Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi baca buku (magnific.com/magnific)
  • Bookshaming muncul saat bacaan serius dianggap lebih bernilai, sementara novel populer, komik, romansa, fantasi, dan bacaan ringan dipandang rendah beserta pembacanya.
  • Daftar bacaan, genre, atau tingkat kesulitan buku kerap dijadikan simbol kecerdasan, padahal pemahaman dan refleksi pembaca tidak ditentukan oleh jumlah maupun jenis buku.
  • Sikap meremehkan pembaca pemula dan bacaan populer menciptakan hierarki literasi; kritik karya perlu dibedakan dari penghinaan terhadap selera serta pembacanya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Membaca sering dianggap sebagai aktivitas yang menunjukkan kecerdasan, wawasan, bahkan kualitas seseorang. Tidak mengherankan jika kemudian muncul anggapan bahwa ada bacaan yang lebih "berkelas" dibandingkan dengan yang lainnya. Novel populer, buku pengembangan diri, komik, hingga bacaan ringan pun kadang dipandang sebelah mata hanya karena tidak dianggap cukup serius.

Masalahnya, penilaian terhadap sebuah buku bisa bergeser menjadi penilaian terhadap orang yang membacanya. Ketika selera bacaan digunakan untuk menentukan siapa yang lebih pintar, berwawasan, atau layak disebut pembaca, bookshaming dapat menjadi bagian dari elitisme literasi. Berikut beberapa bentuk elitisme literasi yang muncul melalui bookshaming.

1. Menganggap hanya buku "serius" yang layak dibaca

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Nam Phong Bùi)

Salah satu bentuk elitisme literasi muncul ketika buku dengan tema tertentu dianggap lebih bernilai daripada bacaan lainnya. Karya sastra klasik, buku filsafat, sejarah, atau literatur akademis, misalnya, kerap ditempatkan sebagai bacaan yang "berbobot". Sementara itu, novel populer, romansa, fantasi, komik, atau cerita ringan dianggap kurang memberikan manfaat.

Padahal, setiap bacaan dapat memberikan pengalaman yang berbeda kepada pembacanya. Ada orang yang membaca untuk mendapatkan pengetahuan, sementara yang lain mungkin membaca untuk hiburan atau sekadar melepas penat. Kritik terhadap kualitas sebuah karya tentu tetap bisa dilakukan, tetapi tidak otomatis membuat orang yang menikmati bacaan tersebut menjadi kurang berwawasan.

2. Mengukur kecerdasan dari daftar buku yang dibaca

ilustrasi membaca buku di perpustakaan pribadi (pexels.com/cottonbro studio)

Daftar bacaan terkadang berubah menjadi semacam simbol status intelektual. Seseorang yang membaca banyak buku klasik atau karya penulis tertentu dianggap lebih pintar dibandingkan dengan mereka yang membaca judul-judul populer. Dari sini, reading list tidak lagi sekadar menunjukkan minat, tetapi digunakan untuk mengukur nilai seseorang.

Padahal, jumlah, genre, atau tingkat kesulitan buku yang dibaca tidak bisa menjadi ukuran tunggal kecerdasan seseorang. Orang yang hanya membaca beberapa buku tetapi benar-benar memahami dan merefleksikan isinya tidak otomatis kurang berwawasan dibandingkan dengan orang dengan rak buku yang jauh lebih panjang. Membaca seharusnya membuka ruang untuk berpikir, bukan menciptakan hierarki antarpembaca.

3. Meremehkan pembaca yang baru memulai

ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Elitisme juga dapat muncul ketika pembaca pemula diperlakukan seolah-olah belum cukup "pantas" berada dalam lingkungan literasi. Mereka bisa merasa malu ketika mengaku baru membaca buku yang sangat populer, belum mengenal karya klasik, atau masih kesulitan memahami bacaan tertentu.

Sikap seperti ini justru dapat menciptakan jarak antara orang yang sudah terbiasa membaca dan mereka yang baru mulai membangun kebiasaan tersebut. Padahal, setiap pembaca memiliki titik awal yang berbeda. Membaca satu novel populer hari ini tetap merupakan aktivitas membaca, meskipun seseorang belum pernah menyentuh karya sastra klasik sekalipun.

4. Menganggap bacaan populer tidak memiliki nilai

ilustrasi membaca buku (pexels.com/cottonbro studio)

Buku yang populer sering kali mendapat kritik hanya karena banyak orang menyukainya. Ada anggapan bahwa semakin mainstream sebuah bacaan, semakin kecil pula nilai intelektualnya. Akibatnya, pembaca dapat merasa perlu membuktikan bahwa mereka memiliki selera yang "lebih tinggi" dengan menjauhi karya yang sedang banyak dibaca.

Popularitas tentu bukan bukti bahwa sebuah buku pasti berkualitas. Namun, sebaliknya, popularitas juga tidak otomatis membuat sebuah karya tidak bermutu. Sebuah buku tetap dapat dikritik berdasarkan cerita, gaya bahasa, gagasan, atau eksekusinya tanpa harus merendahkan orang yang menikmatinya. Kritik terhadap karya dan penghinaan terhadap pembacanya merupakan dua hal yang berbeda.

5. Menjadikan selera bacaan sebagai identitas yang harus dipertahankan

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Cristian Benavides)

Terakhir, bentuk elitisme literasi yang muncul melalui bookshaming adalah ketika jenis buku tertentu dianggap lebih bergengsi, sebagian orang akhirnya merasa perlu mempertahankan citra sebagai "pembaca yang baik". Mereka mungkin merasa malu mengakui bahwa sesekali menikmati novel ringan, romance, young adult, atau bacaan populer karena khawatir dianggap tidak cukup intelektual.

Di sinilah membaca dapat berubah dari aktivitas personal menjadi performa sosial. Seseorang tidak lagi hanya membaca karena tertarik, tetapi juga memikirkan bagaimana pilihan bukunya akan dilihat orang lain. Padahal, memiliki selera yang beragam bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Seseorang bisa menikmati bacaan populer sekaligus tertarik pada karya yang lebih kompleks tanpa harus menjadikan salah satunya sebagai ukuran superioritas.

Membaca tidak seharusnya menjadi ajang untuk menentukan siapa yang paling berwawasan. Kritik terhadap buku tetap penting, tetapi tidak perlu berubah menjadi alasan untuk merendahkan pembacanya. Sebab, setiap orang punya cara, kebutuhan, dan perjalanan literasi yang berbeda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article