Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kita Sekarang Lebih Suka Pengalaman daripada Membeli Barang?
Ilustrasi merasa positif (pexels.com/Alican Helik)

Dulu membeli barang baru sering dianggap sebagai bentuk pencapaian. Punya ponsel terbaru, pakaian bermerek, kendaraan, atau perabot rumah yang bagus bisa memberikan rasa puas sekaligus menjadi simbol keberhasilan. Namun, sekarang semakin banyak orang justru rela mengeluarkan uang untuk konser, traveling, kulineran, mengikuti kelas, mencoba aktivitas baru, atau sekadar menghabiskan waktu berkualitas bersama orang terdekat.

Perubahan ini bukan berarti barang sudah tidak penting. Kebutuhan terhadap pakaian, perangkat elektronik, rumah, dan berbagai benda tetap ada. Lalu kenapa orang lebih suka pengalaman daripada membeli barang?

1. Pengalaman lebih sulit menjadi membosankan

Ilustrasi bersantai (pexels.com/Photo by Labskiii)

Salah satu alasan pengalaman terasa lebih memuaskan adalah karena manusia cenderung lebih cepat terbiasa dengan barang yang dimiliki. Ketika membeli sepatu, gadget, atau pakaian baru, rasa senangnya mungkin sangat besar pada awalnya.

Namun, setelah beberapa waktu, barang tersebut berubah menjadi bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Kita melihatnya setiap hari sehingga efek barang baru perlahan menghilang. Hal ini berbeda dengan pengalaman. Liburan, konser, perjalanan bersama teman, atau makan di tempat yang spesial memang selesai dalam beberapa jam atau hari, tetapi pengalaman tersebut dapat terus dikenang.

"Pengalaman merupakan bagian dari diri kita yang lebih besar dibandingkan dengan harta benda. Kamu mungkin sangat menyukai barang-barangmu. Kamu bahkan bisa saja merasa bahwa sebagian dari identitasmu terkait dengan benda-benda tersebut, namun bagaimanapun juga, benda-benda itu tetap terpisah dari dirimu. Sebaliknya, pengalaman benar-benar menjadi bagian dari dirimu. Kita adalah keseluruhan dari pengalaman-pengalaman kita," jelas psikolog Thomas Gilovich, profesor psikologi di Cornell University dikutip dari The Hour.

2. Pengalaman bisa menjadi bagian dari identitas

Ilustrasi pertemanan (pexels.com/Photo by César O'neill)

Ketika seseorang membeli barang, benda tersebut memang bisa mencerminkan selera dan kepribadiannya. Namun, pengalaman sering kali memberikan cerita yang jauh lebih personal. Seseorang mungkin tidak hanya mengatakan bahwa ia pernah pergi ke suatu tempat, tetapi juga bisa menceritakan siapa yang menemaninya, kejadian lucu selama perjalanan, makanan yang dicoba, sampai perasaan yang muncul ketika berada di sana.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2024 di Journal of Behavioral Decision Making, orang merasa lebih memiliki kedekatan dengan seseorang yang melakukan pengalaman serupa dibandingkan seseorang yang membeli barang material serupa. Peneliti mengaitkannya dengan fakta bahwa pengalaman lebih sentral terhadap identitas seseorang.

"Pembelian yang bersifat pengalaman (yang lebih berfokus pada aktivitas daripada kepemilikan barang) memberikan kepuasan lebih besar dibandingkan pembelian barang material. Dalam studi ini, kami menelaah konsekuensi lain dari pengeluaran uang untuk pengalaman, yaitu terciptanya ikatan sosial. Konsumen melaporkan adanya rasa kedekatan yang lebih kuat dengan orang lain yang melakukan pembelian pengalaman serupa, dibandingkan dengan mereka yang melakukan pembelian barang material serupa, sebuah hasil yang berkaitan dengan peran sentral pengalaman dalam membentuk identitas seseorang," demikian laporannya dikutip dari Wiley Online Library.

