ilustrasi lelah bekerja (pexels.com/Anna Tarazevich)
Rasa cinta terhadap pekerjaan tidak menghilangkan berbagai faktor yang dapat memicu burnout. Beberapa di antaranya adalah:
Pekerjaan yang disukai pun bisa menguras tenaga jika tugas terus menumpuk, jam kerja terlalu panjang, dan waktu istirahat tidak mencukupi.
Seseorang bisa merasa tertekan ketika tidak memiliki banyak kendali terhadap jadwal, prioritas, beban kerja, atau cara menyelesaikan tugas.
Target yang terlalu tinggi atau tanggung jawab yang tidak jelas dapat menciptakan tekanan terus-menerus. Bahkan, pekerjaan yang awalnya menyenangkan bisa terasa melelahkan jika standar yang harus dicapai tidak masuk akal.
Bekerja dengan penuh dedikasi tanpa mendapatkan pengakuan atau penghargaan yang memadai juga dapat menguras motivasi. Pada akhirnya, seseorang bisa merasa usahanya tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan.
Notifikasi email, pesan kantor, dan aplikasi kerja membuat pekerjaan bisa ikut masuk ke waktu pribadi. Jika terjadi terus-menerus, otak tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk benar-benar beristirahat.
Seseorang mungkin menyukai profesinya, tetapi tidak cocok dengan budaya perusahaan, cara kerja tim, atau tanggung jawab tertentu. Ketidaksesuaian ini juga dapat menjadi sumber kelelahan emosional.
Beberapa pekerjaan membutuhkan empati dan keterlibatan emosional yang tinggi, seperti tenaga kesehatan, guru, konselor, atau pekerja sosial. Pekerjaan tersebut bisa terasa sangat bermakna, tetapi tetap menguras energi secara emosional.