Punya pekerjaan, menerima gaji setiap bulan, dan masih bisa makan sampai akhir bulan sering dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah hidup layak. Padahal, kondisi seseorang tidak bisa dinilai hanya dari apakah ia masih mampu memenuhi kebutuhan hari ini. Ada orang yang tetap masuk kerja setiap hari, tetapi terpaksa harus berutang untuk membayar kontrakan, mengurangi porsi makan agar uangnya cukup, bahkan rela menunda berobat karena tak punya dana. Dari luar, kehidupannya mungkin terlihat baik-baik saja, meski sebenarnya banyak kebutuhan dasar yang belum terpenuhi.
Masalahnya, kita kadang terlalu terbiasa melihat kesulitan semacam itu sebagai bagian normal dari kehidupan. Selama masih bisa bertahan, keadaan dianggap cukup, sekalipun seseorang tidak punya waktu istirahat, tempat tinggal yang aman, atau uang untuk menghadapi pengeluaran tak terduga. Padahal, hidup layak bukan sekadar soal memiliki pekerjaan atau tidak jatuh miskin. Ada sejumlah kebutuhan konkret yang menentukan apakah seseorang benar-benar bisa menjalani hidup dengan aman dan bermartabat.
