Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Merasa Tertinggal di Usia 20–30? Jawabannya Bikin Kamu Tersadar

Kenapa Merasa Tertinggal di Usia 20–30? Jawabannya Bikin Kamu Tersadar
Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Zeyneb Alishova)

Memasuki usia 20–30 tahun, banyak orang mulai membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat teman sudah sukses, menikah, atau punya karier mapan sering kali membuat muncul perasaan tertinggal. Padahal, setiap orang punya jalan hidup dan waktu yang berbeda-beda, meski hal itu tidak selalu mudah untuk diterima.

Perasaan tertinggal ini juga mungkin dipicu oleh tekanan sosial dan ekspektasi yang tidak realistis. Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat lebih cepat dan sempurna, sehingga tanpa sadar kamu merasa harus mengikuti ritme yang sama.

1. Hidup terlihat cepat, kita terasa lambat

Ilustrasi merenung (unsplash.com/Photo by Yeo Yonghwan)
Ilustrasi merenung (unsplash.com/Photo by Yeo Yonghwan)

Di usia 20–30, banyak orang mulai melihat pencapaian orang lain yang tampak begitu cepat. Ada yang sudah punya pekerjaan mapan, menikah, bahkan punya rumah sendiri. Hal ini sering membuat kamu merasa tertinggal, seolah hidupmu berjalan lebih lambat dari orang lain.

Menurut psikolog klinis Alex Fowke, periode ketidakamanan, keraguan, dan kekecewaan seputar karier, hubungan, dan situasi keuangan biasanya mulai terjadi di usia 20-an. Ini merupakan krisis seperempat abad seseorang.

"Kaum muda (merasa) diberi tahu bahwa mereka memiliki banyak sekali peluang, tetapi terbelenggu oleh kurangnya stabilitas," ucapnya dikutip dari laman The Guardian.

"Ini bukanlah tanda kegagalan. Ini adalah tanda transisi pertumbuhan, gangguan, dan perubahan. Dan ini semakin normal di dunia yang lebih kompleks, tidak terjangkau, dan tidak pasti," tambah psikolog klinis Patrick Mullen, PsyD dikutip dari laman Doctor Mullen.

Padahal, yang terlihat di permukaan belum tentu mencerminkan keseluruhan perjalanan hidup seseorang. Setiap orang punya proses dan waktu yang berbeda. Membandingkan diri hanya dari hasil akhir orang lain sering membuat kamu lupa bahwa kamu juga sedang berjalan di jalurmu sendiri.

2. Media sosial penuh gaya, bikin hati ikut bertanya

ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Panagiotis Falcos)
ilustrasi bermain media sosial (unsplash.com/Panagiotis Falcos)

Media sosial sering menampilkan sisi standar terbaik dari kehidupan seseorang. Foto liburan, pencapaian karier, atau momen bahagia lainnya bisa terlihat seperti standar hidup yang harus dicapai. Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan hidupmu dengan apa yang kamu lihat setiap hari.

Dr. James Arkell, seorang psikiater konsultan di Rumah Sakit Nightingale London dan sering merawat anak muda, banyak pasiennya yang merasa kurang percaya diri. Hal ini salah satunya pengaruh masyarakat atau bisa juga dari sosial media.

“Seringkali anak muda berusia 20-an yang saya temui di sini cantik, berbakat, dan memiliki segalanya, tetapi mereka tidak menyukai diri mereka sendiri dan itu karena masyarakat membuat mereka merasa harus terus mengikuti standar yang tak henti-hentinya,” jelasnya.

Padahal, apa yang ditampilkan di orang media sosial hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Banyak hal yang tidak terlihat, seperti perjuangan, kegagalan, atau tekanan yang dialami. Jika terlalu sering membandingkan, kamu bisa kehilangan rasa percaya diri dan merasa hidupmu kurang berarti.

