Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
exclusive interview Ivan Gunawan bersama IDN Times pada kamis (16/7/2026) di Ivan Gunawan Boutique Kemang, Jakarta Selatan (IDN Times/Fadila Nurul Aziziyah)
  • Ivan Gunawan menilai batik berpotensi menjadi tren fashion untuk pesta, red carpet, dan gala dinner, bukan hanya busana kerja atau acara formal.
  • Ia membuat motif batik versi print dengan pattern, inisial, dan aksen tambahan agar produk lebih wearable serta harganya lebih terjangkau bagi masyarakat.
  • Menurut Ivan, modernisasi desain dan akses harga batik mendukung pelestarian wastra, termasuk batik, tenun, dan songket, sebagai identitas budaya Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Fashion designer sekaligus publik figur, Ivan Gunawan, membagikan pandangannya mengenai potensi besar wastra Indonesia, khususnya batik, dalam dunia fashion. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap batik sebagai pakaian yang kaku dan hanya cocok dikenakan untuk acara formal atau seremonial.

Melalui exclusive interview bersama IDN Times di Ivan Gunawan Boutique, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (16/7/2026), pria yang akrab disapa Igun itu mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah citra batik menjadi fashion yang bisa dikenakan dalam berbagai occasion. Mulai dari pesta, red carpet, hingga gala dinner, menurutnya batik memiliki potensi untuk tampil lebih modern dan relevan. Simak penjelasan lengkapnya!

1. Batik bukan fashion yang kaku

Koleksi fashion milik Ivan Gunawan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Masih banyak masyarakat yang menganggap batik hanya cocok dikenakan saat bekerja atau menghadiri acara formal. Padahal, menurut Ivan Gunawan, batik memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari tren fashion yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Igun menilai batik memiliki pasar yang luas karena mudah ditemukan di berbagai segmen, mulai dari kelas menengah hingga premium. Hal tersebut menjadi peluang agar semakin banyak masyarakat menjadikan batik sebagai pilihan busana untuk berbagai occasion.

"Karena image batik yang seperti itu, dipakai untuk kerja, hanya sebatas itu. Tapi, batik sebenarnya bisa dipakai ke pesta, batik bisa dipakai ke red carpet, dan di event-event gala. Kenapa enggak?" ungkap Igun.

Baginya, mengubah stigma tersebut menjadi tantangan tersendiri. Ia ingin menghadirkan batik yang lebih modern dan wearable tanpa menghilangkan nilai budaya yang dimilikinya. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi memandang batik sebagai pakaian yang hanya dikenakan pada momen-momen tertentu.

2. Cara Ivan Gunawan mengubah batik menjadi wearable

Koleksi fashion milik Ivan Gunawan (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Menurut Igun, harga kain batik asli yang cukup tinggi sering kali membuat produk akhirnya juga memiliki harga yang tidak terjangkau bagi sebagian masyarakat. Karena itu, ia mencari cara agar motif batik tetap dapat dinikmati dengan harga yang lebih ramah di kantong.

"Kak Igun bikin motif batik itu di-print, pattern itu aku ubah. Aku tambahkan inisial, menambahkan beberapa aksen yang cantik-cantik, sehingga harganya menjadi wearable. Jadi, itu adalah salah satu cara yang aku buat agar masyarakat bisa dapetin motif batik yang kak Igun lagi bikin," jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Igun berharap masyarakat tetap bisa mengenakan busana bermotif batik tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar. Baginya, menghadirkan batik yang lebih terjangkau menjadi salah satu langkah untuk memperluas penggunaannya di kalangan masyarakat

3. Batik jadi bagian dari identitas bangsa yang perlu terus dilestarikan

Potret Ivan Gunawan dengan koleksi fashion terbarunya (IDN Times/Nisa Zarawaki)

Keinginan Igun menjadikan batik sebagai fashion untuk berbagai occasion tidak hanya bertujuan mengikuti tren, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga eksistensi wastra Indonesia. Menurutnya, batik merupakan bagian dari identitas bangsa yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi masa kini.

"Wastra adalah identitas yang perlu dilestarikan karena punya value yang dalam. Bahkan, orang zaman dulu menjadikan batik sebagai barang investasi seharga emas," tambahnya.

Bagi Igun, kekayaan budaya seperti batik, tenun, dan songket perlu terus dijaga agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Salah satu caranya adalah dengan membuat batik semakin dekat dengan kehidupan masyarakat melalui desain yang lebih modern, harga terjangkau, dan dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Dengan begitu, batik tidak hanya dikenal sebagai busana untuk acara formal, tetapi juga tetap hidup sebagai identitas budaya Indonesia yang mampu berkembang mengikuti tren fashion.

Curated For You

Editorial Team

Related Article