Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kisah Dian Fadillah Bangun Puan Bisa, Fokus Berdayakan Perempuan Muda

10 min read
Kisah Dian Fadillah Bangun Puan Bisa, Fokus Berdayakan Perempuan Muda
Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)
  • Dian Yunita Fadilla mendirikan Puan Bisa pada 1 Oktober 2020 sebagai komunitas perempuan muda usia 16–23 tahun untuk mengenal diri, mengembangkan potensi, dan mengambil pilihan hidup secara mandiri.
  • Puan Bisa mengadakan konten digital, webinar, workshop, program ambassador, dan festival bertema karier, kesehatan mental, serta pengembangan diri; komunitas ini telah memiliki sekitar 100–200 alumni.
  • Fadil menyoroti tekanan membandingkan pencapaian di tengah standar sosial dan media sosial, serta menekankan ruang aman, dukungan kolektif, dan langkah bertahap untuk meraih mimpi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menjadi perempuan berarti menjalani perjalanan panjang untuk mengenali diri, merawat mimpi, dan menemukan keberanian dalam menavigasi kehidupan. Di balik setiap keputusan yang diambil, ada kesadaran bahwa perempuan berhak memiliki kendali atas pilihan-pilihannya, tanpa harus selalu tunduk pada ekspektasi yang dibebankan oleh sosial.

Namun, keberanian untuk melangkah tidak selalu dapat tumbuh sendirian. Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan dikuatkan demi langkah yang lebih jauh. Lingkungan yang positif serta dukungan dari sesama perempuan, dapat menjadi kekuatan untuk mengenali potensi diri. Dari setiap langkah dan dukungan, pemberdayaan perempuan menemukan maknanya. Bukan sekadar menjadi mandiri, namun juga memiliki kebebasan untuk menentukan kehidupan yang hendak dijalani.

Kesadaran akan pentingnya ruang bertumbuh bagi perempuan, turut menggerakkan Dian Yunita Fadilla atau akrab disapa Fadil untuk mendirikan Puan Bisa. Sebagai founder, Fadil melihat bahwa pemberdayaan perempuan perlu dimulai dari hal-hal mendasar, termasuk meningkatkan awareness dan keberanian untuk mengenali diri.

Mencintai diri bukan sekadar menerima kelebihan dan kekurangan, tetapi juga memahami bahwa setiap perempuan berhak mengambil pilihan hidup sesuai dengan kehendak dan potensi dirinya. Bagi perempuan lulusan S1 Bahasa Jerman ini, ketika perempuan memiliki ruang untuk bertumbuh dan keberanian untuk bersuara, terbuka pula kesempatan bagi mereka untuk merancang masa depan dengan lebih berdaya. Perjalanan Fadil dibagikan secara daring dalam wawancara bersama IDN Times pada Senin (26/10/26).

  1. 1. Perjalanan Fadil merintis komunitas untuk perempuan muda bertajuk Puan Bisa

    864207529_1145630284554874_897848172429533574_n.jpg
    Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)

    Ruang aman menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menemukan diri, tempat perempuan dapat berbagi cerita dengan aman tanpa pelanggaran privasi. Melalui dialog yang terbuka, pengalaman yang beragam, lahir beragam perspektif baru dan kepercayaan dalam sisterhood. Tak hanya itu, kekuatan itu bak dorongan bahwa setiap perempuan tidak harus menghadapi tantangannya seorang diri.

    Berangkat dari kesadaran tersebut, komunitas anak muda Puan Bisa berupaya menghadirkan lingkungan yang mendukung perempuan untuk bertumbuh dan berdaya. Komunitas ini ingin mendorong perempuan agar mampu mencintai dirinya sendiri, mengembangkan potensi, dan mengambil keputusan secara merdeka.

    Fadil memperkenalkan Puan Bisa sebagai komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karier, self-improvement, dan mental health. Tujuannya adalah membangun kesadaran perempuan muda, khususnya yang berusia 16-23 tahun, untuk mengembangkan potensi diri dan self-love. Komunitas yang didirikan sejak 1 Oktober 2020 lalu ini, memegang 4 pilar, yakni Together, Quality Innovation, Growing, dan Empowering. Telah berjalan selama 6 tahun, Fadil berbagi perjalanan penuh lika-liku.