3. Pengalaman membuat kita punya cerita untuk dibagikan

Ilustrasi pertemanan (unsplash.com/Photo by Trung Thanh)

Ada alasan lain mengapa pengalaman terasa lebih berharga: pengalaman memberikan bahan untuk bercerita. Barang yang dibeli memang bisa dibicarakan, tetapi cerita tentang pengalaman biasanya jauh lebih kaya. "Aku membeli laptop baru" hanya memberikan sedikit informasi. Sebaliknya, "Aku pernah backpacking sendirian dan hampir ketinggalan kereta" memiliki cerita, emosi, kejutan, dan detail yang lebih mudah diingat.

Hal ini juga menjelaskan mengapa aktivitas sederhana bisa memiliki nilai emosional yang besar. Makan bersama teman, pergi ke pantai, mengikuti konser, mencoba kelas memasak, atau melakukan perjalanan singkat mungkin tidak menghasilkan benda yang bisa dibawa pulang.

Namun, setelah aktivitas tersebut selesai, kamu masih punya foto, cerita, lelucon, dan kenangan yang bisa dibagikan. Nilai tersebut tidak selalu terlihat dalam bentuk fisik, tetapi justru bisa bertahan lebih lama dalam hubungan sosial dan ingatan.

4. Menunggu pengalaman saja sudah bisa menyenangkan

Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/damla selen demir)

Menariknya, pengalaman bahkan bisa memberikan kebahagiaan sebelum aktivitas tersebut benar-benar terjadi. Ketika seseorang sudah membeli tiket konser, merencanakan liburan, atau memesan tempat untuk makan bersama teman, ada fase menunggu yang justru bisa terasa menyenangkan.

Kita mulai membayangkan apa yang akan terjadi, mencari informasi, membuat rencana, dan membicarakannya dengan orang lain. Jadi, ketika kamu menabung untuk sebuah perjalanan atau menunggu konser beberapa bulan lagi, sebenarnya kesenangan dari pengalaman tersebut sudah bisa dimulai jauh sebelum hari H.

5. Pengalaman membantu kita terhubung dengan orang lain

Ilustrasi traveling (unsplash.com/Photo by Y S)

Pada akhirnya, alasan pengalaman terasa semakin menarik bukan hanya karena memberikan kesenangan pribadi, tetapi juga karena pengalaman sering kali melibatkan orang lain. Makan malam bersama keluarga, traveling dengan teman, menonton pertandingan, menghadiri konser, atau mengikuti kegiatan komunitas menciptakan kesempatan untuk berinteraksi. Pengalaman menjadi sesuatu yang dijalani bersama, bukan sekadar sesuatu yang dimiliki sendiri.

Riset tahun 2024 yang dipimpin Amit Kumar, Ph.D. asisten profesor pemasaran dan psikologi di University of Texas at Austin, menemukan bahwa pembelian berbasis pengalaman dapat meningkatkan rasa keterhubungan sosial secara luas. Riset ini dilakukan dalam 13 eksperimen dan melibatkan 1.980 partisipan.

"Dalam beberapa studi kami, partisipan melaporkan adanya rasa kedekatan yang lebih kuat dengan seseorang yang melakukan pembelian pengalaman yang sama, dibandingkan dengan seseorang yang melakukan pembelian barang materi yang sama," jelas Kumar dalam Scientific American.

"Hal ini mencerminkan fakta bahwa pembelian yang bersifat pengalaman lebih melekat pada identitas individu: data kami menunjukkan bahwa orang merasa lebih mirip dan memiliki ikatan batin yang lebih kuat dengan seseorang yang membeli pengalaman serupa, karena mereka meyakini bahwa jenis konsumsi semacam itu lebih mencerminkan jati diri seseorang yang sesungguhnya dan mendasar," tambahnya.

Pergeseran dari membeli barang menuju mencari pengalaman bukan berarti semua orang sudah meninggalkan budaya konsumsi. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, pengalaman menawarkan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh benda: cerita, kenangan, identitas, antisipasi, dan hubungan dengan orang lain.

Curated For You

Editorial Team

Related Article