Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Saja Bedanya Hidup Layak dan Sekadar Bertahan Hidup?

6 min read
Apa Saja Bedanya Hidup Layak dan Sekadar Bertahan Hidup?
ilustrasi bertahan hidup (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Hidup layak berarti punya ruang mengikuti kegiatan sosial atau menikmati hasil kerja tanpa pengeluaran kecil langsung mengganggu kebutuhan hingga akhir bulan.
  • Kondisi keuangan yang lebih aman memberi kemampuan menolak tuntutan kerja berlebihan dan menetapkan batas bantuan keluarga tanpa takut kebutuhan dasar terganggu.
  • Sekadar bertahan terjadi ketika seluruh penghasilan habis untuk kebutuhan saat ini, sehingga pelatihan, pendidikan, perubahan kerja, dan rencana masa depan terus tertunda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah kamu pernah ikut tertawa saat teman kantor ramai-ramai membicarakan rencana liburan, padahal dalam hati sudah tahu kamu gak mungkin ikut? Bukan karena gak tertarik, gak punya waktu, atau lebih suka di rumah, melainkan karena uang yang harus dikeluarkan bakal mengganggu anggaran sampai akhir bulan. Kamu akhirnya bilang, "Lihat nanti, ya," meski sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Hal seperti ini sering gak terlihat oleh orang lain. Kamu tetap bekerja, membalas pesan di grup, datang ke acara keluarga, bahkan sesekali membeli sesuatu yang kamu suka. Dari luar, hidupmu tampak berjalan seperti biasa. Namun, banyak keputusan yang sebenarnya bukan soal apa yang kamu inginkan, melainkan apa yang masih sanggup kamu tanggung. Lantas, kapan seseorang bisa dibilang hidup layak, dan kapan ia sebenarnya cuma berusaha menjaga agar hidupnya gak berantakan? Kemudian, seperti apa bedanya hidup layak dan sekadar bertahan hidup?

  1. 1. Bisa ikut kegiatan tanpa harus menghitung dampaknya sampai akhir bulan

    ilustrasi warung bakso
    ilustrasi warung bakso (unsplash.com/Inna Safa)

    Teman-teman mengajak makan setelah jam kerja. Tempatnya bukan restoran mewah, hanya tempat makan yang sedang ramai dibicarakan dan harga satu porsinya masih terjangkau. Kamu ingin ikut karena sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama mereka. Namun, begitu menghitung ongkos pulang, harga makanan, dan kebutuhan yang harus dibeli besok, kamu mulai mencari alasan untuk pulang duluan. Uang yang dikeluarkan memang gak seberapa bagi sebagian orang, tetapi buatmu, pengeluaran kecil yang berulang bisa mengubah kondisi keuangan sampai gajian.

    Tentu, hidup layak bukan berarti harus selalu ikut nongkrong atau mengiyakan semua ajakan. Kamu tetap boleh memilih untuk tinggal di rumah karena memang ingin beristirahat. Bedanya, kamu punya kesempatan untuk ikut ketika ingin, bukan terus-menerus menolak karena gak punya uang. Kamu juga gak harus merasa bersalah setelah sesekali mengeluarkan uang untuk bersenang-senang. Sebab, kehidupan sehari-hari bukan hanya tentang memastikan semua tagihan lunas, tetapi juga tentang punya kesempatan menikmati hasil kerja sendiri.

  2. 2. Bisa menolak permintaan tanpa langsung takut kehilangan penghasilan

    ilustrasi menolak permintaan
    ilustrasi menolak permintaan (pexels.com/SHVETS production)

    Di tempat kerja, kamu sering diminta menyelesaikan tugas tambahan yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu. Rekan lain bisa menolak karena sudah punya pekerjaan sendiri, tetapi kamu memilih mengiyakan meskipun harus pulang lebih malam. Kamu ingin protes, apalagi ketika tugas itu terus diberikan tanpa tambahan bayaran. Namun, kamu khawatir dianggap sulit diajak bekerja sama, mendapat penilaian buruk, atau kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan utama.

    Ketika uang tabungan cukup untuk menanggung kebutuhan selama beberapa waktu, seseorang biasanya memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan pilihan pekerjaan. Ia bisa mencari lowongan lain sambil tetap bekerja atau menolak permintaan yang sudah melewati batas. Sebaliknya, jika kehilangan penghasilan selama satu bulan saja bisa membuat pembayaran kontrakan atau kebutuhan keluarga terganggu, bertahan di lingkungan kerja yang buruk mungkin terasa sebagai satu-satunya pilihan. Inilah salah satu hal yang sering luput saat orang membicarakan hidup layak: bukan cuma berapa uang yang diterima, tetapi seberapa jauh kondisi keuangan membatasi kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan.

