Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Roehana Koeddoes Bukan Kartini Kedua, Ia Lebih Radikal

ilustrasi Roehana Koeddoes yang lebih radikal dari Kartini
ilustrasi Roehana Koeddoes yang lebih radikal dari Kartini (dok.YouTube/IDNTimes)
Intinya sih...
  • Roehana Koeddoes membangun media dan ekonomi perempuan
  • Ia tidak hanya menulis surat, tetapi juga mendirikan sekolah kerajinan Amai Setia untuk pemberdayaan ekonomi perempuan
  • Roehana lahir sebagai operator perubahan sosial yang mampu mengubah daya tawar perempuan di mata negara dan masyarakat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pada 6 Februari 2026, IDN Times telah merilis warta mengenai gelaran diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional & Pelopor Jurnalis Perempuan di Indonesia” yang menarik perhatian publik, termasuk oleh Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang menyoroti tantangan perempuan di dunia jurnalistik hingga kini. Acara yang digelar di Jakarta tersebut menjadi momen untuk menyaksikan kembali wajah-wajah Roehana— bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai inspirasi hidup yang menyulut semangat perempuan untuk berbicara, menulis, dan berkarya nyata di ruang publik.

Di Indonesia sendiri, nama Roehana Koeddoes sering dipayungi dalam bayang-bayang Kartini; pejuang pendidikan dan hak perempuan. Padahal, konteks perjuangan Roehana justru lebih tajam dan radikal. Ia bukan sekadar “penulis surat”, ia membangun ruang sosial baru bagi perempuan lewat media dan ekonomi. Narasi sejarah kolonial yang dominan jawasentris sering kali mereduksi tokoh perempuan lain ke dalam kerangka yang sama. Padahal latar sosial dan strateginya berbeda jauh, khususnya dari Minangkabau, sebuah wilayah dengan kultur matrilineal yang kompleks dan kontradiktif.

Lewat surat kabar, sekolah, dan jaringan perempuan yang dibangunnya, Roehana bukan hanya “membicarakan” emansipasi, ia membentuk infrastrukur sosial yang nyata untuk menjadikan perempuan bukan sekadar subjek perdebatan, tetapi aktor aktif perubahan. Ketika Kartini memproduksi esai dan korespondensi untuk kalangan tertentu, Roehana mengaktifkan komunitas melalui tulisan yang bersifat publik dan lembaga yang menyentuh kehidupan perempuan biasa di Minangkabau. Ini bukan lagi sekadar kesamaan tujuan; ini adalah strategi perlawanan sosial yang berimplikasi panjang. Yuk, kita telisik lebih jauh dan dalam lagi mengenai sosok hebat Roehana Koeddoes ini!

1. Tidak hanya menulis surat, ia membangun media

ilustrasi Roehana Koeddoes yang menulis sekaligus membangun media
ilustrasi Roehana Koeddoes yang menulis sekaligus membangun media (dok.YouTube/IDNTimes)

Bagi banyak orang, perjuangan perempuan masa kolonial sering disamakan dengan surat-surat emosional tentang aspirasi. Namun, Roehana menolak itu. Ia memilih menjadi pionir; menulis untuk Poetri Hindia, surat kabar perempuan pertama di Batavia. Karyanya bukan semata sebagai individu. Lebih lanjut, ia berdiri kokoh sebagai perempuan sekaligus pemimpin redaksi koran yang organisasi dan keberlangsungannya begitu nyata, yakni Soenting Melajoe. Berdiri sejak 10 Juli 1912. Surat kabar tersebut merupakan salah satu media yang diprakarsai dan dipimpin oleh perempuan, bukan sekadar memuat tulisan perempuan di koran laki-laki.

Kanal YouTube IDNTimes juga turut melansir bahwa Soenting Melajoe mengusung isu-isu kompleks. Bukan hanya pendidikan, tetapi kritik adat yang tidak adil dan diskursus gender yang progresif pada zamannya dan dibuat oleh perempuan untuk perempuan, menjadikannya alat politik emansipasi konkret bukan romantisasi ideal. Perbedaannya dengan model perjuangan “kelas menengah” seperti Kartini terasa jelas dan nyata.

Jika Kartini memproduksi korespondensi untuk kalangan elit Eropa, Roehana melempar gagasannya ke pasar, ke jalanan, dan ke tangan perempuan biasa. Ia membangun media sebagai ruang perwakilan di tengah dominasi pers patriarki kolonial yang saat itu sangat kaku.

2. Tidak hanya mendidik, ia membangun sistem ekonomi perempuan

ilustrasi Roehana Koeddoes yang membangun sistem ekonomi perempuan
ilustrasi Roehana Koeddoes yang membangun sistem ekonomi perempuan (dok.YouTube/IDNTimes)

Jurnalistik bagi Roehana bukan sekadar tulisan; ia menjadikannya bagian dari misi pemberdayaan perempuan. Pada 11 Februari 1911; jauh sebelum istilah women empowerment viral; Roehana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang, bukan sekadar sekolah yang mengajarkan keterampilan rumah tangga, tetapi juga pemberdayaan ekonomi perempuan. Dikutip dari artikel news IDN Times, Yayasan Amai Setia turut menjadi infrastruktur emansipasi yang nyata. Bukan hanya memerdekakan pikiran tetapi juga menghadirkan kemandirian ekonomi lewat keterampilan yang diajarkan. Dari sanalah perempuan bisa belajar membaca, menulis, berhitung, serta menerapkan keterampilan mereka dalam koperasi simpan pinjam dan sistem hasil produksi yang dapat dijual untuk pemasukan keluarga.

