Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ragebait Lagi Ramai saat Demo, Kenapa Kita Mudah Terpancing?

Ragebait Lagi Ramai saat Demo, Kenapa Kita Mudah Terpancing?
ilustrasi scrolling (pexels.com/Mary Taylor)
  • Ragebait memanfaatkan klaim, video, atau caption provokatif untuk memancing kemarahan demi engagement, terutama saat informasi demonstrasi ramai beredar.
  • Media sosial dapat memperkuat kecemasan dan ketakutan yang sudah ada melalui unggahan yang terasa mengonfirmasi kekhawatiran, sehingga emosi makin memanas.
  • Konten yang dianggap mengancam bisa memicu respons tubuh dan amigdala sebelum pemikiran rasional bekerja; memberi jeda sebelum berkomentar atau repost dapat membantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Media sosial belakangan terasa semakin ramai dengan unggahan soal demonstrasi. Di tengah arus informasi tersebut, kita mungkin menemukan beberapa video massa, potongan kejadian, atau caption bernada provokatif yang langsung bikin emosi naik. Fenomena semacam ini bukan cuma soal informasi yang salah, tetapi juga cara sebuah konten dirancang agar orang berhenti scrolling dan bereaksi.

Istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan strategi tersebut adalah ragebait, yakni konten yang sengaja memancing kemarahan atau kejengkelan demi mendapatkan engagement. Lantas, kenapa terkadang kita bisa begitu mudah terpancing hanya dari sebuah unggahan? Jawabannya, bukan semata-mata karena kita kurang kritis atau terlalu emosional.

Rasa marah memang punya mekanisme psikologis yang membuat perhatian kita lebih cepat tertuju pada sesuatu yang dianggap mengancam atau tidak adil. Jadi ketika sebuah konten berhasil membuat kita berhenti, membaca, berkomentar, atau membagikannya, konten tersebut justru berpotensi semakin terlihat oleh orang lain. Sebelum ikut mengetik komentar panjang, ada baiknya kita mengetahui dulu kenapa jebakan ragebait bisa bekerja seefektif itu.

  1. 1. Konten yang bikin marah memang lebih gampang mencuri perhatian

    Ilustrasi seseorang bereaksi emosional saat melihat berita melalui layar perangkat digital di hadapannya.
    ilustrasi emosi melihat berita (pexels.com/Alex Green)

    Ragebait bekerja dengan cara sederhana, yaitu dengan membuat seseorang merasa cukup terganggu sampai terdorong melakukan sesuatu. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari klaim yang sengaja kontroversial sampai video atau caption yang dibuat seolah-olah sangat mengejutkan. 

    Menurut Hansika Kapoor, PhD, seorang psikolog, “Konten berbasis emosi sangat mudah memancing klik karena bisa memicu audiens untuk memiliki, bahkan menyebarluaskan, opini mereka tentang unggahan tersebut,” dikutip dari Psychology Today.

    Itulah kenapa unggahan yang membuat kita berpikir “Serius orang bisa ngomong begini?”, justru bisa menjadi konten yang menguntungkan pembuatnya. Dalam konteks demo, caption yang sengaja dibuat menyulut emosi dapat membuat orang buru-buru mengambil sikap sebelum mengecek apakah informasi di dalamnya benar atau lengkap.

    Bahkan ketika kita berkomentar untuk membantah, sebenarnya kita sedang memberikan engagement yang diinginkan pembuat konten. Jadi, ketika rasa kesal muncul bukan berarti kita harus langsung menekan tombol komentar.

  2. 2. Media sosial bisa memperbesar emosi yang sudah kita rasakan

    ilustrasi emosi saat melihat media sosial
    ilustrasi emosi saat melihat media sosial (pexels.com/wayhomestudio)

    Ragebait tidak selalu menciptakan rasa marah atau cemas dari nol. Kadang, kita memang sudah merasa khawatir dengan situasi tertentu sebelum membuka media sosial. Kemudian, timeline mempertemukan kita dengan unggahan yang seolah-olah membenarkan kekhawatiran kita tersebut. Karena terasa sesuai dengan apa yang sudah kita pikirkan, informasi itu bisa lebih mudah dipercaya dan membuat emosi semakin kuat. 

    Dr. Murray Stein, seorang analis Jungian dan penulis, menjelaskan, “Media sosial menuangkan bahan bakar ke api yang sudah menyala. Seseorang mungkin sudah merasa cemas, lalu mendapatkan pesan-pesan yang mengonfirmasi ketakutan yang sudah ia rasakan. Hal ini memicu respons marah, dan semuanya pun mulai bergulir. Media sosial memperkuat nuansa emosional pada masa tersebut,” dilansir Psychology Today.

    Penjelasan tersebut terasa relevan ketika kita sedang mengikuti perkembangan demo dari media sosial. Kalau sejak awal sudah merasa cemas dengan kondisi yang terjadi, satu unggahan yang menguatkan ketakutan tersebut bisa terasa lebih meyakinkan daripada informasi yang lebih tenang. Sehingga, kita mungkin terus mencari konten serupa karena merasa sedang mencari kepastian, padahal yang terjadi justru emosi semakin dipanaskan. Karena itu, penting untuk membedakan antara informasi yang benar-benar membantu kita memahami situasi dan konten yang hanya membuat kita semakin takut atau marah.

  3. 3. Tubuh bisa bereaksi sebelum kita sempat berpikir panjang

    ilustrasi emosi negatif diri
    ilustrasi emosi negatif diri (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Terkadang bukan cuma pikiran yang ikut terpancing ketika melihat ragebait, tubuh kita juga bisa memberikan respons terhadap konten yang dianggap mengancam. Itulah sebabnya sebuah unggahan kadang membuat jantung terasa lebih cepat atau tubuh terasa tegang, bahkan sebelum kita selesai memahami isinya.

    Respons tersebut berkaitan dengan mekanisme fight-or-flight, yaitu sistem tubuh yang membantu kita menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman. Dalam situasi seperti ini, reaksi emosional bisa muncul lebih cepat daripada proses berpikir yang lebih rasional. 

    Menurut Cassidy Blair, PhD, psikolog klinis berlisensi sekaligus pendiri dan CEO Blair Wellness Group, “Hal ini terjadi karena pendeteksi ancaman di otak, yaitu amigdala, aktif bahkan sebelum kamu secara sadar menyadari apa yang sedang kamu baca,” dikutip dari Real Simple.

    Melihat konten yang bikin emosi memang susah dihindari, apalagi ketika isu yang dibahas sedang ramai dan menyangkut banyak orang. Namun, tidak semua unggahan yang membuat kita marah layak mendapatkan respons dari kita. Coba beri jeda beberapa detik sebelum memberikan komentar atau repost tentang sesuatu, terutama kalau informasinya terasa terlalu provokatif.

    Bisa jadi yang sedang diuji bukan cuma seberapa cepat kita mendapatkan informasi, tetapi juga seberapa mampu kita menahan diri untuk tidak langsung bereaksi. Karena terkadang, respon terbaik terhadap ragebait justru adalah tidak memberinya bahan bakar.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More