Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kerja untuk Hidup Bukan Hidup untuk Kerja, Paling Relevan Zaman Now?
Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by A. C.)

Di tengah budaya kerja yang serba cepat, muncul kembali ungkapan ‘kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja.’ Kalimat sederhana ini ramai dibahas di media sosial, podcast, hingga ruang diskusi profesional karena dianggap mewakili keresahan banyak orang yang merasa hidupnya hanya berputar di antara target, rapat, dan tenggat waktu.

Pertanyaannya, apakah filosofi tersebut masih relevan di era modern yang penuh persaingan? Simak ulasannya di bawah ini!

1. Mengapa filosofi “kerja untuk hidup” semakin populer?

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by Creatopy)

Perubahan teknologi membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Pesan pekerjaan bisa datang kapan saja melalui ponsel atau aplikasi percakapan, sehingga banyak orang merasa selalu 'siaga' meskipun sudah berada di rumah.

Kondisi ini memicu munculnya gerakan untuk menetapkan batas yang lebih sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pandangan tersebut diperkuat oleh penelitian mengenai kesejahteraan kerja. Gallup, perusahaan analitik dan konsultasi manajemen global, menilai bahwa sekadar mengurangi jam kerja tidak selalu menyelesaikan masalah apabila kualitas pengalaman bekerja tetap buruk.

"Kuantitas pekerjaan memang penting, tetapi kualitas pekerjaan jauh lebih penting," tulis laporan Gallup dalam pembahasannya mengenai kesejahteraan karyawan.

Hal ini menunjukkan bahwa slogan “kerja untuk hidup” bukan berarti menghindari pekerjaan. Filosofi tersebut lebih mengajak seseorang menempatkan pekerjaan sebagai salah satu bagian penting dalam hidup, bukan sebagai satu-satunya identitas atau tujuan hidup.

2. Burnout menjadi pengingat bahwa bekerja berlebihan memiliki risiko

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by Mert Coşkun)

Fenomena burnout semakin sering dibicarakan karena banyak pekerja mengalami kelelahan emosional dan kehilangan motivasi akibat tekanan pekerjaan yang terus-menerus. Kondisi ini dapat berdampak pada produktivitas, kesehatan mental, hingga hubungan dengan keluarga.

"Burnout sama besar hubungannya dengan kondisi kerja maupun faktor pribadi, dan ketika ada ketidaksesuaian antara seseorang dan pekerjaannya, risiko burnout akan lebih besar," kata psikolog Christina Maslach, profesor emerita dari University of California, Berkeley dikutip dari World Economic Forum.

Maslach juga menekankan pentingnya memperbaiki sistem kerja, bukan hanya meminta individu menjadi lebih tangguh. Pendekatan ini membuat filosofi “kerja untuk hidup” semakin relevan sebagai upaya menjaga keberlanjutan karier dan kualitas hidup.

3. Bekerja tetap penting karena memberikan makna dan tujuan

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by cottonbro studio)

Meski banyak orang mendukung keseimbangan hidup, para ahli juga mengingatkan bahwa bekerja bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Pekerjaan dapat memberikan rasa pencapaian, kesempatan berkembang, hingga koneksi sosial yang bermakna.

"Pekerjaan yang bermakna adalah bagian penting dari kehidupan yang memuaskan," laporan Gallup ketika bertanya kepada orang-orang di seluruh dunia apa yang paling mereka inginkan dan jawaban yang paling umum adalah pekerjaan yang baik.

Karena itu, ungkapan “kerja untuk hidup” sebaiknya tidak diartikan sebagai bekerja sesedikit mungkin. Filosofi ini lebih tepat dipahami sebagai upaya memastikan pekerjaan mendukung kualitas hidup, bukan menghabiskan seluruh energi hingga mengorbankan kesehatan dan hubungan dengan orang-orang terdekat.

4. Keseimbangan hidup membutuhkan batasan jelas

Ilustrasi bekerja (pexels.com/Photo by RDNE Stock project)

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah sulitnya memisahkan waktu kerja dengan waktu pribadi, terutama sejak berkembangnya sistem kerja fleksibel dan jarak jauh. Tanpa batasan yang jelas, seseorang bisa merasa selalu bekerja meski jam kantor telah berakhir.

"Batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin memudar seiring perkembangan teknologi digital dan pola kerja modern," tulis Healthline yang ditinjau oleh psikolog klinis Karin Gepp, PsyD.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan pengaturan waktu yang baik. Karena itu, menetapkan jam istirahat, mengambil cuti saat diperlukan, dan melindungi waktu bersama keluarga merupakan langkah praktis agar pekerjaan tetap menjadi alat untuk menunjang kehidupan, bukan mengambil alih seluruh aspek kehidupan.

5. Relevankah filosofi ini untuk masa sekarang?

Ilustrasi bekerja (unsplash.com/Photo by A. C.)

Melihat tren saat ini, filosofi “kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja” tampaknya akan semakin penting. Generasi muda cenderung lebih memperhatikan kesehatan mental, fleksibilitas kerja, dan kesempatan menikmati kehidupan di luar kantor dibanding hanya mengejar jabatan atau pendapatan.

Pada akhirnya, filosofi tersebut bukan ajakan untuk mengurangi semangat bekerja. Melainkan juga sebagai pengingat bahwa karier yang sukses akan lebih bermakna jika dibangun sejalan dengan kesehatan, keluarga, relasi sosial, dan kebahagiaan pribadi.

Ungkapan “kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja” masih sangat relevan di tengah perubahan dunia kerja modern. Pesannya bukan menolak kerja keras, melainkan mengajak setiap orang untuk menempatkan pekerjaan secara proporsional agar tidak mengorbankan aspek kehidupan lain yang sama pentingnya.

Editorial Team

Related Article