Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FOMO: Tren yang Bisa Bikin Boros, Ini Tanda Kamu Mengalaminya
Ilustrasi fomo (pexels.com/cottonbro studio)
  • FOMO muncul dari rasa takut tertinggal, tidak diterima lingkungan, dan khawatir terisolasi saat mengikuti tren.
  • Rasa takut ketinggalan dapat berkaitan dengan kecemasan sosial, perbandingan diri secara negatif, serta penggunaan media sosial yang adiktif.
  • FOMO juga dapat mendorong generasi muda membayar lebih mahal atau berutang untuk mengikuti tren, termasuk membeli tiket konser.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat ada tren baru, apakah kamu takut ketinggalan?
Vote Now
awal tahun 2000an

FOMO atau Fear of Missing Out menjadi istilah yang populer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat ada tren baru, apakah kamu takut ketinggalan?
Vote Now
  • What?
    FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut tertinggal yang dapat mendorong seseorang mengikuti tren.
  • Who?
    Seseorang yang mengalami FOMO, termasuk siswa SMA dan generasi muda, dapat terdorong mengikuti tren.
  • Where?
    Media sosial dan platform online menjadi tempat momen hidup serta tren dibagikan.
  • When?
    FOMO menjadi istilah yang populer di awal tahun 2000an.
  • Why?
    Rasa takut tertinggal, tidak diterima lingkungan, terisolasi, atau kehilangan kesempatan mendorong seseorang mengikuti tren.
  • How?
    FOMO dapat terlihat melalui perbandingan diri, penggunaan media sosial berlebihan, serta membayar lebih mahal atau berhutang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat ada tren baru, apakah kamu takut ketinggalan?
Vote Now

FOMO itu rasa takut ketinggalan hal seru yang orang lain lakukan. Orang yang merasakannya bisa sering melihat media sosial, ikut tren, dan membandingkan diri. Ada juga yang membeli barang atau tiket lebih mahal karena takut tidak mendapat kesempatan. Rasa ini membuat mereka cemas dan merasa tidak diterima.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Saat ada tren baru, apakah kamu takut ketinggalan?
Vote Now

Manusia kerap kali merasa khawatir menjalan hidup yang tidak bahagia. Perasaan takut tertinggal, tidak diterima oleh lingkungan, kekhawatiran akan terisolasi, inilah yang membuat seseorang kemudian mengikuti tren yang dihadirkan. Hal ini membuat FOMO atau Fear of Missing Out menjadi istilah yang populer di awal tahun 2000an.

Media sosial menawarkan kesempatan untuk membagikan momen hidup yang menyenangkan. Tren yang diciptakan melalui platform online ini kemudian memunculkan rasa takut atau kecemasan akan melewatkan momen seru yang sedang dialam orang lain. Lantas, apa saja tanda kamu mengalami FOMO?

1. FOMO bikin orang ikut-ikutan tren meski tidak menyukainya

ilustrasi FOMO (pexels.com/Alexandra Maria)

FOMO memiliki keterkaitan erat dengan kecemasan sosial. Melansir Psychology Today, bagi sebagian orang, FOMO dirasa sangat meresahkan yang memicu gejala fisik berupa kesedihan mendalam hingga respons stres. Selain itu orang yang teridentifikasi FOMO mulai membandingkan diri mereka dengan orang lain secara negatif dari berbagai sisi. Mereka merasakan kesusahan yang begitu dalam, terisolasi, putus asa bahkan memiliki nilai diri yang rendah.

Orang yang FOMO juga cenderung memiliki harga diri yang rendah. Sebab, kerap kali mereka mengadaptasi konsep diri berdasarkan perspektif atau pandangan orang lain. Tak ada nilai diri yang dibentuk secara autentik. Perasaan ini bisa muncul karena adanya asumsi negatif, trauma masa lalu karena kerap ditinggalkan, hingga pengalaman buruk lainnya. Orang yang kerap merasa FOMO sebaiknya memahami secara lebih mendalam perasaan dari masa lalu yang mungkin mememngaruhi keputusan-keputusannya.

Tak bisa memungkiri, sikap FOMO kerap membuat seseorang terdorong untuk mengikuti suatu tren, meski ia tak sepenuhnya menyukai tren tersebut. Alasannya, perasaan FOMO mendorong orang untuk melakukan sesuatu hanya supaya tidak merasa dikucilkan.

2. FOMO membuat seseorang kecanduan media sosial

ilustrasi fomo berlebihan (freepik.com/freepik)

Dalam sebuah jurnal berjudul "The fear of missing out and social media addiction" ditemukan bahwa ada hubungan positif antara rasa takut ketinggalan atau FOMO dengan kecanduan media sosial. Studi tersebut menunjukkan siswa dengan tingkat FoMO yang lebih tinggi lebih rentan untuk terlibat dalam perilaku adiktif akan penggunaan media sosial. Efeknya adalah perasaan cemas dan takut akan pengecualian dari lingkungan.

Studi yang dilakukan pada remaja SMA ini menemukan dampak dari penggunaan media sosial terhadap dorongan anak SMA untuk mengikuti tren tertentu karena dorongan akan rasa khawatir tertinggal. Akibatnya, para remaja juga menjadi individu yang kecanduan media sosial karena khawatir akan ketinggalan tren.

3. Rela membayar lebih, bahkan berhutang

ilustrasi FOMO mengikuti tren (Pexels.com/Andrea Piacquadio)

FOMO menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi generasi muda. Melansir Very Well Mind, Michael Kane, Kepala Medis di Indiana Revocery Center menyebutkan bahwa manusia memang cenderung memiliki keinginan untuk selalu terhubung. Jadi ketika merasa dikucilkan atau muncul perasaan penolakan, ketidakcukupan, bahkan kesepian, ia akan berusaha untuk menghindarinya.

"Sebagai makhluk sosial, manusia berkembang secara inklusif. Ketika kita merasakan pengucilan, baik itu nyata atau tidak nyata dirasakan, dapat memicu perasaan penolakan, ketidakcukupan, atau bahkan kesepian," ujarnya.

Rasa FOMO dapat mendorong generasi muda untuk membayar sesuatu lebih mahal. Misalnya tiket konser, item fashion, dan lain sebagainya. Disebutkan The New York Times, Gen Z bahkan rela berhutan untuk membeli tiket konser karena takut kehilangan kesempatan bertemu dengan idola mereka. Perilaku semacam ini mengindikasi sifat FOMO yang dapat membuat seseorang lebih boros.

Yuk, pilih cara kamu menghadapi tren

Saat ada tren baru, apakah kamu takut ketinggalan?

See More
Ya, saya takut ketinggalan
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
Tidak, saya memilih sesuai kebutuhan

Curated For You

Editorial Team

Related Article