Di kelas ekonomi mana pun, menabung tidak selalu mudah. Orang kaya, misalnya, memiliki pendapatan besar tetapi gaya hidupnya tinggi. Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke bawah masih berjuang antara hidup layak dan menabung.
Fenomena Makan Tabungan pada Masyarakat Kelas Menengah

- Fenomena makan tabungan terjadi ketika penghasilan tak lagi menutup kebutuhan harian, sehingga kelas menengah memakai simpanan sebagai pilihan terakhir demi menghindari utang.
- Risiko membesar saat kondisi berlangsung lama: saldo dan dana darurat menipis, kerentanan finansial meningkat, bahkan aset dapat dijual serta kelas ekonomi berpotensi turun.
- Meski sebagian sudah berhemat dan mencari penghasilan tambahan, biaya hidup tetap sulit tertutup; kondisi ini menghambat investasi, perencanaan masa depan, dan dialami lintas generasi.
Kadang mereka bisa menabung, kadang juga tidak. Andai pun kebiasaan menabung pada masyarakat kelas menengah sudah terbentuk, perubahan situasi perekonomian keluarga dan nasional dapat mengubahnya. Tabungan yang selama ini susah payah dikumpulkan akhirnya terpakai juga.
Uangnya bukan cuma untuk kebutuhan besar mendadak, melainkan buat menambal kebutuhan sehari-hari. Tujuan finansial pun makin jauh. Sampai ada istilah mantab atau makan tabungan pada masyarakat kelas menengah. Berikut hal-hal yang perlu diketahui olehmu terkait fenomena ini.
1. Terjadi saat penghasilan tak lagi cukup buat hidup, tapi gak mau utang

ilustrasi bekerja (pexels.com/Cọ Sơn Thanh Bình) Orang yang telah merasakan betapa sulitnya menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit supaya tetap bisa menabung pasti sebenarnya gak rela makan tabungan. Ini menjadi pilihan terakhirnya saat uang di dompet benar-benar tak ada lagi. Sementara berbagai kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Mereka bukannya tidak berusaha menghemat pemakaian penghasilan bulanan. Namun, uang itu sudah diirit seperti apa pun tetap belum memenuhi seluruh kebutuhan. Masih ada opsi utang. Akan tetapi, mereka sadar bahwa utang cuma memudahkan buat sesaat dan setelahnya lebih sering menyusahkan. Daripada mereka tidak dapat mengembalikan pinjaman, tabungan sendiri saja yang dipakai.
2. Jurang bahaya saat tabungan makin tipis dan dana darurat ikut terkuras

ilustrasi bekerja (pexels.com/Ron Lach) Kalau makan tabungan hanya terjadi sementara waktu, mungkin masih oke. Misalnya, saldo tabungan 20 juta rupiah. Selama 3 bulan yang berat, seseorang mengambil tabungan 2 juta rupiah per bulan untuk menyokong hidupnya.
Di bulan keempat, ia tak lagi memerlukannya. Artinya, saldo tabungannya masih 14 juta rupiah. Jumlahnya memang berkurang cukup signifikan, tapi setidaknya masih tersisa lebih banyak ketimbang dana yang terpakai.
Persoalan serius muncul ketika tidak ada kejelasan sampai kapan seseorang harus makan tabungan. Saldo di rekening kian tipis. Bahkan dana darurat telah ikut habis terpakai. Hidupnya berubah drastis dari cukup aman menjadi sangat rentan secara finansial.
3. Mungkin mereka sudah berusaha mencari tambahan income, tapi gak mudah

ilustrasi pemuda (pexels.com/Andrea Piacquadio) Masyarakat yang sedang di titik makan tabungan jangan buru-buru dicap pemalas dalam bekerja. Logikanya, kalau mereka sudah berhasil memiliki tabungan, tentu terbilang rajin bekerja. Mereka juga sebenarnya gak boros.
Hanya saja situasi saat ini yang sedang tidak baik-baik saja memaksanya mengambil sebagian tabungan guna bertahan hidup. Sebagian dari mereka juga telah mencari tambahan penghasilan dengan kerja ganda. Namun, ternyata ini tak segampang bayangan. Ekstra pendapatannya masih terlalu kecil buat membantu menutup biaya hidup.
4. Awas, kelas menengah turun kelas!

ilustrasi menata uang (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Kelas menengah selalu dalam mode berjuang sendirian menghadapi segala tekanan ekonomi. Mereka tidak tersentuh bantuan apa pun. Padahal, daya tahan keuangannya jelas masih jauh di bawah orang kaya. Akibatnya, tabungan yang menjadi andalan pun gak akan bisa terus mempertahankan kelas ekonominya.
Seiring saldo yang makin berkurang, masyarakat kelas menengah perlahan-lahan tapi pasti juga turun ke kelas di bawahnya. Mereka mati-matian berusaha berhemat sampai menjual berbagai bentuk harta seperti kendaraan atau take over KPR. Bahkan sajian protein hewani di meja makan pun mulai menjadi kemewahan.
5. Makin sulit berinvestasi dan menata masa depan

ilustrasi rumah dan investasi (pexels.com/Khwanchai Phanthon) Investasi harus memakai dana dingin atau uang yang benar-benar tak terpakai. Ini tentu tidak bisa lagi dilakukan setelah saldo tabungan terus digunakan untuk menutup berbagai kebutuhan hidup. Akibatnya, mereka betul-betul cuma berorientasi pada kemampuan bertahan hidup sekarang.
Mereka tak lagi bisa menyiapkan masa depan yang cerah dalam situasi tabungan terus digerogoti. Orang yang masih lajang dan terpaksa makan tabungan saja sudah memandang masa depannya dengan suram. Apalagi orang yang telah berkeluarga, masa depan anak yang masih sangat panjang bisa menjadi korban.
6. Tidak hanya terjadi pada pekerja muda

ilustrasi lansia (pexels.com/abs bob) Kurang tepat apabila fenomena makan tabungan dikira hanya terjadi pada generasi muda. Banyak generasi yang jauh di atasnya pun mengalaminya. Apalagi mereka sudah memiliki beberapa anak yang harus dinafkahi. Bahkan tak jarang cucu pun masih ikut menjadi tanggungannya.
Penghasilan mereka nyaris tetap, tetapi tanggungannya bertambah. Sementara harga berbagai kebutuhan terus merangkak naik. Generasi senior yang semula hidup cukup nyaman pun akhirnya dapat terjebak dalam siklus makan tabungan. Dana pensiun yang semula dipersiapkan buat masa tua justru terpakai buat bertahan hidup sekarang.
Fenomena makan tabungan pada masyarakat kelas menengah, padahal masih aktif bekerja, menjadi tanda bahaya yang serius dalam perekonomian. Kerja keras mereka tidak lagi menghasilkan cukup uang buat hidup layak. Status pekerjaan masih terlihat oke, tapi realitas hidup sehari-harinya sangat berat.