    "Jadi memang awalnya, aku melihat banyak banget proses jadi perempuan muda. Gak cuma tentang mengejar prestasi, karier, tapi juga kayak yang wajib tuh sebenarnya mengenali diri sendiri. Makanya, berangkat dari itu, Puan Bisa tuh ada. Pengin menciptakan ruang yang bisa membantu perempuan muda untuk tahu dirinya sendiri," cerita Fadil mengenang perjalanan pertama ia dan partner mendirikan komunitas tersebut.

    Puan Bisa hadir sebagai ruang pemberdayaan yang mendorong perempuan untuk mengembangkan kapasitas diri, membangun karier, sekaligus lebih peduli terhadap kesehatan mental. Melalui kolaborasi, komunitas ini berupaya membuka kesempatan bagi perempuan untuk memperluas keterampilan, meningkatkan kemampuan profesional, dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri.

    "Di tengah lingkungan yang sering kali menempatkan perempuan dalam berbagai ekspektasi dan beban sosial, memiliki ruang untuk belajar dan bertumbuh bersama menjadi hal yang berarti. Puan Bisa pun membawa semangat bahwa setiap perempuan berhak menemukan jalannya sendiri tanpa harus terpaku pada standar keberhasilan yang ditentukan orang lain. Ingin menciptakan ruang yang bisa membantu perempuan muda tahu dirinya sendiri. Makanya, tujuan Puan Bisa adalah tagar kita, #MariBerkembangBersama. Jadi, ujungnya kamu mau berkembang atau mau shining seperti apa pun itu, terserah kamu, tapi at the end of the day, harus tahu dulu nih fondasi-fondasinya: self-love, terus kayak kenalan kenal sama diri sendiri," ceritanya.

    Memahami siapa diri kita, menerima segala kelebihan dan kekurangan, serta menyadari kebutuhan emosional menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sebab, setiap perempuan layak memiliki kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri dan tumbuh tanpa kehilangan arah.

  2. 2. Puan Bisa jadi ruang aman untuk perempuan berdialog, berkarya, dan berdaya

    866059695_1615604826780171_6388269779186449741_n.jpg
    Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)

    Puan Bisa menghadirkan berbagai kegiatan dengan fokus kesehatan mental dan pengembangan diri. Berdiri sejak masa pandemik COVID 19, komunitas ini aktif menyelenggarakan kegiatan edukatif melalui konten digital, webinar, dan workshop. Lokakarya dirancang berdasarkan kebutuhan audiens melalui pendekatan design thinking, diawali dengan identifikasi masalah, riset pasar, pengembangan konsep, hingga realisasi program. Setiap sesi dirancang interaktif untuk memberi ruang dialog dan menambah perspektif berpikir.

    "Kegiatan kita benar-benar fokusnya sama tiga pilar tadi: karier, mental health, dan self-improvement. Jadi misalnya floris, merangkai bunga, ada juga kayak itu kan mengarah ke karier ya, gimana misalnya mau starting business jadi floris atau apa," tutur Fadil.

    Puan Bisa turut menghadirkan lokakarya luring dengan beragam topik, seperti merangkai bunga yang tidak hanya mengajarkan keterampilan floris, tetapi juga membekali peserta dengan pengetahuan untuk mengembangkan bisnis di bidang tersebut. Tak berhenti di situ, Puan Bisa memiliki program Puan Bisa Ambassador dan agenda tahunan Puan Bisa Festival. Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari talkshow, journaling, dan berbagai aktivitas lain sebagai upaya untuk mengenali diri dari sudut pandang berbeda. Melalui beragam agenda tersebut, Puan Bisa berupaya menyediakan ruang belajar dan pengembangan kapasitas perempuan yang relevan dengan kebutuhan mereka, baik dalam kehidupan personal maupun profesional.

    Meski telah berkembang cukup pesat, Fadil menuturkan bahwa Puan Bisa tetap menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam membangun kepercayaan dan menjaga konsistensi. Menurutnya, tantangan tersebut tidak terlepas dari kondisi anggota tim internal yang masih menempuh pendidikan di bangku sekolah atau kuliah. Akibatnya, mereka perlu membagi waktu antara tanggung jawab akademik dan kegiatan komunitas.

