Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Saat Demo Jadi Konten, Apa Batas antara Dokumentasi dan Eksploitasi?

Saat Demo Jadi Konten, Apa Batas antara Dokumentasi dan Eksploitasi?
ilustrasi demo (pexels.com/Amine M'siouri)
  • Kamera warga dapat mendokumentasikan demonstrasi dan memperluas informasi kondisi lapangan, tetapi niat perekaman membedakan fungsi bukti dengan konten yang mengejar viralitas.
  • Peserta aksi yang terekam tetap berhak atas keamanan identitas; pembuat konten dianjurkan meminta persetujuan bila memungkinkan, menghindari close-up, atau memburamkan wajah.
  • Video kericuhan dan emosi mudah diperkuat algoritma, terutama ketika dipotong tanpa konteks, sehingga dapat memperbesar amarah serta kecemasan penonton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Demonstrasi kini tak hanya berlangsung di jalanan saja, tetapi juga melalui layar ponsel. Ketika massa turun ke jalan membawa poster, berteriak menyampaikan aspirasi, atau berhadapan dengan aparat, kamera hampir selalu ikut merekam. Dalam hitungan menit, video dari lokasi bisa berpindah dari satu akun ke akun lain dan ditonton ribuan orang.

Fenomena ini membuat siapa pun bisa menjadi saksi sekaligus penyebar informasi dari sebuah aksi. Tujuannya bisa macam-macam, mulai dari memberi kabar, menunjukkan kondisi lapangan, sampai sekadar membagikan apa yang dilihat secara langsung. Masalahnya, tidak semua orang yang berada di dalam video datang ke demo untuk menjadi konten.

Di satu sisi, dokumentasi dari warga justru bisa membantu publik melihat kejadian yang mungkin luput dari pemberitaan. Namun di sisi lain, kamera juga bisa membuat momen yang penuh ketegangan berubah menjadi tontonan yang dikonsumsi sambil scroll media sosial. Lalu, kapan sebuah video masih bisa disebut dokumentasi dan kapan ia mulai mengeksploitasi orang di dalamnya? Batasnya memang tidak selalu kelihatan jelas.

  1. 1. Ingat, kamera juga bisa jadi alat dokumentasi

    Ilustrasi merekam menggunakan handphone
    Ilustrasi merekam menggunakan handphone (pixabay.com/SplitShire)

    Merekam demo sebenarnya bukan sesuatu yang bermasalah. Justru, keberadaan kamera di tangan masyarakat bisa membantu banyak orang melihat langsung apa yang terjadi di lapangan. 

    Menurut Lauren Duncan, PhD, profesor psikologi di Smith College, “Fakta bahwa sekarang semua orang memiliki ponsel yang dilengkapi kamera, dan kita juga memiliki banyak platform media sosial, membuat banyak orang bisa menjadi saksi langsung dari aksi protes, bukan hanya terhadap peristiwa yang memicu protes, tetapi juga terhadap aksi protes itu sendiri,” dilansir American Psychological Association.

    Kamera memang bisa punya fungsi penting dalam sebuah aksi. Video yang direkam warga dapat membantu memperlihatkan kondisi lapangan dari sudut pandang yang berbeda. Namun, niat tetap perlu diperhatikan. Kalau seseorang merekam untuk mendokumentasikan kejadian, memberikan informasi, atau menyimpan bukti, konteksnya tentu berbeda dengan merekam hanya karena menemukan momen yang dianggap akan viral.

  2. 2. Orang yang terekam tetap punya hak atas dirinya

    Seseorang memegang ponsel secara horizontal untuk merekam orang lain yang berada di hadapannya dalam ruangan.
    ilustrasi merekam seseorang (pexels.com/CoWomen)

    Masuk ke dalam frame kamera mungkin hanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi dampaknya bisa jauh lebih lama. Seseorang yang sedang mengikuti demo bisa saja punya alasan untuk gak ingin wajah, identitas, atau keberadaannya diketahui publik. Apalagi, foto dan video demonstrasi dapat berpotensi dilihat oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu. 

    Menurut Tara Pixley, profesor visual journalism di Loyola Marymount University, “Dalam situasi demonstrasi seperti sekarang, ketika ada tuduhan penjarahan dan kekerasan, pengawasan semakin ketat, serta ada risiko pengawasan dan penargetan oleh polisi yang terus berlanjut, menurut saya, persetujuan adalah hal yang paling utama. Persetujuan harus menjadi bagian yang penting dan tidak bisa dipisahkan dari pekerjaan saya ketika mendokumentasikan peristiwa ini,” dikutip dari Poynter.

    Walaupun memang dalam situasi demo, meminta izin kepada setiap orang yang masuk frame mungkin terkadang sulit. Namun, bukan berarti kita gak bisa lebih berhati-hati. Menghindari close-up wajah, memburamkan identitas, atau memilih angle yang gak mengekspos seseorang bisa menjadi langkah sederhana. Sebab, sekali video tersebar, kita gak pernah benar-benar tahu siapa saja yang akan melihat atau menyimpannya.

  3. 3. Jangan sampai algoritma ikut memperbesar amarah

    ilustrasi scrolling
    ilustrasi scrolling (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Ada alasan kenapa video kericuhan atau momen penuh emosi begitu mudah menarik perhatian. Kita cenderung berhenti scrolling ketika melihat sesuatu yang mengejutkan, marah, atau membuat penasaran. Masalahnya muncul ketika sebuah kejadian dipotong sedemikian rupa agar terlihat semakin dramatis, sementara konteks di baliknya justru hilang. 

    Dr. Murray Stein, MD, menjelaskan, “Media sosial menuangkan bahan bakar ke api yang memang sudah menyala. Seseorang mungkin sedang merasa cemas, lalu mendapatkan pesan-pesan yang mengonfirmasi ketakutan yang sudah ia rasakan. Hal ini memicu respons marah, lalu semuanya terus bergulir. Media sosial memperkuat nuansa emosional pada masa tersebut,” dikutip dari Psychology Today.

    Video yang memperlihatkan seseorang terluka, menangis, atau berada dalam situasi panik bisa membuat orang lain sadar terhadap sebuah peristiwa. Masalahnya bukan cuma pada videonya, tetapi bagaimana konten tersebut bisa ikut memperbesar emosi yang sudah ada pada penontonnya.

    Merekam demo bukan soal boleh atau gak boleh. Kamera justru bisa menjadi alat penting untuk mendokumentasikan sesuatu yang mungkin gak terlihat oleh semua orang. Namun, perlu diingat ada manusia di balik setiap wajah dan kejadian yang terekam. Jadi, sebelum upload gak ada salahnya bertanya kepada diri sendiri, “Kalau aku yang ada di dalam video itu, apakah aku akan merasa aman?”, karena gak semua hal yang bisa direkam harus langsung dijadikan konten.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More