerapkan cara bikin travel journal simpel sebenarnya bukan tentang seberapa estetik hiasan tulisanmu, melainkan tentang bagaimana kamu menghargai setiap detik perjalanan hidup. Jadi, yuk mulai siapkan buku jurnalmu sekarang dan abadikan setiap petualangan serumu sebelum memorinya pelan-pelan menghilang!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More