Pernah takut membela teman karena takut kehilangan teman yang lain?
[MADING] U.P.S.T.A.R.T—Upstander Squad: Take Action, Rescue Together
![[MADING] U.P.S.T.A.R.T—Upstander Squad: Take Action, Rescue Together](https://image.idntimes.com/post/20261105/cover-mading_e6ee22f7-000f-4076-a7c2-00c220867600.png)
Halo, sobat-sobat sekalian! Kami dari tim NIRBAYA dari SMA Regina Pacis Surakarta dengan penuh semangat mempersembahkan karya mading kami tentang suatu hal yang sangat dekat dengan kita, terutama para pelajar, yaitu perundungan.
Sering kali kita menemukan orang yang dirundung, namun kita tetap diam saja. Tentu sebagai manusia, kita akan merasa kasihan melihat kejadian seperti itu. Sayangnya, ketakutan kita berhasil mengalahkan rasa kasih dan kemanusiaan dalam diri kita. Dengan karya ini, kami berharap bahwa akan lebih banyak orang-orang yang ingin berdiri dan menentang perundingan yang ada, karena kami yakin bahwa menjadi penolong itu keren.
Tim redaksi dari kami terdiri dari:
1. Jesslyn Ardiani Indrawan
2. Aquilla Gracia Queeni
3. Vincentia Michaella Maheswari
4. Ian Kanugraha Pratama Santosa
5. Gabrielle Felicia Setiaatmaja
Tim ini dibimbing oleh Ibu Sisilia Dewi Fajar Utami, S.Psi.
Karya ini dibuat untuk keperluan kompetisi Mading Digital IDN Times Xplore 2026. Mading ini ditampilkan apa adanya tanpa proses penyuntingan dari redaksi IDN Times.
ESAI
Tawa memenuhi sudut kelas saat seorang siswa dijadikan bahan lelucon. Ada yang ikut tertawa, ada yang diam, dan ada yang ingin membela, tetapi takut menjadi sasaran berikutnya.
Ia akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena takut dikucilkan. Lantas, ketika kepedulian justru membuat seseorang takut, siapa yang berani memutus rantai perundungan?
Di lingkungan pertemanan, diterima oleh kelompok sering kali terasa penting. Kita ingin punya teman, bisa bercanda bersama, dan merasa menjadi bagian dari lingkungan sekitar. Namun, keinginan untuk diterima bisa menjadi masalah ketika kita mulai mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak kita anggap benar hanya karena semua orang melakukannya.
Dalam situasi perundungan, hal ini bisa terlihat dari bagaimana teman-teman merespons kejadian tersebut. Ada yang ikut mengejek agar dianggap lucu, ada yang tertawa supaya tidak terlihat berbeda, dan ada pula yang memilih diam karena takut menjadi sasaran berikutnya. Sementara itu, siswa yang mencoba membela korban atau meminta bantuan terkadang justru khawatir dicap sebagai orang yang suka ikut campur atau “tukang ngadu”.
Label tersebut mungkin terdengar seperti candaan biasa. Namun, ketika terus digunakan untuk merendahkan orang yang berusaha membantu, label itu bisa membuat kepedulian terasa memalukan. Meminta bantuan yang seharusnya menjadi salah satu cara untuk menghentikan perundungan malah dianggap sebagai tindakan yang merugikan pertemanan.
Akibatnya, masalahnya bukan lagi hanya tentang tindakan pelaku terhadap korban, tetapi juga tentang bagaimana lingkungan sekitar meresponsnya. Dalam situasi perundungan, terdapat istilah bystander, yaitu orang yang menyaksikan perundungan tetapi tidak terlibat langsung dalam tindakan tersebut, dan upstander, yaitu orang yang memilih bertindak untuk membantu korban atau menghentikan perundungan dengan cara yang aman.
Ketika mengejek dianggap wajar, diam dianggap aman, dan mencari bantuan dianggap memalukan, saksi bisa memilih untuk tetap diam meskipun sebenarnya ingin membantu. Karena itu, perubahan dari bystander menjadi upstander tidak cukup hanya dengan meminta saksi agar lebih berani. Kita juga perlu membangun lingkungan pertemanan yang membuat mereka merasa aman untuk peduli, membantu, dan mencari pertolongan tanpa takut kehilangan penerimaan dari kelompoknya.
Sebutan “tukang ngadu” membuat batas antara menjaga pertemanan dan membiarkan kesalahan menjadi kabur. Sebagian siswa mungkin merasa bahwa melaporkan tindakan teman berarti mengkhianati kelompok atau memperbesar masalah. Padahal, ada perbedaan antara mengadu untuk menjatuhkan seseorang dan meminta bantuan agar tindakan yang menyakiti orang lain bisa dihentikan.
Ketika stigma ini terus dibiarkan, siswa bisa merasa harus memilih antara melakukan hal yang benar dan mempertahankan penerimaan dari teman-temannya. Akibatnya, mencari pertolongan terasa seperti risiko sosial, bukan langkah untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. Jika kepedulian terus dicap sebagai pengkhianatan, budaya diam akan semakin sulit diubah.
Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) 2015 yang dikutip UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa 21,3% siswa berusia 13–15 tahun di Indonesia melaporkan mengalami perundungan setidaknya satu hari dalam 30 hari sebelum survei. Angka ini memperlihatkan bahwa perundungan bukan persoalan sepele di lingkungan remaja. Namun, menghentikannya tidak cukup hanya dengan menyoroti pelaku dan korban. Lingkungan pertemanan juga perlu diperhatikan, termasuk bagaimana teman-teman merespons perundungan dan apakah mereka merasa aman untuk mencari bantuan. Karena itu, perubahan perlu dimulai bukan hanya dari perilaku individu, tetapi juga dari budaya kelompok yang membentuk respons mereka.
Kalau dipikir lagi, apakah diamnya seorang saksi selalu berarti ia tidak peduli? Belum tentu. Seseorang mungkin ingin membantu, tetapi merasa bahwa tindakannya bisa membuat ia kehilangan penerimaan dari kelompoknya. Artinya, keputusan untuk merespons perundungan tidak hanya berkaitan dengan keberanian pribadi, tetapi juga dengan norma yang berlaku dalam lingkungan pertemanan.
Di sinilah perubahan dari bystander menjadi upstander menjadi penting. Namun, perubahan itu tidak cukup dilakukan dengan meminta saksi agar lebih berani. Jika kepedulian masih dianggap sebagai pengkhianatan, seseorang tetap menghadapi tekanan yang sama ketika mencoba bertindak. Karena itu, kita perlu mengubah cara kelompok memandang tindakan membantu: bukan sebagai ancaman terhadap pertemanan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sesama.
Untuk mengatasi stigma ‘tukang ngadu’ dan tekanan sosial dalam pertemanan, U.P.S.T.A.R.T. (Upstander Squad: Take Action, Rescue Together) mengusulkan gerakan Keren Itu Peduli melalui program No One Stands Alone: Peer Support. Program ini menyasar siswa yang mengalami perundungan, siswa yang takut membantu karena khawatir dikucilkan, serta lingkungan pertemanan yang masih menganggap tindakan mencari bantuan sebagai bentuk pengkhianatan.
Pelaksanaannya dilakukan melalui kerja sama tim U.P.S.T.A.R.T. dengan guru BK untuk memberikan pembekalan kepada beberapa siswa yang bersedia menjadi peer supporter. Mereka bertugas mendengarkan cerita teman tanpa menghakimi, membantu menentukan langkah yang aman, dan mendampingi siswa mengakses bantuan guru BK jika diperlukan. Selain pendampingan individu, program ini juga mencakup diskusi kelas mengenai stigma ‘tukang ngadu’ serta kesepakatan antarteman untuk tidak menertawakan korban, menyebarkan cerita pribadi, atau mengucilkan siswa yang mencari bantuan. Dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan dukungan ketika menghadapi perundungan, tetapi juga diajak membangun lingkungan pertemanan yang lebih suportif.
Penanganan kasus tetap menjadi tanggung jawab guru BK dan pihak sekolah, dengan menjaga kerahasiaan identitas sesuai prosedur serta melakukan klarifikasi sebelum mengambil tindakan. Keberhasilan program dapat dievaluasi melalui survei anonim sebelum dan sesudah kegiatan untuk melihat perubahan pandangan siswa terhadap tindakan mencari bantuan. Melalui program ini, U.P.S.T.A.R.T. diharapkan mampu mengurangi stigma negatif terhadap siswa yang berani peduli sekaligus mendorong perubahan perilaku dari sekadar menjadi penonton (bystander) menjadi individu yang berani membantu secara aman (upstander).
Perubahan budaya pertemanan perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak ikut menertawakan korban, memberikan dukungan kepada teman yang mengalami perundungan, serta mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya ketika situasi tidak dapat ditangani sendiri. Sekolah juga perlu menyediakan ruang pelaporan yang aman dan memberikan edukasi untuk menghilangkan stigma ‘tukang ngadu’. Perundungan bukan hanya persoalan antara pelaku dan korban, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan sosial yang dapat membuat saksi memilih diam karena takut kehilangan penerimaan dari kelompoknya. Oleh karena itu, keberanian untuk membantu perlu didukung oleh lingkungan yang menghargai kepedulian, bukan justru mengucilkan orang yang berusaha melakukan hal yang benar. Pada akhirnya, menjadi teman bukan berarti harus selalu membela kelompok sendiri, melainkan berani mendukung sesama ketika mereka membutuhkan bantuan. Sebab, kita tidak harus menjadi pahlawan untuk menghentikan perundungan, tetapi kita bisa memilih untuk tidak lagi menjadi penonton.
RUANG KREASI

IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) 
IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) 
IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) 
IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) RUBIK DISKUSI 1

IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) RUBIK DISKUSI 2

IDN Times Xplore (NIRBAYA_SMA Regina Pacis Surakarta) Karya mading digital ini diharapkan dapat menginspirasi anak-anak muda untuk menjadi upstander di dalam lingkungan yang penuh dengan bystander. Kita bisa memanfaat kebersamaan untuk memutus rantai perundungan dan membangun lingkungan yang positif, aman dan nyaman.

![[MADING] Generasi T-Flex x Mp-Free, Gaya Nongkrong Kece di Kantin Tanpa Menu ‘Mikroplastik’](https://image.idntimes.com/post/20261105/img_1972_7966dbff-b76c-4bbd-b04f-1b90ecb58fb3.jpg)



















![[MADING] Anak Muda Melek PDKT: Paham Duit Kelola Tabungan](https://image.idntimes.com/post/20261104/whatsapp-image-2026-11-04-at-09_8d616d73-623c-434d-9b76-2295cafbe6fa.jpeg)
![[MADING] HARAP: Hentikan Normalisasi, Akhiri Perundungan](https://image.idntimes.com/post/20261103/38369_4d908ebb-0de1-4157-86d4-7af6e1f0d917.jpg)
![[MADING] Air Mata Di Balik Tawa: Perundungan Fisik di Sekolah](https://image.idntimes.com/post/20261103/img-20261101-wa0038_c8ed136a-789d-4717-87fe-39eeac197029.jpeg)