“Masing-masing peserta membawa karya terbaik mereka dan berhasil menerjemahkan tema Strength & Resilience melalui pengalaman dan perspektif yang berbeda. Setiap karya menunjukkan pendekatan artistik dan cerita yang beragam, yang memperlihatkan kekayaan perspektif seniman dari ketiga negara,” kata Abigail Hakim, kolektor seni sekaligus dewan juri MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026.
Kain dan Debu Antar 2 Seniman Indonesia Menangkan Kompetisi Seni

MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 mengangkat tema “Strength & Resilience” dan mempertemukan seniman dari Indonesia, Malaysia, serta Thailand.
Veronica Liana memenangkan Grand Prize kategori Umum lewat Rupa Tan Mantra berbahan kain dan dakron.
Muhammad Ragib Noer Khasyi meraih Grand Prize kategori Pelajar & Mahasiswa melalui karya berbahan debu semen.
Jakarta, IDN Times - Mata telanjang manusia mungkin bisa melihat karya seni seseorang. Namun, yang tidak semua orang bisa lihat adalah cerita di balik setiap karya itu. Goresan warna dengan permainan teksur dan material bukan sekadar elemen visual yang memikat.
Bagi seniman, seluruh pengalaman, emosi, dan cara memandang dunia terangkum dalam setiap karyanya. Terkadang, kanvas-lah ruang yang paling personal untuk mereka. Semangat inilah yang diangkat MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 melalui tema "Strength & Resilience".
Di antara 2500 peserta yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini dengan 18 karya terpilih yang mewakili ketiga negara di tingkat regional. Nuansa tegang menyelimuti acara Winner Announcement & Exhibition MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 yang berlokasi di MR.D.I.Y Flagship Store yang ada di Lotte Shopping Mall, Jakarta Selatan, pada Rabu (7/10/2026).
18 karya tersebut mengerucut menjadi 6 karya terpilih yang berhasil memenangkan Grand Prize, Judge’s Award, dan President’s Director Award untuk kategori Umum dan kategori Pelajar & Mahasiswa. Spesialnya, Grand Prize untuk kedua kategori tersebut dimenangkan oleh seniman-seniman Indonesia, lho. Ada cerita apa di balik kedua karya tersebut?
1. Beribu makna kekuatan dan ketangguhan yang tervisualisasikan dalam suatu karya

Winner Announcement & Exhibition MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 yang berlokasi di MR.D.I.Y Flagship Store yang ada di Lotte Shopping Mall, Jakarta Selatan, pada Rabu (7/10/2026). (IDN Times/Adyaning Raras) Tahun ini, Indonesia menjadi tuan rumah gelaran MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 yang mempertemukan berbagai seniman Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Tema yang diangkat pun menyoroti hal yang penting dimiliki semua orang, yaitu “Strength & Resilience”.
Tema ini memberikan ruang bagi peserta untuk menerjemahkan pengalaman, perspektif, dan aspirasi mereka ke dalam karya dengan pendekatan artistik yang beragam. Interpretasi tema tersebut bisa dituangkan melalui berbagai media.
Andaru sebagai perwakilan dari MR.D.I.Y Indonesia menjelaskan bahwa tema ini sebenarnya menggambarkan apa yang terjadi sehari-hari. Dengan hidup yang penuh tantangan, setiap orang pasti punya pengalaman yang berbeda-beda. Maka dari itu kompetisi ini hadir untuk membuka kesempatan bagi para seniman mengekspresikan bentuk kekuatan seperti apa dalam menghadapi tantangan di hidup mereka.
2. Rupa Tan Mantra, karya Veronica Liana, pemenang Grand Prize kategori Umum
Winner Announcement & Exhibition MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 yang berlokasi di MR.D.I.Y Flagship Store yang ada di Lotte Shopping Mall, Jakarta Selatan, pada Rabu (7/10/2026). (dok. MR.D.I.Y Indonesia) Ini bukan kursi, meja, dan mesin jahit biasa. Veronica Liana merangkainya sedemikian rupa untuk menggambarkan dirinya. Veronica Liana adalah seniman asal Yogyakarta yang mengeksplorasi isu perempuan dan kehidupan rumah tangga.
Sejak tahun 2025, Veronica fokus pada praktik seni instalasi berbasis kain. Rupa Tan Mantra merupakan karyanya yang mengeksplorasi bagaimana pengalaman domestik bisa menjadi ruang artistik. Karya ini juga menggambarkan bagaimana dirinya di tengah tekanan.
“Waktu saya ingin mengikuti kompetisi ini, saya harus mengerjakan proyek lain. Namun, akhirnya ada sisa waktu satu bulan lebih, kira-kira 5 minggu. Jadi, waktu yang mepet itu saya gunakan untuk mengerjakan karya ini,” ceritanya.
Buat Veronica, peran setelah menjadi seorang ibu itu sangat penting. Hadirnya karya ini juga berawal dari perubahan praktik setelah menjadi seorang ibu. Ia ingin merefleksikan bagaimana transformasi identitas serta kerja-kerja perawatan yang kerap tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari.
Untuk bisa mendapatkan karya ini, kuncinya adalah eksplorasi. Karya 3D ini hanya menggunakan kain dan dakron. Ia menggunakan teknik soft sculpting untuk mewujudkan visualisasi yang menyerupai aslinya.
“Bereksplorasi dengan apa yang ada di sekitar kita seperti material-material yang ada di sekitar kita,” tutur Veronica.
3. Yang Tersisa Sepulang Kerja (1), karya Muhammad Ragib Noer Khasyi, pemenang Grand Prize kategori Pelajar & Mahasiswa

