Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia untuk Hari Kemerdekaan

5 Rekomendasi Novel Sejarah Indonesia untuk Hari Kemerdekaan
ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Ferhat Kocakaya)
  • Lima novel sejarah direkomendasikan untuk memaknai Hari Kemerdekaan melalui cerita dramatis, emosional, serta refleksi perjuangan dan kehidupan bangsa.
  • Burung-burung Manyar, Amba, dan Kubah mengangkat konflik personal di tengah sejarah Indonesia, termasuk pilihan politik, peristiwa G30S, pengasingan Pulau Buru, serta stigma sosial.
  • Max Havelaar menyoroti Tanam Paksa dan penindasan kolonial, sedangkan Pikiran Orang Indonesia membahas dinamika sosial-intelektual, kebangsaan, dan keagamaan melalui dialog filosofis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Apakah kamu termasuk orang yang gak suka sejarah karena penyajiannya yang terasa membosankan? Kalau iya, kamu gak sendirian karena ada banyak orang yang memang gak suka belajar sejarah lewat buku teks. Ada salah satu cara menyenangkan untuk bisa memahami sejarah yakni dengan membaca buku sastra sejarah. Sama-sama buku sih, tapi yang ini beda karena sejarahnya dikemas dengan alur cerita yang menarik, dramatis, serta emosional.

Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia, membaca sastra sejarah bisa jadi cara yang berkesan untuk memaknai kembali perjuangan bangsa. Berikut 5 rekomendasi buku sastra sejarah Indonesia yang wajib masuk daftar bacaanmu di momen 17-an ini!

  1. 1. Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya

    ilustrasi orang membaca buku
    ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Iván Cauich)

    Novel ini merupakan salah satu novel best seller bergenre sejarah yang ditulis oleh budayawan, imam, arsitek, juga sastrawan. Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1981 oleh Penerbit Djambatan. Burung-burung Manyar berkisah tentang konflik batin tokoh bernama Teto, seorang laki-laki keturunan Indonesia yang berpihak pada Belanda dibanding negaranya sendiri.

    Selama ini kita sering memandang sejarah dari sudut pandang bangsa Indonesia yang mendukung negaranya, kan. Nah, bagaimana kalau dari sudut pandang pihak yang menolak republik? Y.B. Mangunwijaya berhasil menghadirkan perspektif itu dengan penyajian cerita yang gak biasa dan penuh empati. Berikut kutipan Burung-burung Manyar.

    Inilah kesalahan logika mereka: menyangka seolah negara sama dengan rakyat. Jika negara merdeka, orang mengira rakyat otomatis merdeka juga. (Halaman 70)

  2. 2. Amba karya Laksmi Pamuntjak

    cover buku Amba karya Laksmi Pamuntjak
    cover buku Amba karya Laksmi Pamuntjak (www.gramedia.com)

    Rekomendasi buku sastra sejarah selanjutnya yang sayang untuk kamu lewatkan adalah Amba karya Laksmi Pamuntjak. Kalau kamu gak suka sejarah karena penyajiannya yang membosankan, kamu bisa membaca buku ini.Seperti Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, Amba dari Laksmi Pamuntjak juga populer dan banyak diminati oleh pembaca Indonesia, bahkan meraih penghargaan sastra tingkat dunia.

    Amba pertama kali terbit pada tahun 2012 oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Novel ini terbilang super tebal karena punya 577 halaman dan ditujukan untuk pembaca berusia 21 tahun ke atas. Lantas, bagaimana sinopsisnya? Novel ini berkisah tentang kisah hidup Amba, anak seorang guru di kota kecil di Jawa Tengah, tetapi ia meninggalkan kotanya itu. Di Kediri, ia bertemu dengan sosok Bhisma. Mereka punya hubungan emosional yang dalam. Namun, kisah mereka harus berakhir tiba-tiba di tengah peristiwa G30S di Yogyakarta. Bhisma hilang. Amba mencarinya hingga ke Pulau Buru. Barulah di Pulau Buru, Amba tahu kenapa kekasihnya itu gak pernah kembali.

  3. 3. Kubah karya Ahmad Tohari

    cover belakang novel Kubah karya Ahmad Tohari
    cover belakang novel Kubah karya Ahmad Tohari (ebooks.gramedia.com)

    Kubah karya Ahmad Tohari juga mengandung nilai sejarah yang kental. Ahmad Tohari sendiri merupakan sastrawan dan budayawan indonesia yang populer. Kubah mengangkat tema tentang sejumlah peristiwa yang melibatkan partai komunis dan G30S. Fakta menariknya ialah novel ini merupakan karya sastra pionir yang membahas G30S dan PKI.

    Secara garis besar, Kubah bercerita tentang kehidupan tokoh utama bernama Karman. Ia merupakan seorang pemuda cerdas dari desa Pegaten yang menjadi anggota partai komunis. Dengan begitu, ia menjadi tahanan politik yang diasingkan di Pulau Buru. Setelah bebas dari masa pengasingan selama 12 tahun, Karman pun kembali ke desanya. Ada banyak persoalan yang harus dihadapinya setelah itu, seperti stigma negatif masyarakat hingga ditinggal keluarganya sendiri. Melalui Kubah, Ahmad Tohari menyajikan sejarah dengan dramatis.

  4. 4. Max Havelaar karya Multatuli (Eduard Douwes Dekker)

    cover buku Max Havelaar
    cover buku Max Havelaar (mizanstore.com)

    Salah satu fakta menarik dari novel ini adalah ditulis oleh seorang mantan pejabat kolonial Belanda bernama pena Multatuli (Eduard Douwes Dekker). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860. Novel ini merupakan novel satire yang bercerita tentang kekejaman sistem Tanam Paksa (Culturstelsel), praktik korupsi, serta penindasan yang dialami oleh rakyat pribumi di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Cerita utama dalam novel ini disampaikan melalui sudut pandang sejumlah tokoh. Dengan gaya bahasa yang naratif dan penuh sindiran, penulis menyuarakan keadilan yang selama ini dibungkam oleh kekuasaan kolonial.

  5. 5. Pikiran Orang Indonesia karya Hafiz Azhari

    ilustrasi orang membaca buku
    ilustrasi orang membaca buku (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Hafiz Azhari merupakan novelis, penulis esai, dan budayawan Indonesia yang dikenal dengan tulisannya yang mengangkat tema keagamaan dan kritik sosial. Salah satu novel populernya berjudul Pikiran Orang Indonesia yang terbit di tahun 2014. Melalui novel ini, Hafiz menyajikan refleksi terkait terkait realitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan beragama di Indonesia.

    Bagaimana dengan sinopsisnya? Pikiran Orang Indonesia berkisah tentang dinamika kehidupan sosial-intelektual melalui dialog antartokoh dari berbagai macam latar belakang pemikiran. Dengan gaya bahasa yang komunikatif dan filosofis, Hafiz membuat pembaca merenungi cara berpikir bangsa Indonesia.

    Buku-buku di atas dijamin memberikan nilai sejarah bagi kamu yang membacanya. Banyak refleksi serta kritik sosial yang bisa kamu petik. Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia, ya! Yuk, rayakan dengan membaca!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More