Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Hal Perlu Diperhatikan sebelum Menerapkan Konsep Kantor Open Space
ilustrasi kerja sama tim (pexels.com/fauxels)
  • Penerapan kantor open space harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan, dengan ruang fokus seperti meeting kecil, phone booth, atau area tenang untuk tugas yang membutuhkan privasi.
  • Pengaturan akustik penting untuk mengurangi gangguan suara; panel akustik, karpet, elemen bertekstur, serta penempatan zona diskusi dapat menjaga konsentrasi karyawan.
  • Tata letak efisien dan kenyamanan karyawan—mencakup pencahayaan, sirkulasi udara, suhu, furnitur, serta masukan pengguna—menentukan fleksibilitas dan produktivitas ruang terbuka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Konsep kantor open space semakin banyak digunakan karena menawarkan ruang kerja yang lebih terbuka, fleksibel, dan mendorong interaksi antarkaryawan. Tidak adanya sekat permanen membuat ruangan terasa lebih luas sekaligus memudahkan komunikasi antaranggota tim. Namun, menerapkan konsep ini tidak cukup hanya dengan menghilangkan dinding atau pembatas meja.

Kantor open space juga perlu dirancang berdasarkan kebutuhan pekerjaan, karakter karyawan, serta tingkat kenyamanan selama bekerja. Jika tidak direncanakan dengan baik, ruang terbuka justru dapat menimbulkan distraksi, kebisingan, hingga berkurangnya privasi. Karena itu, ada beberapa hal penting yang sebaiknya diperhatikan sebelum mengadopsi konsep kantor ini.

1. Sesuaikan dengan jenis pekerjaan

ilustrasi kerja sama tim (pexels.com/Fauxels)

Hal pertama yang perlu dipertimbangkan adalah karakter pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Tidak semua pekerjaan cocok ditempatkan dalam ruang terbuka. Pekerjaan yang membutuhkan kolaborasi intensif dapat memperoleh manfaat dari open space karena karyawan lebih mudah berdiskusi dan bertukar ide.

Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi atau menangani informasi tertentu mungkin memerlukan area yang lebih tenang dan privat. Karena itu, desain open space sebaiknya tetap menyediakan ruang khusus untuk pekerjaan yang membutuhkan fokus. Seperti ruang meeting kecil, phone booth, atau area kerja tenang.

2. Perhatikan pengaturan akustik

ilustrasi bekerja di era digital (pexels.com/Ketut subiyanto)

Kebisingan menjadi salah satu tantangan utama dalam konsep kantor tanpa banyak sekat. Suara percakapan, telepon, langkah kaki, hingga aktivitas di sekitar meja dapat mengganggu konsentrasi jika tidak dikendalikan dengan baik.

Untuk mengatasinya, gunakan material yang mampu membantu meredam suara, seperti panel akustik, karpet, atau elemen interior bertekstur. Penempatan area diskusi dan ruang kerja juga perlu dipikirkan agar sumber suara tidak terkonsentrasi di satu titik. Dengan begitu, suasana tetap hidup tanpa membuat lingkungan kerja terasa terlalu bising.

3. Sediakan ruang untuk privasi

ilustrasi bekerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Open space bukan berarti seluruh aktivitas harus dilakukan dalam satu ruang terbuka. Karyawan tetap membutuhkan tempat untuk melakukan percakapan pribadi, mengikuti rapat daring, atau menyelesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi.

Sediakan beberapa area tertutup atau semi-tertutup yang dapat digunakan sesuai kebutuhan. Ruang meeting kecil, booth untuk panggilan, dan quiet room bisa menjadi pelengkap yang membuat konsep open space lebih fleksibel. Kehadiran ruang tersebut juga membantu karyawan memilih lingkungan kerja yang sesuai dengan aktivitasnya.

4. Atur tata letak secara efisien

ilustrasi lingkungan kerja solid (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Tata letak menjadi bagian penting karena menentukan bagaimana orang bergerak dan berinteraksi di dalam kantor. Penempatan meja yang terlalu rapat dapat membuat ruangan terasa penuh. Sedangkan jarak yang terlalu jauh dapat mengurangi kemudahan komunikasi.

Buat pembagian zona berdasarkan fungsi, misalnya area kolaborasi, meja kerja, ruang santai, dan area meeting. Jalur perpindahan juga perlu dibuat jelas agar aktivitas di satu area tidak mengganggu area lainnya. Tata letak yang terencana akan membuat ruang terbuka terasa lebih teratur dan nyaman.

5. Utamakan kenyamanan karyawan

ilustrasi mengembangkan skill terpendam (pexels.com/Yan Krukau)

keberhasilan konsep open space sangat bergantung pada kenyamanan orang yang menggunakannya. Pencahayaan, sirkulasi udara, suhu ruangan, kualitas furnitur, hingga posisi meja perlu diperhatikan agar lingkungan kerja mendukung aktivitas sehari-hari.

Sebaiknya, dengarkan pula masukan karyawan sebelum menentukan desain akhir. Setiap orang memiliki kebutuhan dan cara bekerja yang berbeda. Dengan mempertimbangkan berbagai masukan tersebut, konsep open space tidak hanya terlihat modern. Tetapi juga mampu menciptakan lingkungan kerja yang produktif, fleksibel, dan menyenangkan.

Menerapkan kantor open space membutuhkan perencanaan yang matang, bukan sekadar membuat ruangan tanpa sekat. Dengan memperhatikan jenis pekerjaan, akustik, privasi, tata letak, dan kenyamanan karyawan, ruang terbuka dapat memberikan manfaat maksimal tanpa mengorbankan kebutuhan individu. Hasil akhirnya adalah kantor yang lebih dinamis sekaligus tetap mendukung fokus dan produktivitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

EditorAgsa Tian

Related Article