“Kita sangat sensitif terhadap tanda-tanda diabaikan dan dikucilkan. Kita menangkap sinyal itu dengan sangat cepat dan sering kali tidak rasional,” ujar Kip D. Williams, PhD, psikolog sosial yang meneliti tentang ostracism, dikutip dari SELF.
Gak Diajak Nongkrong Bikin Overthinking? Ini Alasannya Menurut Psikolog

Pernah merasa langsung kepikiran saat tahu teman-teman nongkrong tanpa ngajak kamu? Meski terlihat sepele, situasi seperti ini memang bisa bikin hati gak nyaman seharian. Mulai dari sedih, minder, sampai mempertanyakan diri sendiri, semuanya bisa muncul dalam waktu bersamaan.
Apalagi sekarang hampir semua momen dibagikan lewat media sosial. Baru buka Instagram Story beberapa detik, eh ternyata circle pertemanan lagi kumpul bareng tanpa kamu. Gak heran kalau banyak orang akhirnya jadi overthinking, karena manusia pada dasarnya memang punya kebutuhan untuk merasa diterima dalam lingkungan sosialnya. Yuk, simak alasan lain kenapa gak diajak nongkrong bikin overthinking!
1. Otak manusia memang sensitif terhadap penolakan sosial

Manusia pada dasarnya punya kebutuhan untuk merasa diterima dalam lingkungan sosialnya. Karena itu, saat merasa ditinggalkan atau tidak dilibatkan, otak langsung memicu rasa sedih, cemas, dan overthinking. Akibatnya, banyak orang jadi menganggap dirinya dibenci atau tidak disukai, padahal belum tentu situasinya bersifat personal.
Menurut penelitian Dr. Williams, bahkan pengucilan kecil sekalipun bisa memicu rasa sakit emosional yang cukup besar. Menariknya lagi, rasa sakit sosial ini diproses otak dengan cara yang mirip seperti rasa sakit fisik.
“Ada bagian otak yang tumpang tindih antara rasa sakit fisik dan rasa sakit sosial,” kata Dr. Williams. “Kita menggunakan sistem saraf yang sama untuk mendeteksi dan merasakan keduanya.”
2. Media sosial bikin rasa tertinggal jadi makin besar

Kalau dulu seseorang mungkin baru tahu teman-temannya kumpul beberapa hari kemudian, sekarang semuanya bisa langsung terlihat lewat story media sosial. Hal ini tanpa sadar membuat rasa FOMO makin besar hingga banyak orang merasa sengaja ditinggalkan. Padahal menurut friendship expert Danielle Bayard Jackson, dikutip dari HuffPost, tidak semua situasi sosial berarti seseorang benar-benar dikucilkan.
Sebagian orang mungkin langsung menganggap teman yang tidak mengundang mereka sebagai “teman palsu” atau sengaja menyingkirkan mereka. Namun menurut Danielle, kenyataannya tidak selalu sesederhana itu. Ia mengatakan banyak orang di media sosial terlalu cepat menyalahkan pihak yang mengadakan acara.
Masalahnya, media sosial sering hanya memperlihatkan momen terbaik seseorang. Saat melihat orang lain terlihat bahagia tanpa kita, otak langsung membandingkan hidup sendiri dengan mereka hingga akhirnya muncul overthinking. Padahal, belum tentu acara tersebut sepenting atau seseru yang terlihat di media sosial.
3. Kita sering langsung menganggap semuanya personal

Salah satu penyebab overthinking terbesar adalah kebiasaan menghubungkan semua hal dengan diri sendiri. Saat gak diajak nongkrong, banyak orang otomatis merasa dirinya memang tidak diinginkan dalam circle tersebut. Padahal, belum tentu situasinya benar-benar personal.
Ada banyak alasan kenapa seseorang tidak mengajak semua temannya dalam satu acara, mulai dari rencana mendadak sampai circle yang berbeda. Banyak orang terlalu cepat menganggap dirinya sengaja disingkirkan, padahal tidak semua situasi sosial adalah bentuk penolakan. Karena itu, penting untuk membedakan antara fakta dan asumsi agar overthinking tidak membuat situasi terasa lebih buruk dari kenyataannya.
“Kadang alasannya memang soal logistik, kadang karena lupa, dan kadang mereka merasa sedang melakukan hal yang baik menurut versi mereka,” ujar Danielle Bayard Jackson.
4. Rasa gak diajak bisa memengaruhi harga diri

Meski terlihat sederhana, rasa gak diajak nongkrong bisa membuat seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. Ada yang jadi merasa kurang penting, kurang dekat, atau tidak cukup disukai dibanding anggota circle lainnya. Lama-kelamaan, perasaan seperti ini bisa memengaruhi kepercayaan diri.
“Pengucilan sosial bukan cuma bikin sedih sesaat. Situasi ini bisa membuat seseorang merasa tidak diterima, meragukan harga dirinya, sampai merasa dirinya tidak cukup berarti,” ujar Williams.
Apalagi kalau situasi serupa terjadi berulang kali, seseorang bisa mulai menarik diri karena takut ditolak lagi. Padahal, semakin mengisolasi diri, rasa kesepian justru bisa makin besar. Menurut para ahli, nilai seseorang tidak ditentukan dari seberapa sering dia diajak hangout, karena pertemanan yang sehat lebih dari sekadar selalu hadir di setiap acara.
5. Overthinking muncul karena kita jarang mendapat kepastian

Salah satu hal yang bikin overthinking makin parah adalah karena kita sering gak tahu alasan pastinya. Ketidakjelasan itu membuat otak otomatis mengisi kekosongan dengan berbagai kemungkinan buruk. Akibatnya, masalah kecil bisa terasa jauh lebih besar di kepala sendiri.
“Orang dengan kecemasan atau depresi biasanya lebih mudah terjebak dalam overthinking dan ruminasi, sehingga rasa sakit sosial terasa lebih berat dan bertahan lebih lama,” ujar Williams.
Daripada bertanya langsung, banyak orang memilih memendam rasa kecewa sambil membuat asumsi sendiri. Padahal, belum tentu teman-teman mereka sadar bahwa tindakannya membuat orang lain merasa tersinggung atau ditinggalkan. Situasi inilah yang sering membuat hubungan jadi canggung tanpa alasan yang benar-benar jelas.
6. Di balik overthinking, sebenarnya kita cuma ingin merasa diterima

Kalau dipikir-pikir, alasan utama kenapa gak diajak nongkrong terasa menyakitkan sebenarnya cukup sederhana, yaitu kita ingin merasa dianggap. Semua orang ingin merasa menjadi bagian dari kelompok dan punya tempat dalam hubungan sosialnya. Saat kebutuhan itu terganggu, rasa sedih jadi sulit dihindari.
Namun penting juga untuk diingat bahwa tidak semua circle harus selalu melibatkan semua orang setiap saat. Dinamika pertemanan memang berubah-ubah, dan itu bukan berarti hubunganmu otomatis buruk atau gagal. Kadang orang hanya punya kebutuhan sosial yang berbeda di waktu tertentu.
Pada akhirnya, gak diajak nongkrong bukan berarti kamu gak berharga atau gak penting dalam sebuah pertemanan. Kadang situasinya memang sesederhana itu, orang lain punya circle, kebutuhan, dan momen yang berbeda. Jadi daripada terus overthinking, lebih baik fokus pada hubungan yang memang bikin kamu merasa nyaman, diterima, dan dihargai.



