3. Punya ekspektasi tinggi, realita tak selalu sejalan

Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Khoa Võ)
Ilustrasi merenung (pexels.com/Photo by Khoa Võ)

Banyak orang tumbuh dengan gambaran bahwa di usia 20–30 harus sudah 'jadi sesuatu'. Harapan dari keluarga, lingkungan, atau bahkan diri sendiri bisa membuat tekanan semakin besar. Saat kenyataan tidak sesuai harapan, muncul perasaan gagal dan tertinggal.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada banyak faktor yang memengaruhi perjalanan seseorang. Kegagalan atau keterlambatan bukan berarti kamu tidak mampu, tapi bisa jadi kamu sedang berada di fase belajar yang penting.

Menurut Dr. Mullen banyak dari kita yang dibesarkan untuk percaya bahwa suatu hari nanti  'tujuan' kamu akan tercapai. Namun jika itu tidak terjadi, akan menjadi kekecewaan. Padahal bagi Mullen, tujuan itu harus kamu bangun sendiri dari bawah.

"Tujuan itu tidak ditemukan, tetapi dibangun, (dengan) tindakan demi tindakan, ke arah apa yang penting bagi kamu," jelasnya.

 

4. Takut salah langkah, akhirnya jalan di tempat

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Vitaly Gariev)

Rasa takut membuat keputusan yang salah sering membuat seseorang ragu untuk melangkah. Akibatnya, kamu jadi terlalu banyak berpikir tanpa benar-benar bergerak. Ini yang membuat kamu merasa tertinggal, karena melihat orang lain sudah lebih dulu mengambil langkah.

Padahal, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Tanpa mencoba, kamu tidak akan tahu mana yang benar atau salah. Justru dengan berani melangkah, kamu bisa lebih cepat menemukan arah yang sesuai untuk dirimu.

Merasa terjebak seringkali dianggap 'sinyal' bahwa kamu telah berada di ambang batas. Tetapi seringkali, ini tentang memberi ruang untuk masa kini dan mengambil tindakan yang berkomitmen menuju masa depan. Tindakan terkecil bisa mulai memulihkan rasa momentum dan keberdayaan.

"Ini bukan pekerjaan teoretis. Saya adalah terapis yang aktif dan praktis. Kita akan bekerja sama untuk membangun alat nyata dan kebiasaan yang berkelanjutan. Kamu akan belajar bagaimana mengatasi kebuntuan—tidak hanya dengan wawasan, tetapi juga dengan tindakan," saran Mullen.

5. Lupa menikmati proses, terlalu fokus pada sukses

Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Kelly Sikkema)
Ilustrasi stres bekerja (unsplash.com/Photo by Kelly Sikkema)

Banyak orang terlalu fokus pada tujuan akhir, seperti kesuksesan atau pencapaian tertentu. Akibatnya, proses yang sedang dijalani terasa kurang berarti. Kamu jadi merasa belum berhasil hanya karena belum sampai di titik yang diinginkan.

Padahal, setiap langkah kecil yang kamu ambil adalah bagian dari perjalanan. Dengan menikmati proses, kamu bisa lebih menghargai perkembangan diri sendiri. Kesuksesan bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang bagaimana kamu tumbuh sepanjang perjalanan itu.

Menurut Mullen. Usia 20-an dan 30-an kamu bukanlah rapor. Itu adalah laboratorium. Untuk itu, jadikan sebagai ruang untuk mengeksplorasi, bereksperimen, dan menciptakan sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai kamu, bukan harapan orang lain.

"Tidak ada satu garis waktu pun untuk sebuah 'kesuksesan'. Tidak ada jalan yang benar. Tidak ada daftar periksa tentang bagaimana menjalani hidup yang layak dijalani," tutup Mullen.

Pada akhirnya, merasa tertinggal di usia 20–30 adalah hal yang cukup umum dan manusiawi. Yang terpenting adalah bagaimana kamu menyikapi perasaan tersebut, apakah dijadikan tekanan atau justru sebagai dorongan untuk berkembang sesuai kemampuanmu sendiri.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pinka Wima Wima
EditorPinka Wima Wima
Follow Us