Ilustrasi traveling (unsplash.com/Photo by Y S)
Pada akhirnya, alasan pengalaman terasa semakin menarik bukan hanya karena memberikan kesenangan pribadi, tetapi juga karena pengalaman sering kali melibatkan orang lain. Makan malam bersama keluarga, traveling dengan teman, menonton pertandingan, menghadiri konser, atau mengikuti kegiatan komunitas menciptakan kesempatan untuk berinteraksi. Pengalaman menjadi sesuatu yang dijalani bersama, bukan sekadar sesuatu yang dimiliki sendiri.
Riset tahun 2024 yang dipimpin Amit Kumar, Ph.D. asisten profesor pemasaran dan psikologi di University of Texas at Austin, menemukan bahwa pembelian berbasis pengalaman dapat meningkatkan rasa keterhubungan sosial secara luas. Riset ini dilakukan dalam 13 eksperimen dan melibatkan 1.980 partisipan.
"Dalam beberapa studi kami, partisipan melaporkan adanya rasa kedekatan yang lebih kuat dengan seseorang yang melakukan pembelian pengalaman yang sama, dibandingkan dengan seseorang yang melakukan pembelian barang materi yang sama," jelas Kumar dalam Scientific American.
"Hal ini mencerminkan fakta bahwa pembelian yang bersifat pengalaman lebih melekat pada identitas individu: data kami menunjukkan bahwa orang merasa lebih mirip dan memiliki ikatan batin yang lebih kuat dengan seseorang yang membeli pengalaman serupa, karena mereka meyakini bahwa jenis konsumsi semacam itu lebih mencerminkan jati diri seseorang yang sesungguhnya dan mendasar," tambahnya.
Pergeseran dari membeli barang menuju mencari pengalaman bukan berarti semua orang sudah meninggalkan budaya konsumsi. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, pengalaman menawarkan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan oleh benda: cerita, kenangan, identitas, antisipasi, dan hubungan dengan orang lain.