  3. 3. Gak harus selalu menjadi orang yang mengalah dalam keluarga

    ilustrasi mengalah
    ilustrasi mengalah (pexels.com/Budgeron Bach)

    Ketika keluarga mengadakan acara, kamu sering diminta membantu biaya konsumsi, membelikan sesuatu untuk orang tua, atau menanggung ongkos saudara yang datang dari luar kota. Kamu sebenarnya punya kebutuhan sendiri, tetapi sulit menjelaskan bahwa uangmu juga terbatas. Apalagi kalau selama ini kamu dikenal sebagai orang yang sudah bekerja dan dianggap lebih mampu dibandingkan dengan anggota keluarga lain. Akhirnya, kamu tetap mengirim uang atau mengambil bagian dalam pengeluaran bersama, lalu mengurangi kebutuhanmu sendiri agar semuanya cukup.

    Membantu keluarga tentu bukan hal buruk. Namun, bantuan yang diberikan seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus mengabaikan kebutuhan dasarnya sendiri. Kamu perlu bisa mengatakan bahwa bulan ini belum sanggup membantu dalam jumlah tertentu tanpa langsung merasa menjadi anak, saudara, atau anggota keluarga yang gagal. Hidup layak bukan berarti bebas dari tanggung jawab terhadap orang lain, melainkan punya kemampuan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut tanpa selalu mengorbankan diri. Kalau setiap kebutuhan keluarga harus dipenuhi dengan mengorbankan kebutuhanmu sendiri, pembagian tanggung jawab itu patut dibicarakan kembali.

  4. 4. Bisa memikirkan masa depan tanpa merasa sedang mengabaikan kebutuhan hari ini

    ilustrasi memikirkan masa depan
    ilustrasi memikirkan masa depan (pexels.com/Kaboompics.com)

    Kamu ingin mengambil sertifikasi untuk melamar pekerjaan dengan gaji lebih baik. Sudah mencari tahu biaya kursusnya, membaca pengalaman peserta lain, dan membayangkan pekerjaan yang mungkin bisa didapat setelah selesai. Namun, ketika melihat penghasilan dan pengeluaran bulanan, rencana itu kembali masuk daftar nanti. Uang untuk kursus harus bersaing dengan biaya makan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan lain yang gak bisa ditunda. Bulan berikutnya, kamu kembali berniat mendaftar, tetapi situasinya belum banyak berubah.

    Kalau hal seperti ini terjadi bertahun-tahun, seseorang bisa terus berada dalam pekerjaan yang sama bukan karena gak mau berkembang, melainkan karena gak punya cukup ruang untuk mempersiapkan perubahan. Mengikuti pelatihan, melanjutkan pendidikan, pindah tempat tinggal demi pekerjaan, atau mencoba usaha kecil membutuhkan biaya dan kadang juga waktu. Semua itu sulit dilakukan ketika seluruh penghasilan hanya cukup untuk mempertahankan keadaan sekarang. Hidup layak memberi seseorang kesempatan untuk merencanakan langkah berikutnya, bukan sekadar berharap keadaan akan membaik tanpa punya sumber daya untuk mengubahnya.

  5. 5. Bisa menikmati hasil kerja tanpa merasa bersalah, terutama untuk diri sendiri

    ilustrasi membeli baju baru
    ilustrasi membeli baju baru (pexels.com/Ksenia Chernaya)

    Setelah berbulan-bulan bekerja, kamu ingin membeli pakaian yang memang disukai, memperbarui hobi, atau mendaftar kelas yang sudah lama ingin dicoba. Kamu sudah memperhitungkan harganya dan sebenarnya mampu membelinya. Namun, begitu transaksi selesai, muncul pikiran bahwa uang itu seharusnya bisa disimpan, diberikan kepada orang tua, atau digunakan untuk kebutuhan lain. Akhirnya, barang yang dibeli pun gak benar-benar dinikmati karena kamu terus merasa bersalah.

    Berhati-hati dalam menggunakan uang memang penting, terutama jika penghasilan terbatas. Akan tetapi, kalau setiap pengeluaran untuk diri sendiri selalu terasa seperti kesalahan, bahkan ketika kebutuhan utama sudah terpenuhi, hubungan seseorang dengan uang bisa menjadi sangat melelahkan. Bukan berarti semua keinginan harus dituruti atau setiap orang wajib punya anggaran hiburan yang besar. Terpenting, seseorang punya ruang untuk menikmati hal yang disukai tanpa harus merasa sedang melakukan sesuatu yang tidak pantas. Bekerja bukan cuma supaya kebutuhan tetap terpenuhi, tetapi juga supaya ada bagian dari hidup yang bisa dinikmati setelah semua pekerjaan selesai.

    Melihat bedanya hidup layak dan sekadar bertahan hidup tidak bisa diukur dengan rumah yang bagus, kendaraan yang mahal, atau seberapa sering seseorang pergi berlibur. Seseorang bisa saja bekerja setiap hari dan memenuhi kebutuhan pokok, tetapi tetap merasa hidupnya tidak bergerak ke mana-mana karena hampir semua pilihannya dibatasi oleh keadaan keuangan. Menurutmu, apakah seseorang sudah bisa disebut hidup layak hanya karena mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun ia hampir gak punya kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More