    "Mostly lebih ke adanya konsistensi untuk terus berkembang, untuk selalu maju dengan inovasi-inovasi yang baru, sekaligus mengkoherenkan dengan apa yang sebenarnya terjadi di luar sana," tambahnya.

    Puan Bisa terus tumbuh, setidaknya tercatat alumni yang pernah bergabung mencapai 100-200 anggota. Bukan tanpa sebab, komunitas ini terus berupaya menghadirkan nilai-nilai togetherness, fight for innovation, growing, dan empowering. Terus tumbuh menjadi komunitas yang egaliter serta menghadirkan sense of belonging di antara anggotanya, dianggap Fadil sebagai kunci kekuatan untuk sampai di titik ini.

  3. 3. Isu kesehatan mental di kalangan muda: suka membandingkan diri dengan orang lain

    862613314_1107384052181066_7929123435713425975_n.jpg
    Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)

    Ada kalanya, perjalanan hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis finish. Kita menjadikan diri sebagai peserta lomba dengan orang lain sebagai kompetitor, lalu sibuk mengukur seberapa jauh langkah orang lain. Terlebih, di usia muda ketika semangat eksplorasi masih tinggi. Namun di sisi lain, kita juga mengikuti standar keberhasilan orang lain sebagai tolok ukur yang harus dipenuhi.

    Tanpa sadar, standar tersebut perlahan membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri. Apa yang semula menjadi motivasi untuk berkembang, justru bisa berubah menjadi tekanan ketika pencapaian orang lain dijadikan garis akhir. Problem semacam ini juga diakui Fadil kerap ditemuinya dari anggota Puan Bisa.

    Bicara soal persoalan mental health yang paling banyak dihadapi oleh anak muda, Fadil mengaku, "Menurutku, salah satu tantangan yang penting banget untuk dibicarakan kalau kita tarik dari Puan Bisa adalah tekanan untuk selalu jadi versi terbaiknya kita. Kita tuh kadang hidup di tengah-tengah lingkungan yang sering banget mengukur keberhasilan lewat pencapaian akademik, pekerjaan, penampilan, bahkan kayak produktivitas. Bahkan kadang membandingkan hidup kita. Nah ini, ini problematikanya."

    Kehadiran media sosial turut membuat batas antara perjuangan personal seseorang dengan pencapaian orang lain terasa selaras. Padahal, media sosial hanya menampilkan segelintir. Proses panjang, kegagalan, dan pergulatan yang terjadi di balik pencapaian tersebut acap kali tak turut serta ditampilkan.

    Fadil melihat bahwa salah satu tantangan pemberdayaan anak muda saat ini adalah bagaimana membantu mereka tetap mengenali nilai diri di tengah berbagai standar sosial yang terus berubah. Rasa percaya diri dan dorongan untuk menjadi versi terbaik, perlu dikuatkan. Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama, melainkan perjalanan personal yang setiap orang berhak jalani dengan kecepatannya masing-masing.

    "Semua itu bukan bukan racing. Setiap orang tuh punya pace masing-masing. Kadang, itu yang akhirnya mereka jadi stres sendiri. Kadang tuh, bisa jadi bahkan karena sering membandingkan diri sendiri, bisa jadi demotivasi dan overwhelming segala macam. Jadi, hal itu yang sebenarnya menurut aku perlu diwaspadai juga dan kita perlu concern sama hal itu," tuturnya.

  4. 4. Bicara akses dan kesetaraan untuk perempuan, sudahkah tercapai?

    Dian Fadilla 2.jpeg
    Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)

    Menurut hasil survei yang berhasil dihimpun oleh IDN Times, mengenai kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dalam pendidikan, sebagian besar perempuan mengaku tidak mengalami hambatan untuk meraih pendidikan (53,3 persen). Angka ini berselisih tipis dengan para perempuan yang merasa masih menghadapi hambatan terkait pendidikan (46,7 persen). Data tersebut menguatkan fenomena bahwa perempuan membutuhkan ruang aman untuk mencapai karier dan pendidikan yang setara. Dukungan dari sesama perempuan, lingkungan, dan masyarakat umum menjadi hal yang krusial.

