Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Sering Menunda Pakai Barang yang Kita Suka?

4 min read
Kenapa Kita Sering Menunda Pakai Barang yang Kita Suka?
ilustrasi menggunakan parfum (pexels.com/cottonbro studio)
  • Orang sering menunda memakai barang favorit karena takut barang cepat habis, rusak, atau kehilangan kondisi sempurnanya; kecenderungan ini terkait loss aversion.
  • Barang kesayangan kerap disimpan sambil menunggu momen yang dianggap lebih spesial, sehingga kesempatan sehari-hari untuk menikmatinya justru terlewat.
  • Rasa takut menyesal karena memakai barang spesial terlalu cepat dapat membuat orang terus menunda, meski momen yang dinantikan belum tentu terjadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu mungkin punya baju yang paling kamu suka, tapi malah jarang dipakai? Parfum favorit yang masih disimpan karena merasa belum ada acara yang cukup spesial? Atau ada cangkir spesial yang cuma keluar dari lemari kalau ada tamu saja? Kebiasaan seperti ini mungkin pernah kamu lakukan tanpa sadar. Kita sering merasa barang yang paling disukai justru harus disimpan untuk momen tertentu. 

Barang yang terlihat biasa saja saat pertama kali dibeli bisa terasa semakin spesial setelah lama disimpan. Kita mulai berpikir akan lebih sayang kalau memakainya sekarang, karena mungkin nanti akan ada kesempatan yang lebih cocok. Lalu, kenapa kebiasaan ini tanpa sadar sering kita lakukan? Ternyata, ada beberapa alasan yang bikin kita merasa barang kesayangan harus dipakai disaat waktu yang tepat.

  1. 1. Takut barang kesayangan cepat rusak atau habis

    ilustrasi menyimpan peralatan makan
    ilustrasi menyimpan peralatan makan (pexels.com/Cup of Couple)

    Salah satu alasan paling sederhana adalah kita takut kehilangan sesuatu yang kita suka. Parfum yang dipakai berarti isinya berkurang, sepatu yang dipakai bisa lecet, dan baju putih kesayangan punya kemungkinan terkena noda. Karena tahu barang tersebut tidak akan selamanya dalam kondisi sempurna, kita memilih menyimpannya.

    Lindsey Godwin, Ph.D., profesor organizational behavior di Case Western Reserve University, dalam Psychology Today mengaitkan kebiasaan ini salah satu faktornya adalah loss aversion, yaitu kecenderungan manusia merasakan kehilangan lebih kuat daripada mendapatkan sesuatu yang setara. Menyalakan lilin berarti lilinnya berkurang, begitu juga saat kita menggunakan alat tulis mewah. Meski sebenarnya bisa memberi kesenangan, rasa kehilangan yang sudah dibayangkan terasa lebih berat sehingga kita terus menunda untuk menggunakannya. 

    Jadi meskipun kita sebenarnya bisa mendapatkan kesenangan dari barang tersebut, berkurangnya jumlah atau kondisinya membuat kita merasa rugi. Sehingga, barang yang seharusnya dipakai malah tersimpan lama di lemari.

  2. 2. Merasa harus menunggu momen yang benar-benar spesial

    ilustrasi menyimpan pakaian
    ilustrasi menyimpan pakaian (Pexels.com/Anna Shvets)

    Kadang kita bukan gak mau memakai barang kesayangan kita, tetapi merasa waktunya belum tepat. Parfum baru disimpan untuk dinner spesial, baju bagus menunggu acara tertentu, atau alat makan cantik baru dikeluarkan kalau ada tamu. Setiap kali ada kesempatan, muncul pikiran kalau nanti pasti ada momen yang lebih cocok untuk memakainya.

    Masalahnya, kita gak pernah tahu kapan “momen yang tepat” itu datang. Hari biasa terasa terlalu biasa, acara kecil dianggap belum cukup penting, sementara acara yang ditunggu-tunggu belum tentu muncul dalam waktu dekat. Karena terus mencari kesempatan yang lebih spesial, kita malah melewatkan banyak momen yang sebenarnya sudah cukup untuk menikmati barang tersebut.

    Kalau kebiasaan ini terus dilakukan, barang favorit akhirnya cuma jadi penghuni lemari. Padahal, gak semua hal yang menyenangkan harus menunggu perayaan besar. Memakai parfum kesukaan saat ngopi atau baju favorit untuk makan malam biasa juga tetap bisa jadi cara sederhana buat bikin hari terasa lebih menyenangkan.

  3. 3. Kita takut menyesal setelah memakainya

    Ilustrasi menyimpan perhiasan
    Ilustrasi menyimpan perhiasan (pexels.com/cottonbro studio)

    Ada kalanya kita sebenarnya ingin memakai barang kesayangan, tetapi bimbang karena takut waktunya tidak tepat atau sesuai. Misalnya, kamu punya parfum mahal dan sudah ingin memakainya, tetapi kemudian kepikiran kalau beberapa hari lagi akan ada acara yang lebih cocok. Daripada menyesal karena sudah memakainya sekarang, akhirnya parfum itu kamu simpan lagi.

    Penelitian Suzanne B. Shu, PhD, Professor Emeritus of Marketing di UCLA Anderson School of Management dan Marissa A. Sharif, PhD, Associate Professor of Marketing di Wharton School, University of Pennsylvania, dalam UCLA Anderson Review tentang occasion matching menunjukkan bahwa kita bisa lebih takut menyesal karena menggunakan barang spesial terlalu cepat dibanding menyimpannya terlalu lama. Kita takut menyesal kalau menggunakannya terlalu cepat dan kemudian kehilangan kesempatan untuk menikmatinya di waktu yang lebih baik.

    Masalahnya, kesempatan yang kita tunggu belum tentu datang sesuai bayangan. Bisa saja acara yang dianggap lebih spesial ternyata biasa saja, atau malah gak pernah terjadi dalam waktu dekat. Karena terlalu sibuk menghindari kemungkinan menyesal, barang yang sebenarnya bisa dinikmati hari ini justru tidak digunakan sama sekali.

    Jadi kalau selama ini kamu punya barang yang disimpan karena merasa belum ada waktu yang tepat, mungkin gak ada salahnya mulai dipakai sesekali. Gak harus menunggu acara besar atau momen yang terasa spesial, karena hari biasa juga tetap bisa jadi alasan untuk menikmati sesuatu yang kamu suka.

Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More