Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kriya Nusantara Dibikin Interaktif, Ada Apa di Kriyanusa 2026?

4 min read
Kriya Nusantara Dibikin Interaktif, Ada Apa di Kriyanusa 2026?
Konferensi Pers Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 dengan tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia” (IDN Times/Maura Thirza)
  • Kriyanusa 2026 digelar 26–30 September di JCC Jakarta, menghadirkan pengalaman digital immersive agar pengunjung dapat mengeksplorasi kriya Nusantara secara interaktif.
  • Konsep acara terinspirasi Sumatera Selatan, memadukan unsur bunga pacik dan tradisi daerah dengan tampilan kontemporer pada visual serta panggung utama.
  • Kriyanusa kembali memperkenalkan Leker Palembang, kerajinan ukiran kayu khas Sumatera Selatan yang mulai kurang dikenal generasi muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Kalau mendengar kata kriya, apa yang langsung terbayang? Kain bermotif, ukiran kayu, atau benda-benda yang biasanya kita lihat rapi di dalam etalase? Buat sebagian anak muda, kerajinan tradisional mungkin belum menjadi sesuatu yang dekat dengan keseharian. Bukan karena gak menarik, tetapi cara mengenalkannya terkadang terasa jauh dari dunia yang generasi muda kenal. Sementara itu, generasi sekarang sudah terbiasa berinteraksi dengan berbagai hal lewat layar. Mulai dari belanja, mencari inspirasi outfit, sampai mencoba pengalaman baru, semuanya bisa dilakukan secara digital. 

Tahun ini, Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 hadir dengan pengalaman mengenalkan kriya dengan cara yang sedikit berbeda. Acara ini akan berlangsung pada 26-30 September di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Tahun ini, pengunjung diajak berinteraksi dengan kriya lewat teknologi digital immersive. Jadi, bukan cuma melihat karya yang dipajang, tetapi pengunjung juga ikut mengeksplorasi lewat pengalaman digital.

  1. 1. Cara baru mengenalkan kriya kepada generasi muda

    Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian berbicara dalam penjelasan mengenai Pameran Kerajinan Nusantara Kriyanusa 2026.
    Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian menjelaskan terkait Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 (IDN Times/Maura Thirza)

    Kerajinan tradisional sebenarnya punya banyak hal yang bisa bikin penasaran. Ada cerita di balik setiap motif, teknik pembuatan yang gak instan, hingga identitas daerah yang melekat pada sebuah karya. Hanya saja, semua itu bisa terasa kurang dekat kalau pengalaman untuk mengenalnya hanya dengan melihat kerajinan tersebut di balik kaca.

    Teknologi kemudian bisa menjadi salah satu cara untuk mengubah pengalaman tersebut. Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian, menjelaskan bahwa immersive digital di Kriyanusa dibuat agar pengunjung dapat merasakan pengalaman yang lebih menyatu dengan ruang.

    “Di sana, kita bisa memasuki ruangan dengan suasana yang menyatu dengan pengunjung, di mana dengan sentuhan-sentuhan tangan ataupun nanti dengan wajah kita, itu akan nanti ditampilkan secara digital,” jelas Tri.

    Menurut Tri, konsep immersive tersebut terinspirasi dari Paviliun Indonesia di World Expo Osaka. Pendekatan ini menjadi salah satu cara agar pameran kriya gak hanya mengandalkan pengalaman melihat dan membeli produk saja.

  2. 2. Tradisi Sumatera Selatan dibawa dengan tampilan modern

    Panggung Utama Kriyanusa 2026 dengan dekorasi tradisional dan modern yang mengangkat pesona Sumatera Selatan.
    Penanggung Jawab Acara Panggung Utama Kriyanusa 2026, Evi Agus Andrianto mengatakan konsep panggung tahun ini mengangkat pesona Sumatera Selatan dengan memadukan unsur tradisional dan modern (IDN Times/Maura Thirza)

    Teknologi bukan satu-satunya cara untuk membuat kriya lebih dekat dengan generasi sekarang. Cara menampilkan unsur tradisional juga bisa memengaruhi bagaimana orang melihatnya. Panitia Penanggung Jawab Acara Panggung Utama Kriyanusa 2026, Evi Agus Andrianto, menjelaskan bahwa Sumatera Selatan menjadi inspirasi utama konsep Kriyanusa 2026 ini. Unsur tradisional seperti bunga pacik digunakan dalam visualisasi acara, kemudian dipadukan dengan pendekatan kontemporer.

    “Panggung utama menjadi etalase pemuda budaya Sumatera Selatan untuk Sumatera Selatan dengan tradisi di-combine dengan modern,” ujar Evi.

    Perpaduan tersebut membuat budaya daerah gak harus selalu tampil dengan format yang klasik. Unsur tradisionalnya juga tetap dipertahankan, namun cara menyampaikannya bisa dibuat lebih sesuai dengan selera visual dari masa kini.

  3. 3. Kerajinan Leker Palembang mulai dikenalkan lagi ke anak muda

    Ketua Dekranasda Sumatera Selatan Feby Herman Deru menyampaikan Kriyanusa 2026 sebagai momentum mengenalkan kriya daerah.
    Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Selatan Feby Herman Deru mengatakan kepercayaan sebagai ikon Kriyanusa 2026 menjadi momentum bagi Sumatera Selatan untuk memperkenalkan kekayaan kriya dan warisannya (IDN Times/Maura Thirza)

    Selain menghadirkan sesuatu yang baru lewat teknologi, ada juga kerajinan lama yang justru perlu diperkenalkan kembali. Salah satunya adalah Leker Palembang, kerajinan ukiran khas dari kayu yang dibawa dari Sumatera Selatan. Kayu yang diukir tersebut akan dilapisi getah yang dihasilkan oleh sejenis serangga.

    Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Selatan, Febrita Lustia Herman Deru, mengatakan Leker Palembang kini mulai kurang dikenal oleh generasi muda. Karena itu, kerajinan tersebut kembali diangkat agar anak-anak muda tahu bahwa daerahnya punya karya khas yang mungkin selama ini belum mereka kenal.

    “Kami memperkenalkan Leker Palembang. Karena Leker Palembang itu sudah hampir anak-anak muda tidak mengenal lagi dengan Leker Palembang. Itu adalah kerajinan ukiran khas dari kayu yang diukir khas Palembang.”

    Pengenalan seperti ini menjadi penting karena menjaga kriya bukan hanya soal mempertahankan produknya tetap ada. Generasi berikutnya juga perlu tahu nama, bentuk, dan cerita di balik karya tersebut.

    Kriyanusa 2026 mencoba mengambil jalan yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi digital masa kini. Dari pengalaman immersive sampai pengenalan kembali kerajinan daerah, Kriya Nusantara diberi ruang untuk hadir dalam bentuk yang lebih interaktif. Jadi, mengenal budaya bisa sesederhana melalui pengalaman digital yang bikin kita penasaran.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More