Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lia Sastrohadisubroto dan Children of Art: saat Coretan Anak Dirayakan

6 min read
Lia Sastrohadisubroto dan Children of Art: saat Coretan Anak Dirayakan
Lia Sastrohadisubroto, Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)
  • Children of Art lahir dari coretan Ilya setelah Lia resign, lalu berkembang dari stiker bazar menjadi berbagai produk ilustrasi.

  • Lia memegang ide dan copywriting, sementara Ilya menggambar berdasarkan deskripsi tanpa tekanan untuk mengikuti gambar jadi.

  • Lia memilih mendukung bakat menggambar Ilya dan tidak hanya berfokus pada nilai akademik, termasuk saat Ilya mendapat nilai matematika satu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Rapor dengan angka matematika yang kurang memuaskan, sering membuat suasana rumah mendadak tegang. Pada akhirnya, semua berlabuh pada keputusan les ditambah atau waktu bermain dikurangi. Bagi sebagian orangtua, nilai akademik memang masih jadi ukuran paling gampang untuk menilai kemampuan anak.

Lalu, bagaimana kalau anaknya memang tidak jago matematika, tapi bisa menggambar tanpa henti? Pertanyaan itu dijawab oleh seorang ibu bernama Sastrohadisubroto, sosok di balik brand Children of Art. Semua ilustrasi yang menghiasi stiker, tote bag, hingga kartu E-Toll di brand ini digambar oleh anaknya, Ilya, yang mulai berjualan sejak masih duduk di kelas 6 SD. Lia sendiri bertugas di sisi ide dan copywriting jenaka yang bikin orang senyum-senyum sendiri saat membacanya.

Pada Kamis (13/8/2026) silam, IDN Times berkesempatan berbincang dengan Lia secara luring di Agora Mall, Jakarta Pusat. Ia bercerita tentang awal mula Children of Art, cara ia mendampingi Ilya berkarya, hingga prinsip yang ia pegang dalam mendukung potensi anak.

  1. 1. Dari resign hingga coretan di iPad

    Lia Sastrohadisubroto, Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)
    Lia Sastrohadisubroto, Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)

    Children of Art lahir pada November 2023, bukan dari rencana bisnis yang tersusun rapi. Lia baru saja resign dari pekerjaannya di bidang marketing dan ia sedang memikirkan ke mana tabungannya sebaiknya diarahkan. Di tengah kebingungan itu, jawabannya ternyata ada di rumahnya sendiri.

    Awalnya, Lia dan Ilya hanya membuat coretan-coretan yang kemudian dicetak jadi stiker dan menjualnya di bazar-bazar pasar. Hasilnya di luar dugaan. Setelah mencoba ikut art market, peminatnya makin ramai, bahkan desain yang awalnya hanya coret-coretan jenaka berbunyi 'di sini gak jual es batu' ikut jadi favorit pembeli.

    "Sebelumnya aku karyawan, terus resign, punya tabungan. Ngelamar kerja kan susah ya, aku mikir gimana caranya biar uang ini bisa muter. Terus aku lihat anakku, si Ilya ini gambar mulu di tablet. Gambarnya banyak. Aku mikir, sayang banget kamu cuma gambar-gambar doang. Gimana kalau kita bikin stiker? Awalnya cuma stiker kita bikin, terus ikut bazar-bazar di pasar. Ternyata peminat stiker tuh banyak juga," jelasnya.

    Sebelum melangkah lebih jauh, Lia memastikan satu hal, yaitu apakah Ilya benar-benar mau. Tanpa tenggat paksaan dan tanpa tekanan, kesepakatan itulah yang membuat Children of Art terus berjalan sampai sekarang.

  2. 2. Anak 3 Tahun yang coretannya punya cerita

    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (instagram.com/childrenof.art)
    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (instagram.com/childrenof.art)

    Bakat Ilya sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum ada brand atau stiker. Lia sendiri dulu akrab dengan oil pastel dan krayon, sementara ayah Ilya adalah seorang penggiat mural, grafiti, dan kartun. Ia melihat ada sedikit bakat yang menurun, terutama ke arah doodle bergaya kartun.

    Saat masuk TK, kebiasaan itu terbawa ke buku tugas. Huruf A dari pelajaran A-B-C disulap Ilya jadi robot, ember, atau kain pel. Sampai di tingkat nol besar, gurunya sempat menegur karena bukunya penuh coretan. Bagi Lia, selama proses belajar anaknya gak terganggu, coretan itu bukan masalah.

    "Anak umur 3 tahun kan nyoret-nyoret tembok. Tapi aku lihat ini bukan cuma asal nyoret, biasanya anak nyoret kan benang kusut aja. Gambarnya dia ada bentuknya dan kalau aku tanya, dia bisa nyeritain ini apa, lagi ngapain. Itu ada ceritanya. Dari situ, aku beliin buku gambar. Sehari bisa habis 10 buku gambar. Dia juga gak mau pakai pensil, maunya pulpen. Sampai akhirnya, aku ganti kertas HVS, beli satu rim, satu rim, satu rim," ujar Lia.

    Dari situ, terlihat pilihan Lia sejak awal. Alih-alih melarang anaknya terus menggambar, ia memilih memfasilitasi dan bahkan mendukungnya, meskipun beberapa orang sekitarnya mungkin menganggap itu hanya coretan iseng anak-anak.