    Bicara soal akses untuk mencapai kesetaraan bagi perempuan, Fadil menyebut, "Kalau menurutku, kesempatan atau akses itu sekarang sudah udah cukup tersebar, sudah ada, sudah beragam banget bagi perempuan muda saat ini. Apalagi dengan adanya internet, kelas-kelas daring, komunitas yang berjamur, komunitas perempuan dan aku kayak happy juga. Jadi, gak cuma tugasnya Puan Bisa doang, tapi banyak komunitas yang akhirnya bantu juga."

    Upaya kolektif memang dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang positif, terlebih untuk pengembangan diri bagi perempuan. Proses yang panjang dan melelahkan untuk mencapai target terbaik, perlu terus didukung. Sebagaimana Puan Bisa yang terus berkontribusi untuk membersamai perempuan agar lebih berdaya.

    "Jadi ruang aman memang harus diciptakan, gak cuma disiarkan doang, tapi benar-benar harus diciptakan secara nyata. Kalau memang kita ketika bikin komunitas atau kita bergabung, ya kita harus merangkul satu sama lain dan kita dengar apa yang mereka mau," tuturnya.

  5. 5. Fadil berpesan untuk perempuan Indonesia agar terus bermimpi

    Dian Fadilla.jpeg
    Dian Yunita Fadilla, founder komunitas Puan Bisa. (dok.Dian Yunita Fadilla)

    Puan Bisa terus tumbuh menjadi ruang untuk menemani banyak perempuan muda berproses, menemukan jati dirinya hingga mencapai potensi terbaiknya. Dalam perjalanannya, tentu ada keraguan, ketakutan, dan mungkin kekhawatiran bahwa mimpi yang disemogakan tak akan pernah tercapai. Fadil mengutip kata-kata yang cukup populer dari Sukarno, "Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang."

    "Ketika kita punya goals, punya mimpi, atau punya target apa pun, kalau memang itu terlalu besar dan itu menakutkanmu, berarti itu akan mengubahmu. Intinya, sesuatu yang benar-benar bikin kita deg-degan atau apa pun, itu berarti dia akan mengubah kamu jadi orang yang lebih sukses. Pun kalau misalnya ada mimpi besar kamu, coba untuk di-breakdown kecil-kecil gitu, practically-nya. Breakdown kecil-kecil, step-by-step untuk menuju goals yang tinggi. Jadi, bukan berarti aku harus langsung dapat mimpi yang besar ini, tapi ada step-by-step kecil-kecil, little step-nya untuk bisa sampai ke atas sana," tambahnya.

    Keyakinan bahwa setiap perempuan akan berdaya dan dapat mencapai mimpi mereka, apa pun itu, selalu digenggam kuat oleh Fadil. Hal itu menjadi kekuatan untuknya agar Puan Bisa dapat diterima dan menjadi bagian untuk berproses bagi lebih banyak perempuan.

    "Aku berharap Puan Bisa itu bisa jadi playground buat seluruh perempuan muda untuk mereka terus belajar, untuk keep shining, shimmering, splendid di mana pun mereka berada. Untuk benar-benar jadi playground untuk mencoba banyak hal. Dan mereka merasa ada sisterhood dan tagar #MariBerkembangBersama di Puan Bisa tuh benar-benar lengket ke mereka. Dan di mana memang sebenarnya komunitas perempuan itu adalah tempat untuk kita empowering each other. Jadi harapannya, ya kita bisa growing bersama, kita bisa shining, shimmering, splendid bareng-bareng dan mencapai mimpinya masing-masing," tutupnya.

    Pengalaman Fadil dalam memimpin Puan Bisa mengajarkan dirinya banyak hal. Fadil berpesan agar anak muda tidak membatasi diri hanya karena menganggap dirinya memiliki mimpi yang terlalu besar. Ia mengingatkan bahwa keberanian untuk mencoba jauh lebih penting daripada terlalu lama meragukan kemampuan diri sendiri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More