Strategi ini jelas menggeser wacana emansipasi dari sekadar simbol kesetaraan formal menuju praktik kemandirian ekonomi. Alih-alih “bermimpi persamaan hak”, Roehana memfasilitasi perempuan dengan modal sosial dan ekonomi supaya mereka dapat berdiri sendiri dan berpartisipasi dalam dunia ekonomi yang selama itu dikuasai laki-laki. Ini menunjukkan kecerdasan strategisnya; yakni pendidikan yang dibangun tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menembus struktur ekonomi masyarakat.

Tentu saja hal tersebut bukan tanpa halangan. Dikutip dari siaran YouTube IDN Times, Roehana Koeddoes bahkan sempat dituduh menggelapkan keuangan Yayasan Amai Setia. Hingga mengharuskan beliau untuk menjalani sidang di peradilan negara. Namun, hal tersebut tak menyurutkan langkah Roehana untuk mengubah harkat dan martabat perempuan di Indonesia.

3. Tidak hanya simbol, ia operator perubahan sosial

ilustrasi Roehana Koeddoes yang jadi operator perubahan sosial
ilustrasi Roehana Koeddoes yang jadi operator perubahan sosial (dok.YouTube/IDNTimes)

Roehana lahir di Koto Gadang pada 20 Desember 1884. Berada di tengah masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal ternyata tidak membuat jalannya mulus. Justru di sanalah ia menemui tantangan unik. Sebuah sistem yang memuliakan perempuan dalam garis keturunan, tapi tetap membatasi akses mereka di ruang publik dan pendidikan formal.

Roehana tidak melawan tantangan ini dengan puisi atau surat pribadi yang melankolis. Ia menghadapinya dengan aksi lapangan. Keberaniannya bahkan melampaui batas geografis; ia berpindah-pindah kota, dari Koto Gadang, Bukittinggi, hingga Medan, demi terus menghidupkan api jurnalisme perempuan.

Pengakuannya sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2019 oleh Presiden Joko Widodo bukan sekadar “pemberian gelar” formalitas. Itu adalah validasi bahwa Roehana merupakan seorang political agency, operator perubahan yang mampu mengubah daya tawar perempuan di mata negara dan masyarakat.

4. Mengapa kita harus berhenti menyebutnya Kartini dari Minang?

ilustrasi Roehana Koeddoes yang bukan Kartin dari Minang
ilustrasi Roehana Koeddoes yang bukan Kartin dari Minang (dok.YouTube/IDNTimes)

Menyebut Roehana sebagai “Kartini Kedua” sebenarnya mereduksi keunikan strateginya. Kalau Kartini adalah tentang “Ide dan Visi”, maka Roehana adalah tentang “Eksekusi dan Infrastruktur”. Kartini berjuang melalui pemikiran yang visioner, sementara Roehana membangun sistem yang membuat visi itu bisa dijalankan secara massal.

Strategi Roehana lebih radikal karena bersifat struktural. Ia menciptakan lapangan kerja, mendirikan perusahaan media, bahkan membangun sistem pendidikan berbasis kemandirian. Ia membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi pemimpin redaksi, pengusaha, sekaligus pendidik dalam satu waktu.

Kalau Kartini berbicara tentang cita-cita perempuan, Roehana membangun sistem yang membuat cita-cita itu bisa dijalankan. Ia bukan sekadar representasi perlawanan alternatif terhadap patriarki, tetapi seorang operator sosial yang menciptakan ruang nyata bagi perempuan untuk berbicara, belajar, dan berusaha. Strateginya lebih radikal karena struktural dan bukan hanya retoris.

Dengan menempatkan Roehana di luar narasi “Kartini kedua”, kita tidak merendahkan Kartini, melainkan memberi tempat yang tepat bagi kedua perempuan besar itu dalam peta sejarah Indonesia. Pertama sebagai ide dan korespondensi, dan kedua sebagai media dan agen perubahan sosial. Lantas, ketika dunia media modern masih berjuang mengatasi keterwakilan perempuan, warisan Roehana tetap terasa. Bukan sebagai sekadar nama di Google Doodle, tetapi sebagai prakondisi bagi perempuan untuk terus mengambil ruang di media dan masyarakat.

Referensi:

Christiyanto, N. A. (2023). Peranan Rohana Kudus dalam pendidikan perempuan di Minangkabau 1911—1972. Dalam Sejarah tokoh dan pelaksanaan pendidikan perempuan di Indonesia (hlm. 49—60). Penerbit Lakeisha. (Diakses Februari 2026).
IBCWE. (2023). Perempuan di dunia jurnalistik. (Diakses Februari 2026).
Wisesa, Y. D. B. (2026). Kenang Roehana Koeddoes, Menkomdigi soroti minimnya jurnalis perempuan. IDN Times. (Diakses Februari 2026).
Wisesa, Y. D. B. (2026). Amai Setia: Roehana Koeddoes lahirkan infrastruktur emansipasi perempuan. IDN Times. (Diakses Februari 2026).
Zarawaki, N. (2026). Roehana Koeddoes, suara perempuan yang bertumbuh dan berdaya. IDN Times. (Diakses Februari 2026).
Bincang Perempuan. (2021). Roehana Koeddoes, Google Doodle hari ini. (Diakses Februari 2026).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Rutinitas Power Nap di Kantor yang Gak Bikin Kamu Kelihatan Pemalas

12 Feb 2026, 13:31 WIBLife