"Pengaturan privasi dan kontrol orangtua adalah fitur penting untuk melindungi hak anak terhadap privasi dan agar mereka selalu aman di dunia maya. Namun, anak pun perlu belajar caranya berada di dunia maya secara bertanggung jawab dan independen," demikian laporan UNICEF Indonesia.
Anak Makin Canggih Berinternet, Apa yang Harus Orangtua Lakukan?

Anak-anak zaman sekarang bisa menemukan informasi, mengunduh aplikasi, membuat akun media sosial, sampai memahami tren internet jauh lebih cepat daripada orangtuanya. Tidak sedikit orangtua yang akhirnya merasa tertinggal ketika anak mulai bertanya tentang istilah seperti FYP, algoritma, AI, deepfake, atau bahkan fitur privasi di media sosial.
Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan yang cukup sering terdengar: sebenarnya siapa yang harus belajar lebih dulu, anak atau orangtua? Jawabannya bukan berarti orangtua harus menguasai seluruh teknologi sebelum boleh memberikan aturan kepada anak.
1. Orangtua tidak harus lebih jago internet, tapi harus mau belajar

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Julia M Cameron) Banyak orangtua merasa minder ketika anak lebih cepat memahami teknologi. Anak mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk memahami fitur baru di aplikasi, sementara orangtua masih mencari tahu bagaimana cara menggunakannya. Perbedaan ini sebenarnya wajar karena anak tumbuh dalam lingkungan yang sejak awal sudah dipenuhi perangkat digital.
Namun, orangtua tetap memiliki peran penting karena pengalaman hidup dan kemampuan mengambil keputusan tidak bisa digantikan oleh sekadar kemampuan menggunakan gawai. Anak mungkin lebih paham cara membuka akun baru, tetapi belum tentu memahami konsekuensi ketika membagikan foto, lokasi, nama sekolah, atau informasi pribadi kepada orang lain.
2. Jangan hanya belajar cara mengoperasikan aplikasi, pelajari juga risikonya

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Nicola Barts) Mengetahui cara menggunakan Instagram, TikTok, YouTube, game online, atau chatbot AI belum otomatis membuat seseorang memiliki literasi digital. Literasi digital juga mencakup kemampuan memahami privasi, mengenali informasi palsu, mengetahui cara kerja algoritma, memahami jejak digital, serta mengetahui kapan sebuah interaksi online mulai berbahaya.
Jadi orangtua sebaiknya tidak hanya bertanya kepada anak, "Kamu main apa?" Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Kamu biasanya bertemu siapa di sana?", "Informasi apa yang kamu bagikan?", "Kalau ada orang asing menghubungi kamu, apa yang kamu lakukan?", atau "Menurutmu, bagaimana cara mengetahui berita itu benar?" Pertanyaan semacam ini membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis tanpa membuat percakapan internet terasa seperti interogasi.
"Jelaskan kepada anak bahwa, seperti juga di kehidupan nyata, tidak semua orang di internet bisa dipercaya. Ajarkan anak untuk berhati-hati saat berinteraksi dengan orang lain di dunia maya dan tidak membuka atau membagikan tautan atau lampiran surel yang mencurigakan," dikutip dari UNICEF Indonesia.
3. Berhenti menjadikan "screen time" sebagai satu-satunya masalah

Seorang pria begadang sambil bermain gadget (pinterest.com) Ketika anak terlalu sering menggunakan gawai, respons yang paling mudah biasanya adalah membatasi waktunya. "Matikan HP!" atau "Sudah, jangan main terus!" menjadi kalimat yang sering muncul di rumah. Padahal, persoalan penggunaan internet tidak selalu sesederhana jumlah jam yang dihabiskan di depan layar.
Anak bisa menggunakan internet untuk belajar, membuat karya, berkomunikasi dengan teman, bermain, mencari hiburan, atau sekadar melakukan doomscrolling. Dua anak yang sama-sama menghabiskan dua jam di depan layar belum tentu mendapatkan pengalaman yang sama. Karena itu, orangtua perlu melihat apa yang dilakukan anak di internet, bukan hanya menghitung berapa lama gawainya menyala.
Dalam artikel American Academy of Pediatrics (AAP) mengenai penggunaan media keluarga, dokter anak dan pakar media menekankan bahwa "content matters" dan kualitas konten perlu diperhatikan. Jadi bukan sekadar jumlah waktu di depan layar. AAP juga mendorong orangtua untuk terlibat dan memahami aktivitas digital anak.
"Konten itu penting. Kualitas konten lebih utama daripada platform atau durasi penggunaan media. Prioritaskan bagaimana anak menghabiskan waktunya, alih-alih sekadar mengatur pengatur waktu," sarannya.
4. Anak bisa jadi guru, orangtua tetap jadi pendamping

ilustrasi ibu mendampingi anak bermain gadget (pexels.com/Ketut Subiyanto) Ada satu hal yang sering dilupakan: orangtua juga bisa belajar dari anak. Anak mungkin mengetahui fitur terbaru di media sosial, memahami tren tertentu, atau lebih cepat mengenali aplikasi yang sedang populer. Tidak ada salahnya meminta mereka menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja.
Pendekatan ini bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi. Ketika orangtua bertanya dengan rasa ingin tahu, anak dapat merasa bahwa pengalamannya dihargai. Dari sana, percakapan tentang risiko internet juga bisa dilakukan dengan lebih natural.
"Doronglah penggunaan teknologi digital secara bersama-sama. Orangtua dapat belajar banyak mengenai penggunaan media digital dari anak-anak mereka," demikian laporan AAP.
5. Siapa yang harus belajar dulu? Jawabannya: orangtua dan anak

ilustrasi anak bermain gadget (pexels.com/Anna Shvets) Pada akhirnya, pertanyaan "siapa yang harus belajar dulu?" mungkin memang kurang tepat. Dunia internet bergerak terlalu cepat untuk dikuasai satu generasi saja. Platform baru muncul, algoritma berubah, teknologi AI berkembang, dan bentuk risiko digital juga ikut berubah.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan belajar bersama. Orangtua bisa mengajak anak mengecek pengaturan privasi, mendiskusikan sebuah video yang viral, membandingkan sumber berita, atau mencari tahu bersama ketika muncul aplikasi baru. Dengan begitu, anak tidak hanya mendapatkan aturan, tetapi juga belajar bagaimana mengambil keputusan ketika suatu hari tidak ada orangtua di sampingnya.
Jadi, orangtua tidak harus menjadi pengguna internet paling pintar di rumah. Anak pun tidak harus menunggu sampai orangtuanya memahami semua teknologi. Keduanya bisa belajar dari posisi masing-masing: anak membawa pengalaman sebagai generasi digital, sementara orangtua membawa kemampuan membimbing, menetapkan batasan, dan membantu anak memahami konsekuensi dari setiap pilihan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























