Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kucing Jadi Karakter Favorit Penulis Novel? Ini 5 Alasannya!
Ilustrasi kucing bersama kamera dan buku (pexels.com/Sam Lion)
  • Kucing sering dipilih dalam novel fantasi karena daya tarik visualnya beragam dan menggemaskan, dari mata bulat hingga ciri khas berbagai ras yang mudah membangun karakter.
  • Sifat kucing yang mandiri, adaptif, dan dekat dengan manusia membuatnya cocok melambangkan kebebasan, batas personal, serta perilaku humanis dalam cerita.
  • Aura misterius, mitologi, dan kemampuan kucing merepresentasikan emosi penulis memungkinkan kritik atau sindiran disampaikan lebih halus melalui sudut pandang hewan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap penulis punya hak kebebasan untuk mengembangkan karakter tokoh dalam novelnya. Ada penulis yang mengembangkan karakter tokoh berdasarkan realita kehidupan, ada pula penulis yang menginginkan karakter baru dan belum pernah ia temukan sebelumnya. Penulis akan mengekspresikan diri dalam imajinasinya demi menciptakan karakter impian.

Dalam novel fantasi, para penulis sering menggunakan hewan untuk menghidupkan nyawa dari sebuah cerita. Karakter hewan tersebut bertransformasi menjadi sosok manusia. Bukan mengubah struktur fisiknya, melainkan sifat dengan kesadaran selayaknya manusia. Dari sekian banyak hewan di dunia ini, kucing menjadi hewan popoler yang dipilih para penulis. Berikut lima alasan kenapa kucing jadi karakter favorit penulis novel!

1. Daya tarik visual yang menarik

Ilustrasi kucing berbaring di atas batu. (pexels.com/Jude Ballado)

Kerap kali kucing mendapat panggilan akrab dengan sebutan anabul atau anak bulu karena memiliki bentuk tubuh yang menggemaskan. Mata bulat, hidung pesek, dan kumis panjang membuat kucing tampak elegan dan menawan. Ketika manusia menyentuh bulu halusnya, kucing akan mengeong rendah sambil memainkan ekor. Tak jarang pula, kucing menampakkan kuku yang tersembunyi di balik kaki mungil sebagai tanda kenyamanan berada di sekitar manusia. 

Ada banyak jenis kucing di dunia ini, masing-masing memiliki gaya visual yang unik. Mulai dari kucing Scottish Fold dengan pipi chubby hingga kucing Siam yang terkenal mata birunya. Bagi pecinta kucing, apapun jenisnya, hewan kucing telah menduduki takhta tertinggi dalam kingdom animalia.

2. Kepribadian yang humanis

Ilustrasi seseorang menggendong kucing Persia. (pexels.com/Matthew Jesus)

Sejatinya, kucing adalah predator yang dijinakkan selama ribuan tahun agar bisa hidup berdampingan dengan manusia. Alih-alih membutuhkan pengawasan khusus, kucing mendatangi peradaban manusia atas kemauan diri sendiri (proses domestikasi). Bahkan, kucing liar sekalipun bisa berubah ketika mendapatkan makanan dan tempat berlindung yang layak.

Dalam dunia seni, intuisi kucing sebagai predator yang telah dijinakkan menjadi simbol kebebasan. Kucing mewakili hak manusia dalam menentukan jalan hidup sendiri tanpa harus tunduk pada aturan orang lain. Secara jelas memberi batasan dan jeda waktu, kapan harus bersama manusia dan kapan harus menyendiri untuk merawat diri atau sekadar memulihkan tenaga.

3. Aura misteri dan mitologi

Ilustrasi kucing yang bersembunyi di bawah atap. (magnific.com/Wirestock)

Orang zaman dulu percaya dibalik tubuh kucing yang menggemaskan menyimpan hal mistis. Mereka percaya kucing bisa menjadi pemandu spiritual yang mampu menyerap energi negatif, melindungi dari roh penjahat, dan melewati batas antara dunia manusia dengan dunia kematian. Mereka juga percaya nasib hidup bergantung pada warna kucing yang ditemui, di mana kucing putih membawa keberuntungan dan kucing hitam membawa sial.

Padahal, secara alamiah kucing memang memiliki indra super tajam yang bisa mendeteksi suara pelan atau getaran tanpa disadari manusia. Mata kucing yang tampak bersinar di malam hari hanyalah lapisan khusus untuk memudahkan melihat benda di ruangan gelap. Sekaligus, kemandirian kucing yang terkadang sering disalahartikan sebagai tindakan menyimpan rahasia besar.

4. Simbolisme kemandirian

Ilustrasi kucing menjelajahi lingkungan perkotaan. (pixels.com/Nothing Ahead)

Di poin sebelumnya telah disebutkan betapa kemandirian kucing menjadi sifat alamiah yang terkadang disalahartikan oleh manusia. Sifat kucing yang cuek, tidak butuh perhatian, atau memilih jaga jarak dianggap sebagai bentuk kesombongan, keangkuhan, dan apatis terhadap manusia. Padahal, sikap tersebut bagian dari mekanisme kucing dalam mempertahankan diri secara terukur.

Di alam bebas, kucing adalah pemburu yang mengandalkan serangan mendadak. Kucing lebih memilih menjaga jarak dan memperbanyak waktu menyendiri untuk menghemat energi berburunya. Sementara itu, sikap cuek dan tidak butuh perhatian hanyalah insting kucing dalam mengurangi potensi konflik dari predator lain.

5. Representasi penulis itu sendiri

Ilustrasi dua anak kucing bermain di dekat jendela. (pexels.com/Anna Hinckel)

Secara struktur otak, kucing menganggap manusia seperti kucing berukuran besar yang tidak berbulu sehingga ia suka meniru bagaimana cara manusia menjalankan aktivitas sehari-hari. Mulai dari gerakan menyapa yang mengangkat ekor tegak ke atas, merawat diri dengan menjilati rambut, sampai berkomunikasi dengan sesama kucing. Tidak hanya bahasa tubuh yang ditiru, tetapi juga bagaimana karakteristik manusia agar bisa bertahan hidup, seperti sikap perasa dalam mengurus anak, kemandirian dalam mencari makanan, dan senang mengeksplorasi luar daerah kekuasaan.

Bagi penulis fiksi, kedekatan biologis dan perilaku adaptif kucing menjadi anugerah kreatif. Penulis bisa dengan mudah merepresentasikan diri, emosi, dan pemikiran dalam sebuah cerita yang kompleks. Penulis juga bisa mengubah sosok kucing menjadi sosok “avatar” yang mampu memanifestasikan sifat humanis tanpa kehilangan pesona alaminya sebagai hewan.

Jadi, pemilihan kucing untuk menghidupkan nyawa dalam sebuah cerita fantasi termasuk strategi komunikasi yang cerdas bagi seorang penulis. Dengan meminjam suara dan sudut pandang seekor kucing, penulis bisa meminimalisir gesekan yang terjadi di dunia nyata. Seolah-olah pesan yang bersifat kritikan atau sindiran terasa lebih halus, netral, dan kontemplatif sehingga pembaca dapat menerima pesan moral dengan kepala dingin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article