Ilusrasi anak (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Bagi gen alpha, media sosial bukan hanya tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, berinteraksi, dan membentuk cara berkomunikasi. Paparan berbagai konten, tren, meme, hingga bahasa gaul yang terus berkembang membuat mereka terbiasa menyerap dan membagikan informasi dengan cepat, meski terkadang belum memahami konteks atau memverifikasi kebenarannya terlebih dahulu.
Psikolog Nafees Alam, Ph.D. mengatakan, "Language isn't just a tool; it shapes our thoughts and connections" atau "Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membentuk cara kita berpikir dan membangun hubungan," dikutip dari Psychology Today.
Menurutnya, bahasa gaul dan budaya digital memang dapat mendorong kreativitas serta memperkuat ikatan antarkelompok, tetapi tetap perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan literasi agar informasi yang disampaikan tidak sekadar mengikuti tren.
Pada akhirnya, julukan "Gen Asbun" tidak bisa disematkan kepada seluruh generasi alpha karena setiap anak tumbuh dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda. Alih-alih memberi label, yang lebih penting adalah membimbing mereka agar berani berpendapat sekaligus mampu berpikir kritis, menyaring informasi, dan berkomunikasi secara bijak.