Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Keterampilan Dasar yang Mulai Jarang Dikuasai Anak Zaman Sekarang

4 min read
6 Keterampilan Dasar yang Mulai Jarang Dikuasai Anak Zaman Sekarang
ilustrasi orangtua dan anak bermain jengga (pexels.com/rdne)
Share Article

Anak-anak zaman sekarang tumbuh dengan teknologi yang semakin dekat dalam keseharian. Meski terbiasa dengan perangkat digital, sejumlah keterampilan dasar yang dulu sering dilatih kini mulai jarang dilakukan. Karena itu, kemampuan seperti berkomunikasi langsung, menggunakan motorik, dan menjaga fokus tetap penting untuk diperhatikan.

Bukan berarti semua anak mengalami kesulitan yang sama, tetapi sejumlah pendidik melihat adanya perubahan pada beberapa keterampilan dasar tersebut. Lantas, keterampilan apa saja yang mulai jarang dikuasai anak zaman sekarang? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini!

  1. 1. Berkomunikasi secara langsung

    ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro)
    ilustrasi anak kecil bermain (pexels.com/cottonbro)

    Berkomunikasi bukan sekadar mampu berbicara, tetapi juga mendengarkan, merespons lawan bicara, bergantian berbicara, dan memahami situasi sosial. Kebiasaan berinteraksi lewat pesan singkat atau perangkat digital membuat kesempatan anak untuk melatih percakapan secara langsung bisa berkurang.

    Padahal, percakapan sehari-hari menjadi ruang penting bagi anak untuk belajar membaca respons orang lain dan menyampaikan pikirannya dengan jelas. Kemampuan ini juga berkaitan dengan keterampilan sosial yang akan terus mereka gunakan saat berada di sekolah maupun lingkungan sosial.

    “Mungkin hal terbesar yang saya lihat pada anak muda adalah kurangnya keterampilan komunikasi atau kurangnya kepercayaan diri untuk berbicara dengan orang lain,” ujar Laurie Kopp Weingarten, President & Chief Educational Officer di One-Stop College Counseling, dikutip dari Parents.

  2. 2. Menggunakan keterampilan motorik halus

    ilustrasi anak-anak melukis (pexels.com/artempodrez)
    ilustrasi anak-anak melukis (pexels.com/artempodrez)

    Memegang pensil, menggunakan gunting, menggambar, menyusun balok, atau memegang krayon merupakan beberapa aktivitas yang melatih motorik halus anak. Kemampuan ini penting karena membantu anak mengoordinasikan gerakan tangan dan mata saat melakukan berbagai kegiatan di sekolah maupun saat bermain.

    Namun, sejumlah pendidik melihat keterampilan motorik halus anak mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam survei EdWeek Research Center pada Januari 2026, lebih dari separuh responden mengatakan kemampuan motorik halus yang sesuai usia pada siswa mereka menurun dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara 77 persen menilai peningkatan waktu menggunakan layar menjadi salah satu faktor yang berkontribusi.

  3. 3. Membaca jam analog dan menggunakan peta

    ilustrasi anak kursus private (pexels.com/mikhailnilov)
    ilustrasi anak kursus private (pexels.com/mikhailnilov)

    Jam digital dan navigasi berbasis GPS membuat anak gak selalu punya kebutuhan untuk membaca jam analog atau mencari arah menggunakan peta. Akibatnya, keterampilan yang dulu sering terlatih secara alami melalui aktivitas sehari-hari kini bisa terasa lebih asing bagi sebagian anak.

    Bukan berarti kemampuan tersebut sepenuhnya sudah gak relevan, tetapi anak tetap bisa mendapat manfaat dari mengenalnya. Membaca jam analog, misalnya, dapat menjadi latihan untuk memahami konsep waktu, sementara membaca peta membantu anak mengenali arah dan posisi suatu tempat.

