ilustrasi bermain gadget (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
Anak-anak memang memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dengan teknologi baru karena mereka tumbuh ketika teknologi digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung bereksperimen tanpa terlalu takut salah, mencoba berbagai fitur, lalu belajar dari pengalaman.
Jadi, tidak mengherankan jika seorang anak bisa mengajari orangtuanya cara membuat prompt, menggunakan chatbot, atau menghasilkan gambar dengan AI. Survei Common Sense Media menemukan adanya kesenjangan pengetahuan antara orangtua dan anak mengenai AI.
Dalam survei 2023, hanya 30 persen orangtua yang mengatakan pernah menggunakan ChatGPT atau mengetahui banyak tentangnya, sementara angka tersebut mencapai 58 persen pada siswa usia 12–18 tahun. James P. Steyer, founder dan CEO Common Sense Media, menekankan bahwa orang dewasa memang perlu mengejar ketertinggalan tersebut.
"Jelas sekali bahwa orangtua dan seluruh lapisan masyarakat masih harus banyak mengejar ketertinggalan serta membutuhkan sumber informasi tepercaya dan aturan yang jelas untuk menghadapi dampak AI terhadap masyarakat dan anak-anak kita,” ujarnya dalam Common Sense Media.
Orangtua tidak perlu merasa kalah hanya karena anak lebih cepat menguasai AI. Justru, kondisi tersebut bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk berbagi pengetahuan sekaligus bagi orangtua untuk mengambil peran sebagai pendamping yang membantu anak memahami konsekuensi penggunaan teknologi.