Winner Announcement & Exhibition MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026 yang berlokasi di MR.D.I.Y Flagship Store yang ada di Lotte Shopping Mall, Jakarta Selatan, pada Rabu (7/10/2026). (dok. MR.D.I.Y Indonesia) Ada kegigihan dan semangat yang tak padam dari sosok Muhammad Ragib Noer Khasyi. Laki-laki yang dikenal sebagai Jabon ini merupakan seniman dan mahasiswa Seni Grafis di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Sebagai seniman, Ragib selalu antusias mencari trigger baru yang mendorongnya untuk membuat suatu karya.
Yang Tersisa Sepulang Kerja (1) merupakan karya yang lebih dulu ia buat sebelum ada kompetisi ini. Karya ini menggunakan medium kertas dengan sisa debu semen mentah yang terkumpul pada rompi kerja (tanpa tinta cetak).
“Eksperimentasi dan lain-lain ya memang cukup banyak waktu yang terbuang, effort yang terbuang, dan udah beberapa kali kayak berkali-kali gitu hasilnya gagal dan lain-lain itu terus dicoba, dan kemudian berhasil gitu dan muncul lagi postingan Mr. D.I.Y. gitu kan. Nah itu temanya sangat beriringan sekali gitu dengan karya yang saya buat,” katanya.
Ia mengaku sama sekali tidak ada ekspektasi bisa memenangkan kompetisi. Yang ia lakukan hanyalah mencoba memasukkan karyanya yang ternyata sesuai dengan tema kompetisi.
Yang Tersisa Sepulang Kerja (1) merupakan seri karya cetak eksperimental yang memanfaatkan debu semen pada seragam pekerja pabrik sebagai medium pewarnaan. Selama ini, debu semen dianggap sebagai residu produksi yang cukup mengganggu dan tidak terpakai.
Namun, Ragib ingin menunjukkan bagaimana debu bisa menjadi elemen utama yang merekam kehidupan manusia dan lingkungannya. Karyanya merupakan ajakan untuk para penikmat seni kembali merefleksikan keberadaan polusi udara yang melekat dengan hidup sehari-hari.
Ragib mengatakan, “Saya sendiri sebagai mahasisa harus peka dengan sumber daya yang ada atau fenomena yang terjadi. Sebuah karya bisa menjadi autentik atau mungkin bisa jadi pembeda karena ada dasar itu, dan ada pencarian-pencarian lain.”
Kisah Veronica Liana dan Muhammad Ragib Noer Khasyi menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak pernah lahir begitu saja. Ada proses panjang yang menunjukkan bagaimana Strength & Resilience melekat dalam kehidupan kita sehari-hari.
