  3. 3. Cara kerja Children of Art: ibu mendeskripsikan, anak menggambar

    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)
    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)

    Di balik setiap produk Children of Art, ada pembagian peran yang jelas. Lia memegang ide dan copywriting, sementara seluruh visualnya digarap Ilya. Pembagian ini bukan kebetulan. Dari hasil tes psikolog yang pernah dilakukan, Ilya diketahui punya gaya belajar visual, sehingga ia lebih mudah mendeskripsikan sesuatu lewat gambar daripada lewat cerita atau tulisan.

    Karena itu, Lia gak pernah memberi gambar jadi untuk ditiru. Ia hanya menyampaikan kebutuhan, lalu membiarkan imajinasi Ilya bekerja. Revisi memang ada, tapi hanya sebatas perbaikan kecil. Lia menyebutkan, Ilya juga punya akun TikTok sendiri yang isinya video pendek proses menggambar dan Lia tetap memantau agar tetap berada di jalur yang positif.

    "Aku lihat dulu style gambarnya dia, badannya gimana, gambarnya kayak gimana. Contohnya, aku udah dapat kata-katanya, ‘Kerja gak harus semangat, yang penting berangkat’, tapi aku mikirin gambarnya apa. Nanti aku minta tolong sama dia, ‘Dek, bisa gak gambar orang berangkat kerja tapi dia males?’ Aku cuma deskripsi kayak gitu aja. Dia imajinasi sendiri, aku cuma deskripsiin aja aku butuh orang yang lagi begini. Untuk visualnya, full Ilya yang bikin," katanya.

    Kolaborasi ibu dan anak ini berjalan karena satu prinsip yang dijaga Lia. Ilya gak boleh merasa terpaksa mengerjakan sesuatu yang bukan keinginannya.

  4. 4. Konsep Children of Art sendiri adalah menertawakan duka dan luka lewat stiker

    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (instagram.com/childrenof.art)
    Hasil karya Ilya dan Lia untuk Children of Art (instagram.com/childrenof.art)

    Satu hal yang bikin Children of Art terasa beda adalah copywriting. Tujuan Lia sederhana, ia ingin orang yang melihat stikernya gak cuma berhenti di 'oh, ini stiker'. Namun bisa tertawa, relate, lalu bertanya di mana belinya. Idenya ia ambil dari keseharian, termasuk keresahan orang-orang di media sosial yang kemudian ia ubah jadi lelucon.

    Namun, ada satu kategori produk yang punya arti paling personal baginya. Di sana, copywriting bukan lagi sekadar jualan, melainkan cara Lia berdamai dengan masa kecilnya sendiri.

    "Sebenarnya produk yang nyambungnya ke trauma masa kecil. Sakit hatinya aku, pokoknya mau aku jual, mau aku jadiin uang. Ada stiker anak monyet, anak babi, anak setan. Zaman dulu kan orang tua agak keras, suka dikatain begitu. Sekarang aku mikir, anak setan gue bikin stiker sekarang. Dan ternyata orang suka, orang ketawa. Aku gak nyangka, ternyata bukan cuma aku yang dikatain anak setan, ternyata kalian juga," ucap Lia.

    Dari sana, sesuatu yang dulu menyakitkan berubah jadi ruang tawa bersama. Lia gak menyimpannya sendirian, ia membagikannya ke ribuan orang yang ternyata punya pengalaman serupa.

  5. 5. Prinsip Lia untuk anaknya: kembangkan bakat, bukan cuma kejar nilai

    Lia Sastrohadisubroto, Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)
    Lia Sastrohadisubroto, Children of Art (IDN Times/Nisa Zarawaki)

    Pandangan Lia soal parenting ini menyoroti bagaimana sebaiknya kita mengembangkan bakat yang dimiliki anak, bukan hanya mengejar nilai. Latar belakangnya sendiri jauh dari dunia seni. Ia kuliah Teknik Kimia dan sempat berkarier di bidang marketing. Keyakinannya bahwa anak bisa berkembang lewat bakatnya, tumbuh dari contoh nyata, termasuk dari kreator Indonesia yang berkarya di industri animasi internasional. Baginya, kalau orang lain bisa, anaknya pun bisa.

    Karena itu, pesannya untuk para ibu sederhana, yakni jadi supporter nomor satu, kenali gaya komunikasi dan gaya belajar anak. Jangan lupa juga perhatikan hal sekecil apa pun yang ia lakukan.

    "Orangtua tuh kalau ngelihat sesuatu yang anak gak bisa, anak gagal, jangan dimarahin deh. Ketawain aja. Karena kalau udah dimarahin, pressure banget pasti buat mereka. Daripada kita fokus sama sesuatu yang nilainya satu, mending kita fokus di nilai yang udah sembilan. Kalau di-push, dari sembilan bisa dua puluh. Daripada nilai satu di-push, paling dapetnya enam, uang keluar, energi keluar, emosi juga," ujarnya.

    Pesan itu lahir dari pengalaman Lia sendiri. Ilya pernah mendapat nilai matematika satu di sekolah dan ibunya memilih tertawa, bukan marah. Di sisi lain, Lia melihat bakat yang bisa dikembangkan dari diri Ilya, yakni menggambar. Maka, itulah yang Lia fokuskan.

    Bagi Lia, Children of Art bermula dari keputusan sederhana, yaitu memberi ruang bagi sang anak untuk terus menggambar dan percaya bahwa bakat sekecil apa pun layak dikembangkan. Hingga kini, Children of Art masih terus mengeluarkan karya-karya jenaka yang bikin orang tersenyum bahkan tertawa. Semuanya bisa dilihat di Instagram @childrenof.art.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More