Kenapa Touch Grass Berubah dari Ejekan Internet Menjadi Gaya Hidup?

- Istilah touch grass awalnya sindiran bagi orang yang terlalu larut di internet, kini dimaknai sebagai pengingat untuk menjauh sejenak dari notifikasi dan aktivitas layar.
- Pada 2026, tren going analog mendorong aktivitas offline seperti membaca, jurnal, menggambar, merajut, serta pengalaman langsung seperti konser, hiking, thrifting, dan nongkrong bersama teman.
- Tinjauan 338 studi menemukan ruang hijau berkaitan dengan kesehatan mental dan pemulihan perhatian, meski metode penelitiannya beragam dan touch grass bukan solusi instan.
Kalau sering main media sosial, kamu mungkin pernah melihat seseorang yang disuruh touch grass. Secara harfiah, kata ini memang berarti menyentuh rumput. Akan tetapi, Kamus Merriam Webster mendefinisikannya sebagai ajakan untuk kembali melakukan aktivitas di dunia nyata setelah terlalu larut dalam kehidupan online.
Menariknya, kalimat yang awalnya terdengar seperti sindiran internet ini, sekarang terasa makin relevan. Di tahun 2026, aktivitas offline, hobi analog, sampai nongkrong tanpa terus melihat layar justru sedang naik daun. Jadi, apakah touch grass diam-diam berubah dari meme menjadi gaya hidup?
1. Awalnya sindiran buat yang terlalu online

Ilustrasi perempuan (pexels.com/Pixabay) Menurut Merriam Webster, touch grass memang sering digunakan sebagai sindiran untuk orang yang dianggap terlalu banyak menghabiskan waktu di internet sampai kehilangan perspektif tentang kehidupan nyata. Jadi, kalau seseorang terlalu serius berdebat soal drama internet, kalimat go touch grass kurang lebih berarti "keluar sebentar dan lihat dunia di luar layar'.
Namun, maknanya sekarang terasa semakin luas. Touch grass bisa dibaca sebagai pengingat untuk mengambil jarak dari notifikasi, konten, komentar, dan informasi yang datang tanpa henti. Bukan berarti harus meninggalkan internet sepenuhnya, tetapi memberi ruang untuk kembali menikmati aktivitas yang tidak selalu membutuhkan layar.
2. Hidup offline malah jadi tren di 2026

Ilustrasi hobi (magnific.com/magnific) Hidup tanpa terus menatap layar mulai terasa menarik lagi. Tren going analog mendorong orang kembali menikmati aktivitas sederhana seperti membaca buku fisik, menulis jurnal, menggambar, merajut, sampai membawa analog bag berisi berbagai benda yang bisa jadi alternatif saat tangan refleks ingin mengambil ponsel. Fenomena ini dikutip dari Meredith Wilshere, penulis lifestyle di PEOPLE, dalam artikelnya tentang tren hidup analog pada 2026.
Energi serupa juga terlihat di kalangan Gen Z yang mulai mencari lebih banyak pengalaman langsung di dunia nyata. Konser, hiking, thrifting, farmers market, hingga sekadar coffee run bersama teman, kembali menarik karena menawarkan interaksi dan rasa kebersamaan yang sulit didapat hanya dari layar.
3. Ternyata alam memang punya efek restoratif

Ilustrasi pemandangan (magnific.com/jcomp) Keinginan untuk benar-benar keluar dan melihat ruang hijau, juga punya dasar psikologis. Jurnal Frontiers in Public Health pada 2024 membahas Attention Restoration Theory. Teori ini menjelaskan bahwa lingkungan alami dapat memberi perhatian yang lebih effortless dan menciptakan sensasi menjauh sejenak dari tuntutan sehari-hari sehingga membantu proses pemulihan perhatian.
Penelitian tersebut merupakan scoping review yang menelaah 338 studi tentang paparan ruang hijau dan kesehatan mental. Para peneliti menemukan banyak studi yang menghubungkan ruang hijau dengan berbagai aspek kesehatan mental dan pemulihan psikologis, tetapi mereka juga menegaskan bahwa metode penelitian yang digunakan, masih sangat beragam. Jadi, touch grass tentu bukan solusi instan untuk semua masalah, tetapi keluar sebentar dan memberi otak suasana berbeda memang punya dasar ilmiah yang menarik.
Touch grass mungkin lahir sebagai ejekan internet, tetapi pesannya justru makin relate di tengah hidup yang serba digital. Sesekali tutup layar, keluar rumah, dan nikmati dunia nyata, siapa tahu memang itu yang sedang kamu butuhkan!





















