“'Soft life' adalah tentang memilih kemudahan, kegembiraan, dan keselarasan dengan jati diri yang sebenarnya,” jelas Attiya Awadallah, seorang psikoterapis dan pemilik Lenora: Art Therapy and Counseling, dikutip dari laman The Every Girl.
Kenapa Gen Z Suka Soft Life? Ingin Nyaman dan Nikmati Hidup!

- Istilah 'soft life' berasal dari komunitas influencer Nigeria dan menggambarkan gaya hidup yang menekankan kenyamanan, keseimbangan, serta kesejahteraan emosional, mental, dan fisik di atas pencapaian eksternal.
- Gen Z menggemari tren soft life karena menolak budaya hustle culture dan memilih hidup yang lebih santai, berfokus pada pengalaman bermakna serta kesehatan diri dibanding sekadar bekerja tanpa henti.
- Soft life bukan sekadar tren media sosial, melainkan perubahan cara pandang terhadap hidup dengan menumbuhkan ketahanan emosional, menetapkan batasan sehat, dan menghormati kebutuhan pribadi.
Hustle culture, rutinitas nine-to-five, dan istilah lainnya, membuktikan bahwa kita telah dikondisikan untuk selalu bekerja. Tidak heran, jika tren quiet quitting menjadi populer khususnya di kalangan para gen Z.
Tren di media sosial tentang menolak stres dan rutinitas pekerjaan tradisional semakin marak. Istilah "soft life" pun muncul, yang mengacu pada gaya hidup yang mengutamakan istirahat dan kenyamanan. Ini menjadi sebuah ide segar yang telah tenggelam bersama fenomena toxic productivity.
Jadi, bagaimana menjalani soft life dan kenapa gen Z suka mengadaptasi gaya hidup ini? Baca terus untuk tahu tentang tren gaya hidup ini!
1. Apa itu soft life?

Berasal dari Nigerian influencer community, yaitu jaringan kreator konten dan tokoh media sosial di Nigeria yang sangat berpengaruh dalam budaya digital global, istilah "soft life" atau "soft era" gambarkan gaya hidup yang menyenangkan dan nyaman untuk mengurangi stres.
Ini tentang menyederhanakan pendekatan terhadap kehidupan, memprioritaskan kesejahteraan emosional, mental, dan fisik, serta menciptakan rasa keseimbangan dan kepuasan. Bukan hanya terus-menerus berjuang untuk meraih prestasi atau validasi eksternal, soft life mendorong kamu untuk memperlambat dan merangkul kedamaian, istirahat, dan hubungan yang bermakna.
2. Kenapa gen Z suka soft life?

Tren soft life yang telah mendapatkan jutaan tayangan di TikTok, menekankan pentingnya kenyamanan, menciptakan batasan sehat, dan memprioritaskan kesejahteraan atau perawatan diri. Kenapa gen Z suka soft life? Ide ini jelas menarik karena menggaungkan kenyamanan hidup, sebagai cara untuk menolak budaya hustle culture dan persaingan yang ketat.
Stephanie O'Dea, penulis buku terlaris New York Times, Slow Living: Cultivating a Life of Purpose in a Hustle-Driven World, juga melihatnya seperti itu.
“Gen Z tidak ingin hidup hanya untuk bekerja. Generasi sebelumnya mengidentifikasi diri dengan kerja untuk mencari nafkah dan berapa banyak uang yang dihasilkan. Gen Z sebaliknya, mereka ingin melakukan segalanya; ingin mendaki gunung, menikmati hidup, menikmati waktu bersama teman-teman dan tidak ingin bekerja sampai kelelahan," katanya, dikutip dari laman Parents.
Sebagian dari keinginan itu muncul dari kesadaran bahwa bekerja keras dan menghasilkan uang tidak lagi membuahkan hasil seperti dulu, atau yang terjadi pada generasi orangtua gen Z. Jika tidak ada jaminan masa depan yang stabil dengan kepemilikan rumah, masuk akal untuk menikmati apa yang dimiliki saat ini.
3. Soft life bukan sekadar tren

Tren soft life lebih dari sekadar fenomena media sosial yang cepat berlalu. Ini mewakili pergeseran mendasar dalam cara orang mendekati kehidupan dan pekerjaan. Menjalani soft life mengajak kamu untuk mengembangkan ketahanan emosional, melepaskan tekanan yang tidak perlu, dan fokus pada kesejahteraan dari dalam.
“Ini bukan berarti kamu menghindari tanggung jawab atau tantangan hidup, tetapi lebih tentang mendekati kehidupan dengan keseimbangan, batasan, dan tujuan,” tegas Lauren Auer, seorang terapis dan ahli trauma di Steadfast Counseling, dikutip dari laman The Every Girl.
Ia menambahkan, menjalani soft life berarti membuat keputusan berdasarkan kebenaranmu, menghormati kebutuhan, serta selaras dengan nilai-nilai kehidupan.
4. Tips menjalani soft life buat gen Z

Soft life menolak anggapan bahwa kesuksesan harus mengorbankan kesejahteraan diri. Justru sebaliknya, gaya hidup ini mempromosikan pendekatan work-life balance.
Tren ini memastikan bahwa kesehatan pribadi tidak dikorbankan demi pencapaian profesional. Berikut ada beberapa tips menjalani soft life buat gen Z:
Prioritaskan istirahat sebagai fondasi
Istirahat itu produktif. Tubuh kamu tidak dirancang untuk bekerja tanpa energi. Jadi, istirahat tanpa rasa bersalah berarti memahami bahwa itu penting untuk kesejahteraanmu. Karena menghargai istirahat sama pentingnya dengan tanggung jawab lainnya.
Saat meluangkan waktu untuk istirahat, ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental dan fisik, tetapi juga kreativitas, produktivitas, dan mood. Beristirahat dan mengisi ulang energi memungkinkan kamu untuk hadir lebih penuh di aktivitas lain.
Keluar dari “fight-or-flight” mode
“Soft life berarti keluar dari “fight-or-flight” mode, di mana semuanya terasa seperti respons bertahan hidup. Dan sebagai gantinya menciptakan kehidupan yang memiliki kebebasan, fleksibilitas, dan kelancaran,” kata Auer.
Soft life berarti juga melakukan upaya untuk mengatur sistem sara. Ketika tubuh tidak terus-menerus dalam keadaan siaga tinggi, kamu dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan mindful.
Tetapkan batasan untuk waktu dan prioritas
Menetapkan batasan adalah hal yang mutlak untuk menjaga keseimbangan dalam hidup dan merawat kesehatan mental. Pertama, belajarlah untuk merasa nyaman mengatakan "tidak". Dengan selalu mengiyakan, artinya kamu juga mengabaikan hal-hal yang penting, baik itu waktu istirahat atau rasa hormatmu.
Mengatakan tidak juga melindungi energi dan kesejahteraan kamu sendiri. Hargai kebutuhan dan keinginanmu dengan bersikap jujur dan mengkomunikasikan dengan jelas, terutama terkait bagaimana kamu ingin diperlakukan.
Buat gen Z yang sering merasa terburu-buru atau terlalu lelah melakukan apa pun setelah bekerja, mungkin sudah saatnya kamu untuk memasuki era soft life. So, kapan mau mulai?


















