Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Bikin Kamu Lebih Gampang Kesal
ilustrasi perempuan mengangkat kaki di sofa (pexels.com/polinazimmerman)
  • Menunda makan saat lapar dapat menurunkan energi dan memicu respons stres, sehingga tubuh lebih lelah, tidak nyaman, dan gampang tersulut oleh hal kecil.
  • Maraton tontonan emosional sebelum tidur serta jarang terkena udara dan cahaya alami bisa mengganggu istirahat, membuat rutinitas monoton, dan memengaruhi suasana hati.
  • Kebiasaan refleks mengecek notifikasi dan doomscrolling memicu distraksi, frustrasi berulang, serta paparan konten negatif yang dapat meningkatkan rasa mudah tersinggung dan marah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa belakangan ini jadi lebih gampang kesal, padahal gak ada masalah besar yang sedang terjadi? Bisa jadi penyebabnya bukan selalu datang dari situasi di luar diri kamu, tetapi dari beberapa kebiasaan kecil yang dilakukan berulang tanpa disadari.

Hal-hal sederhana seperti melewatkan waktu makan, terlalu lama menonton serial, sampai terus mengecek notifikasi ternyata bisa ikut memengaruhi suasana hati. Kalau akhir-akhir ini kamu merasa lebih sensitif atau mudah tersulut, coba perhatikan apakah beberapa kebiasaan berikut sering kamu lakukan.

1. Sering menunda makan meski sudah lapar

ilustrasi makan bersama keluarga (pexels.com/nicolemichalou)

Menahan lapar saat sibuk memang terdengar sepele, tetapi ketika tubuh kekurangan asupan, kadar gula darah dapat menurun dan memicu respons hormon, termasuk kortisol yang berkaitan dengan stres. Kondisi ini bisa membuat kamu lebih cepat lelah, kurang nyaman, dan mudah tersulut oleh hal-hal kecil.

Heather Kent, penulis, psikoterapis, sekaligus spesialis pemulihan trauma di Kanada, dikutip dari HuffPost, mengatakan bahwa kekurangan energi dapat membuat seseorang merasa lebih mudah terganggu. Karena itu, jangan selalu menunggu sampai rasa lapar terasa sangat kuat sebelum makan, terutama ketika sedang menjalani hari yang padat.

2. Maraton nonton tayangan yang bikin emosi sebelum tidur

ilustrasi menonton film di laptop (pexels.com/ronlach)

Menonton satu episode sebelum tidur mungkin terasa seperti cara sederhana untuk bersantai. Namun kalau tontonanmu penuh konflik atau bikin penasaran, waktu tidur bisa ikut mundur dan membuat kondisi emosi lebih mudah terganggu keesokan harinya.

Kebiasaan ini makin mudah terjadi karena rasa penasaran membuat kita sulit berhenti tepat waktu. Kalau ingin tetap menonton pada malam hari, coba pilih tontonan yang lebih ringan atau netral agar pikiran punya kesempatan untuk beristirahat sebelum tidur.

“Kalau kita terus begadang dan terdistraksi oleh televisi, waktu tidur jadi semakin larut. Akhirnya, kita baru sadar kalau harus bangun hanya lima jam lagi,” ujar Heather.

3. Jarang keluar rumah dan terus berada di dalam ruangan

ilustrasi menggunakan laptop (unsplash.com/creativechristians)

Kesibukan kerja atau aktivitas di rumah bisa membuat kamu seharian jarang terkena udara luar dan cahaya alami. Terlalu lama di dalam ruangan pun bisa membuat rutinitas terasa monoton dan memengaruhi suasana hati. Coba luangkan waktu keluar sebentar pada pagi atau siang hari untuk menyegarkan pikiran.

Susan Zinn, psikoterapis berlisensi, dikutip dari HuffPost, menyarankan untuk mencoba keluar rumah dalam 30 menit setelah bangun dan mendapatkan paparan langsung cahaya alami. Kamu juga bisa menjadikannya alasan untuk berjalan kaki sebentar sebelum memulai aktivitas, sehingga pagi gak langsung diisi dengan pekerjaan atau menatap layar.

4. Refleks mengecek notifikasi setiap kali ponsel berbunyi

ilustrasi bermain handphone (pexels.com/yankrukov)

Satu notifikasi mungkin hanya butuh beberapa detik untuk dibuka, tetapi gangguan kecil ini bisa membuat kamu kehilangan fokus. Apalagi, notifikasi yang memancingmu membuka aplikasi lain dapat membuat pekerjaan terasa berantakan dan memicu frustrasi.

Dikutip dari HuffPost, Timothy Jeider, seorang psikiater, menjelaskan bahwa pola tersebut bisa berubah menjadi siklus frustrasi yang berulang. Semakin sering terdistraksi, kamu bisa semakin kesal karena merasa membuang waktu, lalu mencari distraksi lain untuk mengalihkan rasa frustrasi tersebut.

“Setelah kita masuk terlalu jauh ke dalam lubang kelinci itu, kita menyalahkan diri sendiri karena terdistraksi dan membuang-buang waktu yang membuat kita frustrasi, mengganggu fokus dan produktivitas, sehingga kita mencari distraksi untuk mengalihkan rasa frustrasi tersebut. Siklus frustrasi kecil itu pun berulang dan terus menumpuk,” ujar Timothy.

5. Terlalu sering doomscrolling

ilustrasi seseorang menggunakan handphone (pexels.com/towfiqubarbhuiya)

Membuka media sosial untuk mencari hiburan bisa berubah menjadi kebiasaan membaca berita atau konten negatif tanpa henti. Informasi tentang konflik, kabar buruk, teori konspirasi, hingga peringatan yang mengkhawatirkan dapat membuat pikiran terus waspada. Jika dilakukan berulang sepanjang hari, kebiasaan ini bisa ikut memengaruhi suasana hati dan membuat pikiran dipenuhi hal-hal negatif.

Heather juga mengatakan bahwa paparan berita yang terus-menerus dapat berkaitan dengan meningkatnya perasaan mudah tersinggung, agresif, dan marah. Karena itu, kamu gak harus selalu mengikuti setiap perkembangan yang muncul di linimasa, apalagi kalau setelahnya justru merasa semakin cemas atau kesal.

“Semuanya menyebabkan peningkatan perasaan mudah tersinggung, agresi, dan kemarahan. Kita juga cenderung benar-benar kecanduan siklus pemberitaan tersebut karena pandemi,” ujarnya.

Kalau akhir-akhir ini kamu lebih gampang kesal, coba jangan buru-buru menyalahkan suasana atau orang di sekitarmu. Bisa jadi ada kebiasaan kecil yang tanpa sadar ikut memengaruhi mood dan cara kamu menghadapi hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article