    “Kemajuan teknologi telah mengubah cara kita berinteraksi dengan media cetak dan lokasi. Teknologi GPS hanya mengharuskan kita memasukkan alamat untuk mendapatkan petunjuk arah,” ujar Curby Alexander, associate professor of education di Texas Christian University, dikutip dari Parents.

  4. 4. Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri

    ilustrasi anak-anak sedang menuangkan susu ke dalam mangkuik
    ilustrasi anak-anak sedang menuangkan susu ke dalam mangkuik (pexels.com/tima-miroshnichenko)

    Keterampilan dasar anak juga terlihat dari kemampuannya mengurus kebutuhan sederhana tanpa selalu dibantu orang dewasa. Memakai pakaian, mengikat tali sepatu, atau mengikuti rutinitas harian mungkin terlihat sepele, tetapi aktivitas tersebut menjadi bagian dari proses anak belajar mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

    Education Week melaporkan 54 persen pendidik dalam survei Januari 2026 melihat siswa mereka lebih kesulitan mengikat tali sepatu dibandingkan anak seusia mereka dua tahun sebelumnya. Temuan ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk melakukan tugas sehari-hari sendiri tetap penting agar anak terbiasa mencoba, menyelesaikan masalah sederhana, dan membangun rasa percaya diri.

  5. 5. Menulis dengan ejaan dan tata bahasa yang tepat

    ilustrasi anak menulis (pexels.com/mariaturkmani)
    ilustrasi anak menulis (pexels.com/mariaturkmani)

    Kebiasaan berkomunikasi lewat chat juga bisa memengaruhi cara anak menulis dalam situasi formal. Singkatan, penggunaan huruf yang gak konsisten, hingga tanda baca yang diabaikan dalam percakapan digital dapat terbawa ketika mereka harus menulis untuk keperluan sekolah.

    Menurut Laurie Kopp Weingarten, ia melihat anak-anak semakin terbiasa menulis dengan tata bahasa dan tanda baca yang kurang tepat karena terlalu sering menggunakan gaya penulisan dalam pesan singkat. Karena itu, latihan menulis secara terstruktur tetap diperlukan agar anak dapat membedakan bahasa percakapan digital dan tulisan formal.

    “Anak-anak gak menulis dengan baik. Mereka sangat terbiasa mengirim pesan sehingga mereka menulis dengan tata bahasa dan tanda baca yang salah,” ujar Laurie Kopp Weingarten.

  6. 6. Fokus dan mengatur emosi

    ilustrasi anak menyusun pensil warna (pexels.com/mikhailnilov)
    ilustrasi anak menyusun pensil warna (pexels.com/mikhailnilov)

    Kemampuan duduk tenang, mengikuti instruksi, menunggu giliran, dan tetap fokus merupakan bagian dari keterampilan dasar yang membantu anak mengikuti kegiatan di sekolah. Ketika kemampuan regulasi diri belum berkembang dengan baik, aktivitas belajar sederhana pun bisa terasa lebih sulit bagi mereka.

    Survei EdWeek Research Center pada Januari 2026 menunjukkan 72 persen responden mengatakan siswa mereka lebih kesulitan mengikuti instruksi dibandingkan anak seusia mereka dua tahun sebelumnya. Pendidik juga melaporkan adanya tantangan dalam mengelola emosi, seperti menangis, berteriak, atau sulit menghadapi situasi ketika sesuatu gak berjalan sesuai keinginan.

    “Interaksi sosial sangat kompleks. Ada begitu banyak komponen yang perlu dipelajari anak seiring waktu. Mereka harus mempelajarinya melalui kesalahan, mencoba memperbaiki, lalu kembali membangun hubungan,” ujar Melissa Tsuei, educational consultant dan early childhood special educator, dikutip dari Parents.

    Pada akhirnya, keterampilan dasar gak selalu harus diajarkan melalui kegiatan khusus yang rumit. Banyak di antaranya justru bisa dilatih lewat percakapan, bermain, menulis, membantu pekerjaan sederhana, dan memberi anak kesempatan untuk mencoba sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More