"Sekarang, dunia terlalu banyak di dunia maya. Kita membutuhkan interaksi nyata, karena media sosial kerap banyak pressure. Berangkat dari situ, kita berinovasi menciptakan ruang buat gen Z agar menemukan personality, kondisi kulit, hingga aktivitas seperti journaling atau crafting," kata Nastiti Prawitasari, Brand Representative Lightplus.
Lightplus Bikin Acara Piknik, Ajak Gen Z untuk Touch Some Grass!

Jakarta, IDN Times - Di tengah hidup yang serba digital, kadang kita butuh momen buat rehat sejenak dari layar dan benar-benar hadir di dunia nyata. Nah, hal itulah yang coba dijawab Lightplus lewat acara Lightperience Picnic 2026 yang resmi dibuka pada Jumat (17/7/2026) di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Acara ini akan dilangsungkan selama 3 hari!
Dikemas dalam konsep piknik yang memang lagi hype, Lightperience Picnic menghadirkan berbagai aktivitas positif seperti journaling dan crafting, sekaligus jadi wadah buat Gen Z menemukan kembali personality dan kondisi diri mereka lewat interaksi nyata. Gak cuma soal wellness, acara ini juga menyentuh sisi beauty yang kini makin dianggap saling berkaitan sama kesehatan mental. Yuk, simak lebih lengkap keseruan acaranya di bawah ini!
1. Latar belakang lahirnya Lightperience Picnic, menyasar ke gen Z

Konsep Lightperience Picnic ini berangkat dari kebutuhan nyata para Gen Z yang saat ini terlalu banyak menghabiskan waktu di dunia maya. Media sosial memang membuka banyak peluang buat berinteraksi, tapi di sisi lain juga sering menghadirkan ekspektasi digital dan tekanan yang gak sehat buat penggunanya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Lightplus berinovasi menciptakan ruang khusus buat Gen Z menemukan personality, kondisi diri, sekaligus terlibat dalam berbagai aktivitas positif seperti journaling dan crafting. Semua ini dikemas dalam konsep piknik yang memang lagi digemari banyak orang belakangan ini.
2. Terlalu banyak 'hidup' di media sosial bisa memberikan dampak buruk

Syasya Sava, seorang Mental Health Counselor, menjelaskan bahwa sejak masa pandemi, Gen Z terbiasa membangun koneksi lewat media sosial. Meski punya sisi positif seperti bisa terhubung dengan orang-orang yang gak disangka sebelumnya, ia menegaskan kalau pengalaman di media sosial tetap gak bisa menggantikan koneksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menyoroti berbagai dampak negatif yang muncul, mulai dari kecemasan akibat kebiasaan membandingkan diri, FOMO yang berujung pada toxic productivity, hingga rasa kesepian karena koneksi yang terjalin gak bersifat langsung. Fenomena digital fatigue dan brain rot pun disebut Syasya sebagai bagian dari emotional loop yang terjadi akibat cara kerja otak kita saat terlalu banyak terpapar dunia digital.
"Gen Z itu memang butuh belong to someone, seseorang atau sebuah komunitas yang sharing the same interest. Itu juga yang jadi alasan kenapa wellness activity sekarang tren banget," tambahnya.
3. Hidup di medsos juga bisa membuat kita sering membandingkan diri

Salah satu dampak terbesar ketika kita hidup di media sosial adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Gak bisa dipungkiri, kehidupan grande yang sering dipamerkan di media sosial kerap membuat kita mempertanyakan self worth sendiri. Menyoroti hal ini, Xaviera Putri selaku Public Figure sekaligus Face of Lightplus, menekankan pentingnya sesekali mematikan koneksi digital dan meluangkan waktu buat bertemu langsung dengan orang lain.
"Gen Z itu kan merasakan langsung transisi besar dari kegiatan in real life dan sekarang udah fully digital. Sebagai content creator myself, media sosial itu isinya kan memang apa yang ingin kita tunjukkan," ucapnya.
Xaviera pun mengutip kalimat 'comparison is the thief of joy' buat menggambarkan gimana kebiasaan membanding-bandingkan diri di media sosial justru diam-diam bisa merenggut kebahagiaan yang seharusnya bisa dinikmati begitu saja.
4. Hadirnya Lightplus Lightperience Picnic untuk mengajak gen Z touch some grass

Menjawab keresahan Gen Z yang serba digital, Lightplus resmi menghadirkan Lightperience Picnic yang digelar selama tiga hari, mulai 17 sampai 19 Juli 2026 di Urban Forest Cipete, Jakarta Selatan. Acara ini terbuka gratis buat publik, lengkap dengan berbagai activity yang dirancang biar kulit dan pikiran sama-sama terasa lebih ringan. Mulai dari Skin Analysis & Bespoke Skin Dictionary, Light Crafty & Journaling Class bareng KOL favorit, matcha treats dari Feel Matcha dan Petit Bite, sampai live performance dari Idgitaf dan Reality Club.
Nurani Istiqomah selaku Lightplus Research & Development Scientist menjelaskan kalau rangkaian pengalaman ini dirancang buat menghadirkan pendekatan beauty yang lebih personal.
"Membuat ini untuk menghadirkan pengalaman beauty yang lebih personal, mengkombinasikan skin concern analysis, ada personality match," ujarnya. Lewat kombinasi tersebut, Lightplus bisa merekomendasikan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan karakter masing-masing individu, bukan sekadar rekomendasi umum yang sama buat semua orang."
Gimana, tertarik untuk turut memeriahkan acara ini? Kamu bisa langsung datang gratis!






















